Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Dalam birokrasi, seragam membawa jabatan, kewenangan, tanggung jawab, dan citra institusi. Ketika pegawai negeri yang memiliki posisi cukup tinggi mulai terlibat dalam pergaulan yang melampaui batas kepantasan, persoalannya dapat melampaui perilaku pribadi. Minuman keras, karaoke, pesta, atau jamuan dapat menjadi bagian dari entertainment bagi calon mitra, pengusaha, kontraktor, atau pihak yang membutuhkan izin, rekomendasi, kemudahan administrasi, percepatan proses, dan berbagai jalan pintas.
Dalam konteks seperti itu, minuman dapat menjadi ritual untuk mencairkan jarak formal. Hubungan pejabat dengan pihak yang berkepentingan berubah menjadi lebih akrab dan informal. Karaoke, pesta, dan pergaulan yang semakin intim dapat memperkuat kedekatan itu. Minum tentu tidak membuktikan seseorang akan melakukan korupsi, tetapi kesediaan melewati batas moral dapat menjadi tanda bahwa seseorang bersedia masuk ke dalam lingkaran yang sama.
Dari pelanggaran kecil semacam itulah kemampuan melakukan penyimpangan dapat berkembang. Menerima jamuan, fasilitas, “uang terima kasih”, atau memberikan kemudahan yang tidak semestinya mula-mula dianggap sepele. Lama-kelamaan batas moral bergeser. Kebutuhan meningkat, gaya hidup naik, gengsi tumbuh, lalu penyimpangan yang semula sporadis berubah menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi sistem.
Rahasia menjadi perekat sistem tersebut. Mereka saling mengetahui siapa menerima apa, siapa mengurus izin, siapa menghubungkan klien, siapa mendapat fasilitas, dan siapa memperoleh bagian. Bahkan perbuatan pribadi yang tidak pantas, jika diketahui bersama, dapat berubah menjadi alat untuk saling mengunci. Masing-masing memiliki alasan untuk menjaga yang lain agar rahasia tidak terbuka.
Pembagian peran pun tidak selalu mengikuti tinggi-rendahnya jabatan. Pegawai yang tidak terlalu tinggi dapat berada di garis depan, berhubungan langsung dengan pihak yang membutuhkan pelayanan, mengurus dokumen, memproses izin, membuka akses, atau mempercepat administrasi. Pejabat yang lebih tinggi tidak selalu terlihat dalam setiap transaksi, tetapi dapat menikmati hasil dari mekanisme yang berjalan di bawahnya.
Itulah sebabnya perkara korupsi kadang memperlihatkan kekayaan yang tidak masuk akal pada pegawai yang secara struktural bukan pejabat tertinggi. Pemeriksaan dan persidangan kemudian membuka alur yang sebelumnya tersembunyi: siapa berhubungan dengan klien, siapa mengurus proses, siapa memberi perintah, siapa menerima uang, siapa membagi, dan siapa menikmati hasil.
Kebocoran biasanya terjadi ketika keseimbangan kelompok terganggu. Ada yang merasa bagiannya tidak adil, ada yang merasa akan dikorbankan, atau ada yang tertangkap lebih dahulu lalu memilih berbicara. Ketika satu orang mulai bernyanyi, rahasia yang selama ini menjadi alat perlindungan bersama justru menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan.
Namun atmosfer semacam itu tidak berarti semua orang yang berseragam ikut larut. Justru selalu ada orang yang tetap teguh di tengah lingkungan yang buruk. Dia memiliki jabatan, akses, kesempatan, bahkan kekuasaan, tetapi tetap menjaga batas halal dan haram, baik ketika berseragam maupun tidak, di kantor maupun di luar kantor, di hadapan publik maupun ketika sendirian.
Dia memiliki kesempatan, tetapi tidak mengambilnya. Dia memiliki kekuasaan, tetapi tidak menjualnya. Dia tidak membutuhkan rahasia sebagai alat untuk mempertahankan dirinya.
Orang seperti itu sulit dikendalikan oleh kelompok yang dibangun melalui rahasia. Dia tidak mempunyai pelanggaran yang sama untuk dipertukarkan dengan loyalitas. Karena itu, dia dapat dianggap tidak solid, terlalu kaku, atau tidak memahami “budaya” lingkungan. Dalam keadaan tertentu, reputasinya bahkan dapat diserang dan tuduhan dapat diarahkan kepadanya untuk menyingkirkannya.
Korupsi, dengan demikian, tidak selalu dimulai dari transaksi besar. Ia dapat tumbuh dari pembiasaan terhadap pelanggaran kecil, dari pergaulan yang membangun rahasia, lalu berkembang menjadi jaringan kepentingan.
Yang mula-mula disebut lifestyle dapat berubah menjadi kebutuhan. Kebutuhan menjadi pembenaran. Pembenaran menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi sistem. Dan sistem itu hanya aman selama semua orang tetap diam. (*Cendekiawan Muslim)










