BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ustadz Ahmad Hidayat, menekankan pentingnya kegiatan upgrading sebagai sarana memperkuat tanggung jawab, integrasi, motivasi, dan profesionalitas seluruh kader serta pengurus organisasi.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan upgrading organisasi ABI yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (11/9/2026) malam.
Menurut Ustadz Hidayat, peningkatan kapasitas organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui penambahan struktur, tetapi harus diikuti dengan perubahan cara berpikir, pola kerja, serta kesadaran setiap personalia terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Dia menjelaskan, ketika seseorang memiliki tanggung jawab yang semakin besar, maka seharusnya semakin kuat pula dorongan dalam dirinya untuk menuntaskan tugas yang telah diberikan.
“Saat kita ada tanggung jawab, semakin ingin kita untuk menuntaskan tugas dan tanggung jawab,” ujarnya.
Pentingnya Fungsi Upgrading
Ia kemudian menjelaskan fungsi kedua dari upgrading, yakni fungsi integrasi. Seluruh personalia organisasi perlu mengintegrasikan keberadaan dirinya dengan sistem kerja organisasi. Hal ini penting agar cara pandang individu terhadap kerja-kerja perubahan dapat berjalan searah dengan tujuan organisasi.
“Kita perlu mengintegrasikan seluruh keberadaan kita dalam cara kita memandang semua kerja perubahan. Baik yang kita pikirkan sebagai individu maupun sebagai sebuah sistem dalam organisasi,” katanya.
Integrasi tersebut, menurutnya, akan memudahkan organisasi membangun tim kerja yang solid, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Ustadz Hidayat menilai efektivitas teamwork organisasi dapat dilihat dari sejauh mana aturan, pedoman, Anggaran Dasar (AD), dan Anggaran Rumah Tangga (ART) benar-benar dijalankan dan dioperasionalkan di setiap wilayah serta daerah.
“Mengukur kinerja teamwork organisasi ini, itu tidak ada jalan lain, kecuali melihat seberapa efektif aturan organisasi, pedoman-pedoman organisasi, anggaran dasar, anggaran rumah tangga organisasi berjalan dan kita operasionalkan di wilayah dan daerah,” jelasnya.
Karena itu, dia mengajak seluruh kader untuk tidak melihat dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem organisasi. “Mengintegrasikan diri kita ke dalam pola organisasi,” tegasnya.
Dalam arahannya, ia juga mengajak peserta upgrading memahami landasan ideologis organisasi. ABI tidak boleh dipandang sekadar sebagai kumpulan orang yang tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas. Sebuah organisasi harus memiliki mabda atau prinsip dasar dan hadaf atau tujuan yang menjadi orientasi gerak bersama.
Ustadz Hidayat menyebut wilayah sebagai prinsip yang menjadi landasan ideologis yang diyakini ABI, sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah perbaikan.
“ABI, organisasi kita insyaallah berdiri di atas prinsip itu. Prinsipnya, mabda-nya adalah wilayah. Hadaf-nya adalah perbaikan Islam,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dalam pemahamannya, wilayah tidak hanya berkaitan dengan konsep teologis, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap cara organisasi membangun sistem kerja.
“Kalau kita mengintegrasikan diri kita bahwa kita berdiri di atas wilayah, prinsip wilayah, dan wilayah itu adalah sistem. Wilayah itu adalah kekuatan. Wilayah itu adalah mekanisme. Wilayah itu adalah aturan. Wilayah itu adalah pengorganisasian untuk sebuah tujuan perbaikan,” katanya.
Dengan kesadaran tersebut, ia berharap setiap personalia ABI memahami bahwa keterlibatan dalam organisasi merupakan bagian dari tanggung jawab yang lebih luas.
Fungsi berikutnya dari upgrading, menurut Ustadz Hidayat, adalah fungsi motivasi. Kegiatan upgrading harus mampu membangkitkan motivasi setiap kader agar memiliki semangat untuk menjalankan tugas organisasi. “Upgrading dilakukan untuk memotivasi diri kita,” ujarnya.
Menurutnya, motivasi memiliki posisi penting dalam kehidupan seorang pengikut Ahlulbait. Dia mengaitkan hal tersebut dengan konsep masyarakat penanti yang dituntut untuk senantiasa memiliki semangat dan kesiapan dalam menghadapi perubahan.
“Pada diri setiap Syiah itu melekat jiwa motivasi. Kenapa? Penanti. Masyarakat penanti adalah masyarakat yang tidak boleh berpisah dengan motivasi,” jelasnya.
Ustadz Hidayat kemudian mendorong seluruh jajaran ABI untuk membangun motivasi bersama dalam mengembangkan organisasi, khususnya memasuki fase perkembangan berikutnya.
Dia berharap pada tahun-tahun mendatang ABI dapat tumbuh semakin kuat dengan sistem dan mekanisme organisasi yang berjalan secara konsisten dari pusat hingga daerah.
“Kita harus punya motivasi yang sama bahwa ABI ini di 10 tahunnya yang kedua, sepuluh tahun kedua sampai 2030 mestinya organisasi kita sudah tumbuh dengan baik dengan sistem mekanisme yang sama dari pusat sampai daerah,” katanya.
Ia menekankan pentingnya membangun apa yang disebutnya sebagai resonansi gerakan organisasi. Gerak organisasi harus menghasilkan energi, pengaruh, dan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
“Resonansi pergerakan organisasi kita mengalami pertumbuhan yang efektif. Resonansinya, gerak gelombangnya, energi yang diciptakannya, pengaruh dan dampaknya yang dirasakan oleh siapa pun yang bersinggungan dengannya melihat bahwa ini adalah satu kelompok yang patut kita perhitungkan,” ujarnya.
Ustadz Hidayat juga menekankan fungsi upgrading dalam meningkatkan profesionalitas pengurus dan kader.
Dia mengingatkan agar anggota ABI tidak selamanya menjalankan tugas secara amatiran. Organisasi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara profesional, terukur, dan mengikuti sistem yang telah disusun.
“Yang kelima, upgrading fungsinya untuk apa? Meningkatkan profesionalitas kita agar kita tidak selamanya menjadi pekerja amatiran,” katanya.
Ia mengajak seluruh kader ABI untuk melakukan perubahan dalam pola kerja organisasi.
“Mari kita sama-sama tidak menjadi amatiran di dalam organisasi ini. Mari kita profesional,” tegasnya.
Ustadz Hidayat bahkan mengaitkan profesionalisme dengan sikap istikamah. Profesionalitas bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga konsistensi dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab. “Profesionalisme itu istikamah,” ujarnya.
Menurut dia, kerja profesional harus memiliki ukuran yang jelas. Setiap program harus mempunyai jadwal, target, mekanisme, serta indikator yang dapat dievaluasi.
“Pekerjaan kita terukur. Ada time schedule-nya. Ada program dan kita sudah punya itu,” katanya.
Program Organisasi Harus Diturunkan secara Sistematis
Ustadz Hidayat menyebut ABI telah memiliki perangkat organisasi yang dapat menjadi pedoman dalam menjalankan program kerja di berbagai tingkatan.
Dia mencontohkan adanya dokumen dan pedoman organisasi yang menjadi dasar untuk menurunkan kebijakan dan program dari tingkat nasional hingga ke masing-masing struktur organisasi.
“Program kerja nasional diturunkan menjadi RKAT di seluruh tingkatan organisasi,” jelasnya.
Dengan perangkat tersebut, menurutnya, tidak ada alasan bagi pengurus untuk menjalankan organisasi tanpa arah yang jelas.
Pedoman organisasi harus menjadi instrumen untuk memastikan setiap program dapat dijalankan secara sistematis, terukur, dan sesuai dengan tujuan organisasi.
“Sudah ada pedoman terkait di dalamnya, sudah ada SOP setiap aturan organisasi dalam rangka menyelenggarakan kerja di dalam organisasi kita,” katanya.
Karena itu, Ustadz Hidayat kembali mengajak seluruh kader ABI untuk menginternalisasikan profesionalitas dalam setiap pekerjaan organisasi.
Dia menilai peningkatan kapasitas melalui upgrading harus menghasilkan perubahan nyata pada cara kerja setiap personalia, bukan sekadar menjadi kegiatan rutin tanpa tindak lanjut.
“Memotivasi setiap diri kita untuk profesional. Tidak lagi menjadi pekerja amatiran,” tegasnya.
Ia berpendapat, apabila fungsi-fungsi tersebut dapat dijalankan secara konsisten—mulai dari penguatan tanggung jawab, integrasi, motivasi hingga profesionalitas—maka upgrading akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan organisasi secara keseluruhan.
Penguatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kader yang memiliki kapasitas individual, tetapi juga membangun sistem organisasi yang semakin solid, terukur, dan mampu menjalankan program secara efektif dari tingkat pusat hingga daerah. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin











