Oleh: Dr. Mukmin*
Kecerdasan buatan kini tidak lagi mengetuk pintu kelas, bahkan ia sudah duduk di dalamnya. Siswa menggunakannya untuk mencari jawaban, merangkum buku, membuat tugas, menyusun presentasi, bahkan menulis refleksi keagamaan. Di sisi lain guru juga memanfaatkannya untuk menyusun soal, membuat bahan ajar, merancang RPP, dan mencari inspirasi pembelajaran. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan sesuatu yang dahulu membutuhkan berjam-jam membaca dan berpikir.
Di tengah kegembiraan itu, Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak terlalu nyaman, jika mesin dapat memberi jawaban lebih cepat daripada guru dan buku, masihkah kita mengajarkan anak-anak bagaimana cara memperoleh ilmu dengan benar?
Pertanyaan ini bukan alasan untuk memusuhi teknologi. Justru sebaliknya, AI sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan dan akan semakin sulit dipisahkan dari kehidupan generasi muda. Pemerintah pun bergerak ke arah yang sama menetapkan pedoman nasional pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dalam pendidikan. Pesannya jelas bahwa AI harus digunakan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Di lingkungan PAI, perubahan itu juga sudah terasa. Di beberapa satuan pendidikan misalnya, pembinaan guru PAI secara khusus mengangkat tema implementasi AI sebagai alat dalam pembelajaran PAI. Guru didorong adaptif, bukan alergi terhadap teknologi.
Tetapi justru di sinilah persoalannya dimulai. Pendidikan bisa sangat cepat mengajari guru dan siswa menggunakan AI, tetapi belum tentu sama cepatnya mengajari mereka bagaimana bersikap terhadap pengetahuan yang dihasilkan AI.
Anak hari ini dapat mengetik, “Jelaskan hikmah beriman kepada qada dan qadar,” lalu beberapa detik kemudian memperoleh jawaban yang rapi. Ia bisa meminta AI membuat tugas makalah tentang moderasi beragama, merangkum sejarah Islam, bahkan menjelaskan perbedaan pendapat dalam persoalan fikih.
Secara teknologi, itu mengagumkan dan secara pendidikan itu harus membuat kita waspada. Sebab belajar bukan sekadar mendapatkan jawaban. Belajar adalah proses bergulat dengan pertanyaan, membaca, membandingkan, salah memahami, bertanya kembali, lalu perlahan menemukan pengertian. Ada kesabaran, kerendahan hati, dan ketekunan di dalamnya.
AI berpotensi memangkas seluruh proses itu menjadi satu tombol: enter. Jika pendidikan tidak hati-hati, kita bisa melahirkan generasi yang pandai menghasilkan jawaban tetapi miskin proses berpikir. Tugasnya rapi, tetapi ia tidak benar-benar memahami isinya. Argumennya terdengar cerdas, tetapi ia tidak tahu dari mana sumbernya. Ia bisa menulis tentang kejujuran, sementara seluruh tulisannya dibuat oleh mesin.
Di sinilah masalah AI sebenarnya bertemu langsung dengan PAI. Selama ini kita mengajarkan kejujuran sebagai akhlak terpuji. Namun kejujuran di era AI tidak lagi cukup dijelaskan dengan contoh “jangan menyontek jawaban teman”. Bentuk ketidakjujuran telah berubah. Seorang siswa dapat menyerahkan makalah yang sepenuhnya dibuat AI lalu mencantumkan namanya sebagai penulis. Ia tidak menyalin dari temannya. Ia mungkin bahkan tidak melakukan copy-paste dari situs mana pun. Tetapi apakah karya itu sungguh miliknya?
Pertanyaan semacam ini harus masuk ke ruang kelas agama. PAI seharusnya menjadi mata pelajaran yang paling berani membicarakan etika penggunaan AI. Bukan sekadar apakah AI boleh digunakan, tetapi kapan penggunaannya dapat dibenarkan, kapan harus disebutkan, apa yang tetap wajib dikerjakan sendiri, dan mengapa seseorang harus bertanggung jawab terhadap setiap kalimat yang ia serahkan sebagai pekerjaannya.
Ada persoalan yang lebih serius lagi yakni otoritas keagamaan. Bayangkan seorang remaja memiliki pertanyaan tentang hukum agama. Dahulu ia mungkin bertanya kepada guru, ustadz, orang tua, atau membuka buku. Sekarang ia tinggal bertanya kepada AI. Beberapa detik kemudian, muncul jawaban lengkap dengan ayat, hadis, dan argumentasi yang tampak meyakinkan. Masalahnya, AI tidak selalu benar. Ia dapat keliru membaca konteks, mencampurkan pandangan, menghasilkan kutipan yang tidak tepat, bahkan menyampaikan informasi yang terdengar sangat meyakinkan padahal salah.
Jika anak tidak dibekali kemampuan memeriksa, AI perlahan dapat bergeser dari alat bantu menjadi “guru agama” baru. Ironisnya, Islam sebenarnya telah memiliki perangkat etik untuk menghadapi keadaan ini jauh sebelum kecerdasan buatan ada. Kita mengenal tabayyun: jangan menerima informasi begitu saja sebelum memeriksanya. Kita mengenal amanah dalam menyampaikan ilmu. Kita mengenal adab bertanya kepada ahlinya. Kita juga mengenal kerendahan hati untuk mengatakan, “Saya tidak tahu.”
Konsep-konsep itu kini harus diterjemahkan ke dalam dunia digital. Tabayyun di era AI berarti berani bertanya: dari mana jawaban ini berasal? Apakah ayatnya tepat? Apakah hadisnya sahih? Apakah ada perbedaan pendapat? Siapa otoritas yang dapat mengonfirmasinya? Dengan begitu, AI justru dapat menjadi laboratorium baru bagi PAI untuk melatih daya kritis. Guru dapat meminta siswa menguji jawaban AI, mencari kekeliruannya, membandingkannya dengan Alquran, hadis, buku, dan pendapat ulama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tugas agama pun sebaiknya berubah. Jangan lagi hanya, “Buatlah makalah tentang toleransi.” AI akan menyelesaikannya dalam beberapa detik. Mintalah siswa membandingkan tiga jawaban AI, menemukan bias atau kelemahannya, memeriksa sumber, lalu mempertahankan kesimpulannya di depan kelas. Di sana proses belajar kembali hidup.
Karena itu, guru PAI tidak cukup hanya menjadi pengguna AI yang mahir membuat prompt. Ia harus menjadi penjaga nilai ketika teknologi masuk ke ruang belajar. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan. Ia dapat menjelaskan makna amanah, tetapi tidak dapat memperlihatkan bagaimana seorang manusia hidup secara amanah. Ia dapat menulis tentang tawadhu, tetapi tidak pernah merasakan kerendahan hati. Ia dapat menghasilkan nasihat tentang kejujuran, tetapi tidak memiliki tanggung jawab moral atas nasihat itu. Di situlah guru tetap tidak tergantikan.
Kita tidak perlu mengusir AI dari kelas agama. Itu hanya akan membuat sekolah tertinggal dari kehidupan nyata anak-anaknya. Yang harus kita lakukan adalah memastikan kecanggihan tidak membuat adab menjadi usang. Sebab tantangan pendidikan hari ini bukan lagi kekurangan informasi. Anak-anak kita justru hidup dalam banjir informasi. Tantangannya adalah membedakan yang benar dan yang salah, yang asli dan yang palsu, yang membantu berpikir dan yang membuat malas berpikir.
Maka ketika AI masuk ke kelas agama, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa canggih teknologi yang digunakan guru. Pertanyaannya: apakah di tengah segala kemudahan itu kita masih mengajarkan anak untuk jujur, kritis, rendah hati, menghormati sumber ilmu, dan bertanggung jawab atas pengetahuan yang ia gunakan?
Masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar mesin yang kita miliki. Ia ditentukan oleh manusia seperti apa yang kita bentuk ketika menggunakan mesin itu. (*Dosen Fakultas Agama Islam Unikarta)











