Search

Di Era AI, Mengapa Bacaan Salat Anak belum Lancar?

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Maulida Fitriani*

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sekarang bukan lagi sesuatu yang hanya kita lihat dalam film atau berita tentang teknologi. AI sudah masuk ke kehidupan sehari-hari. Dengan mengetik beberapa kata, kita bisa mendapatkan jawaban, mencari informasi, membuat tulisan, bahkan belajar tentang berbagai hal. Anak-anak pun semakin dekat dengan teknologi ini. Mereka bisa menggunakan internet, video pembelajaran, dan berbagai aplikasi untuk membantu mengerjakan tugas sekolah, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Namun, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, ada satu hal yang menurut saya cukup menarik untuk dipertanyakan: mengapa di era ketika informasi tentang agama begitu mudah ditemukan, masih ada anak sekolah dasar yang belum lancar membaca bacaan salat?

Pertanyaan ini bukan berarti ingin menyalahkan anak. Kemampuan setiap anak tentu berbeda. Ada anak yang cepat menghafal, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Akan tetapi, keadaan seperti ini masih dapat kita jumpai. Bahkan, ada siswa yang sudah duduk di kelas 6 SD tetapi masih belum hafal beberapa bacaan salat. Ada juga yang masih bingung ketika ditanya tentang bacaan atau tata cara wudhu.

Hal ini menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Sebab, salat bukan hanya materi yang harus diketahui untuk mendapatkan nilai dalam pelajaran PAI. Salat merupakan ibadah yang seharusnya mulai dikenalkan, diajarkan, dan dibiasakan sejak anak masih kecil.

Di sinilah menurut saya muncul sebuah persoalan. Kita hidup di zaman ketika anak semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi kemudahan mendapatkan informasi ternyata tidak selalu sejalan dengan kemampuan dalam mempraktikkannya.

Anak sekarang bisa mencari bacaan salat melalui Google, YouTube, atau bahkan bertanya kepada AI. Dalam hitungan detik, mereka bisa mendapatkan tulisan Arab, latin, terjemahan, bahkan penjelasan mengenai tata cara salat. Kalau begitu, apakah seharusnya anak-anak sekarang otomatis lebih lancar membaca bacaan salat? Ternyata tidak selalu demikian.

Menurut saya, masalahnya bukan pada kurangnya informasi. Informasi tentang bacaan salat justru sudah sangat mudah ditemukan. Persoalannya adalah bagaimana informasi tersebut dipelajari dan dibiasakan dalam kehidupan nyata.

Anak mungkin bisa menemukan bacaan iftitah di internet. Ia juga bisa meminta AI menjelaskan bacaan rukuk, sujud, atau tahiyat. Tetapi menemukan informasi tidak sama dengan menguasainya. Untuk bisa membaca dengan lancar, anak tetap perlu mendengar contoh yang benar, menirukan, mengulang berkali-kali, kemudian mendapatkan koreksi ketika ada kesalahan.

Hal yang sama juga berlaku dalam pembelajaran wudhu. Anak dapat membaca urutan wudhu dari buku atau meminta AI menjelaskannya. Namun, apakah hanya dengan membaca penjelasan tersebut anak langsung mampu berwudhu dengan benar? Belum tentu. Anak tetap perlu melihat contoh dan mempraktikkannya secara langsung.

Karena itu, menurut saya, yang perlu kita pertanyakan bukan hanya “apakah anak sudah mendapatkan materi PAI?”, tetapi juga “apakah anak sudah mendapatkan cukup kesempatan untuk mempraktikkannya?”

Dalam pembelajaran PAI, siswa memang perlu memahami pengertian, hukum, rukun, syarat, dan tata cara ibadah. Semua itu penting. Tetapi jangan sampai pembelajaran agama berhenti pada kemampuan menjawab soal. Siswa mungkin mendapatkan nilai tinggi ketika mengerjakan ujian tertulis, tetapi ketika diminta membaca bacaan salat dari awal sampai akhir masih terbata-bata.

Kalau hal seperti ini terjadi, berarti ada sesuatu yang perlu kita evaluasi dalam proses pembelajarannya.

Pembelajaran PAI perlu memberikan ruang yang lebih besar untuk praktik dan pembiasaan. Guru tidak hanya menjelaskan bagaimana tata cara salat, tetapi juga dapat meminta siswa mempraktikkannya. Bacaan salat dapat dilatih sedikit demi sedikit, kemudian guru mendengarkan dan memperbaiki bacaan siswa. Dengan cara seperti ini, kesalahan dapat diketahui sejak awal dan tidak terus terbawa.

Lalu, bagaimana dengan AI? AI justru dapat menjadi teman belajar yang bermanfaat jika digunakan dengan tepat. Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat pembelajaran PAI menjadi lebih menarik. Misalnya, siswa dapat menggunakan audio untuk mendengarkan bacaan salat, video untuk melihat gerakan salat, atau AI untuk membuat latihan hafalan dan pertanyaan sederhana sesuai kemampuan mereka.

Tetapi ada batas yang perlu dipahami. Jangan sampai karena ada AI, anak justru menjadi terbiasa mencari jawaban tanpa benar-benar belajar. Ketika ditanya bacaan salat, ia mungkin bisa membuka internet dan menemukan jawabannya. Namun, ketika diminta membaca tanpa melihat teks, ia masih belum lancar. Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui dan mampu melakukan.

AI dapat membantu anak mengetahui. Guru dan orang tua membantu anak memahami, membimbing, mengoreksi, dan membiasakan. Sementara praktik secara langsung membantu anak mampu melakukannya.

AI tidak akan mampu menggantikan peran guru PAI dalam hal ini. Guru bukan hanya memberikan informasi. Guru melihat kesalahan siswa, mendengarkan bacaannya, memberikan contoh, mengingatkan ketika siswa salah, dan yang tidak kalah penting adalah menanamkan nilai serta kebiasaan dalam beribadah.

Selain guru, orang tua juga memiliki peran yang sangat besar. Tidak mungkin pembiasaan ibadah hanya diserahkan kepada sekolah. Waktu anak bersama keluarga jauh lebih banyak. Jika di sekolah anak sudah belajar bacaan salat, tetapi di rumah tidak pernah mengulang atau dibimbing, maka apa yang dipelajari bisa saja mudah dilupakan.

Sebaliknya, jika orang tua membiasakan anak salat, mengajak mengulang bacaan, dan memberikan contoh secara langsung, pembelajaran di sekolah akan semakin kuat.

Jadi, persoalan bacaan salat anak tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Jangan langsung mengatakan bahwa anak malas belajar, guru kurang mengajar, atau kurikulum tidak bagus. Bisa jadi ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari metode pembelajaran, waktu praktik yang terbatas, kebiasaan di rumah, lingkungan sekitar, sampai cara anak menggunakan teknologi.

Justru di era AI seperti sekarang, kita perlu lebih berhati-hati agar pendidikan tidak hanya mengejar kemudahan mendapatkan jawaban, tetapi juga tetap memperhatikan proses belajar anak. Sebab, ada hal-hal yang memang tidak cukup hanya dengan mengetik pertanyaan kepada AI.

Anak tidak cukup hanya tahu bagaimana bacaan salat ditulis. Ia perlu bisa membacanya. Anak tidak cukup hanya tahu tata cara wudhu. Ia perlu bisa mempraktikkannya. Dan anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa salat itu wajib. Ia perlu dibiasakan untuk melaksanakannya.

Inilah tantangan pembelajaran PAI di tengah perkembangan teknologi saat ini. Jangan sampai teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada pembentukan kebiasaan dasar anak dalam beragama.

Kita tentu tidak bisa menolak perkembangan AI. Bahkan, akan lebih baik jika teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan. Tetapi teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti guru, orang tua, dan pengalaman belajar secara langsung.

Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran PAI seharusnya tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh siswa di atas kertas. Nilai memang penting, tetapi kemampuan anak dalam menerapkan apa yang dipelajarinya jauh lebih penting.

Di era AI, anak mungkin bisa menemukan bacaan salat hanya dalam beberapa detik. Tetapi agar bacaan itu benar-benar melekat, anak tetap membutuhkan waktu untuk mendengar, menghafal, mengulang, mempraktikkan, dan dibimbing.

AI boleh semakin canggih. Teknologi boleh terus berkembang. Tetapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengajarkan anak untuk menjadi pintar menggunakan teknologi, kita lupa mengajarkan hal-hal dasar yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak tahu banyak hal, tetapi juga tentang membantu mereka menjadi pribadi yang mampu melakukan dan membiasakan hal-hal yang baik. (*Mahasiswi Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA