BERITAALTERNATIF.COM – Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) di Kantor PLN UP3 Tenggarong tak hanya diwarnai tuntutan terkait pemadaman listrik, tetapi juga dugaan intimidasi terhadap peserta aksi.
Koordinator lapangan aksi, Muhammad Wirya, mengungkapkan salah seorang peserta demonstrasi mengaku menerima ancaman secara langsung usai terjadinya ketegangan antara massa aksi dan aparat yang berjaga di lokasi.
Menurutnya, ancaman tersebut disampaikan oleh seseorang yang hingga kini masih berusaha diidentifikasi oleh mahasiswa.
“Ada kawan kami yang mendapat ancaman. Kalimat yang disampaikan kurang lebih, ‘tunggu kalian selesai aksi, kubunuh kamu’,” ujar Wirya kepada awak media Berita Alternatif pada Selasa (8/9/2026).
Dia menyebut peristiwa tersebut terjadi setelah situasi aksi sempat memanas. “Kami masih mengusut siapa orangnya,” katanya.
Selain menyoroti dugaan intimidasi, mahasiswa juga menegaskan substansi utama aksi mereka adalah memprotes masih terjadinya pemadaman listrik yang dinilai merugikan masyarakat di berbagai wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
Ia menjelaskan, setelah aksi pertama yang sebelumnya digelar mahasiswa, kondisi di wilayah Tenggarong memang relatif membaik karena pemadaman listrik berkurang.
Namun, menurutnya, persoalan tersebut justru bergeser ke kawasan pesisir dan hulu Kukar. Masyarakat di sejumlah kecamatan masih harus menghadapi pemadaman listrik berulang dalam sehari.
“Di wilayah pesisir itu pemadaman bisa terjadi sampai tiga kali dalam sehari,” ungkapnya.
Karena itu, mahasiswa menilai persoalan kelistrikan belum benar-benar terselesaikan dan hanya berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Mereka meminta PLN memberikan penjelasan secara terbuka terkait penyebab pemadaman yang masih terus terjadi.
Selain itu, mahasiswa mempertanyakan pola penyampaian informasi kepada masyarakat. Tidak jarang informasi mengenai pemadaman baru disampaikan setelah listrik padam, sehingga masyarakat kesulitan melakukan antisipasi.
“Apa sebenarnya penyebab mati lampu ini dan kenapa informasi pemadaman justru disampaikan setelah kejadian terjadi?” ujarnya.
Mahasiswa juga menyoroti belum adanya tindak lanjut atas permintaan mereka kepada DPRD Kukar untuk memfasilitasi pertemuan antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan PLN.
Sebelumnya, dalam aksi di DPRD Kukar, mahasiswa telah mendesak agar dibentuk forum dialog guna mencari solusi atas persoalan kelistrikan yang dikeluhkan masyarakat.
“Hari ini belum ada konfirmasi dari DPRD terkait forum yang kami minta itu,” ungkapnya.
Wirya menegaskan mahasiswa masih membuka ruang dialog dan berharap seluruh pihak dapat duduk bersama membahas persoalan tersebut secara terbuka.
Namun apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons, mahasiswa memastikan akan kembali menggelar aksi lanjutan.
“Kalau memang tidak ada tindak lanjut dari pihak PLN, kami akan terus melangsungkan aksi sampai ada titik temu antara masyarakat dan PLN terkait persoalan ini,” tegasnya.
Dia juga mengingatkan bahwa DPRD Kukar memiliki peran penting sebagai lembaga representasi masyarakat untuk memfasilitasi komunikasi antara berbagai pihak yang terlibat.
Menurutnya, kejelasan penyebab pemadaman listrik serta langkah penanganan yang akan dilakukan PLN menjadi hal yang paling ditunggu masyarakat saat ini.
“Yang kami inginkan sebenarnya sederhana, ada penjelasan yang jelas dan ada solusi yang nyata untuk masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Manager PLN ULP Tenggarong, Dwi Haryadi, saat dikonfirmasi terkait tuntutan mahasiswa maupun dugaan intimidasi yang disampaikan peserta aksi, menyatakan pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memberikan tanggapan resmi kepada media. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











