Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Perang Yaman sedang memasuki babak baru. Hingga 11 September 2026, gerakan Ansarullah di pesisir barat tidak lagi berhenti di wilayah Al-Hudaydah. Garis gerak itu telah meluncur ke selatan, melewati Hays dan Al-Khawkhah, mencapai Mokha, lalu bergerak hingga Dhubab. Rangkaian kemajuan tersebut mengubah peta perang secara nyata, sekaligus membawa kekuatan Ansarullah semakin dekat dengan Bab al-Mandab, gerbang selatan Laut Merah.
Selama bertahun-tahun, Al-Hudaydah menjadi salah satu jangkar utama kekuasaan Ansarullah di pesisir Laut Merah. Kota pelabuhan itu bertahan menghadapi berbagai tekanan militer dan menjadi bagian penting dari wilayah yang berada di bawah kendali Ansarullah. Kini garis depan telah bergerak jauh melewatinya. Hays dan Al-Khawkhah menjadi mata rantai yang membuka koridor ke selatan, menghubungkan kawasan Al-Hudaydah dengan Taiz dan Mokha. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa Ansarullah tidak lagi sekadar mempertahankan garis lama, tetapi sedang memperluas ruang strategisnya di sepanjang pesisir.
Mokha menjadi titik balik yang menentukan. Kota pelabuhan ini selama bertahun-tahun merupakan salah satu simpul pertahanan pasukan anti-Ansarullah di pesisir barat. Ketika Mokha jatuh ke tangan Ansarullah, salah satu penghalang penting menuju selatan runtuh. AP menyebut perkembangan tersebut sebagai salah satu kemajuan teritorial terbesar Ansarullah sejak gencatan senjata 2022. Jatuhnya Mokha sekaligus memperlihatkan bahwa keseimbangan kekuatan di pesisir telah bergeser secara tajam.
Pergerakan itu tidak berhenti di Mokha. Pada 11 September, Reuters melaporkan bahwa pasukan Ansarullah telah mencapai Dhubab, kawasan yang berada di dekat Bab al-Mandab. Dari Dhubab, selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden berada di hadapan mereka, sementara Pulau Perim berdiri di tengah jalur strategis tersebut. Posisi ini memberikan arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penguasaan sebuah kawasan pesisir, karena Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting yang menghubungkan Samudra Hindia, Laut Merah dan kawasan Terusan Suez.
Dengan demikian, rangkaian gerakan Ansarullah sekarang membentuk sebuah garis geografis yang sangat jelas: Al-Hudaydah, Hays, Al-Khawkhah, Mokha, kemudian Dhubab. Setiap titik memperpanjang jangkauan Ansarullah ke selatan. Jika Al-Hudaydah adalah benteng pesisir, Mokha adalah terobosan, maka Dhubab adalah ambang menuju gerbang maritim yang jauh lebih besar. Perang Yaman dengan demikian mulai bergerak dari perebutan kota dan provinsi menuju perebutan posisi yang mempunyai konsekuensi regional dan internasional.
Bab al-Mandab adalah pintu selatan Laut Merah. Jalur tersebut menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Merah dan selanjutnya dengan Terusan Suez, sehingga perubahan keseimbangan militer di sekitarnya mempunyai dampak yang melampaui Yaman. Ketika Ansarullah mencapai Dhubab, Laut Merah semakin dekat dengan wilayah kekuasaan dan jangkauan militernya. Posisi tersebut membuka kemungkinan bagi perubahan besar dalam kalkulasi keamanan maritim kawasan.
Perkembangan di pesisir juga memperlihatkan perubahan nasib pasukan yang selama ini menjadi penyangga kubu Saudi. Pertahanan yang sebelumnya berusaha menahan Ansarullah di kawasan pesisir barat kini mengalami tekanan berlapis. Mokha telah dilewati, tekanan bergerak ke Dhubab, dan ruang pertahanan kubu lawan semakin terdorong ke selatan. Perubahan tersebut membuat garis depan tidak lagi berada di sekitar batas lama wilayah Ansarullah, tetapi semakin dekat dengan kawasan strategis yang mengarah ke Bab al-Mandab.
Aden berada jauh di selatan dan tetap menjadi salah satu pusat kekuatan kubu lawan, tetapi nilai strategis perkembangan ini tidak bergantung pada jatuhnya Aden. Ansarullah tidak perlu terlebih dahulu menguasai seluruh selatan Yaman untuk mengubah keseimbangan perang. Dengan mempertahankan koridor Al-Hudaydah–Mokha–Dhubab, Ansarullah sudah dapat membangun sebuah garis strategis yang menghubungkan wilayah kekuasaannya dengan gerbang selatan Laut Merah.
Semakin kokoh koridor tersebut, semakin besar pula tekanan terhadap struktur pertahanan kubu lawan di selatan.
Perang juga bergerak di front-front lain. Di sebelah timur Sana’a, Marib tetap menjadi salah satu pusat pertahanan penting dan kawasan yang mempunyai arti besar bagi sumber daya energi Yaman. Al-Jawf menjadi medan strategis yang mengarah ke perbatasan Saudi, sementara Al-Dhalea menjadi salah satu jalur penting menuju selatan. Ketiga kawasan tersebut memberikan kedalaman berbeda bagi perang, tetapi perkembangan pesisir memiliki nilai geopolitik tersendiri karena langsung bersentuhan dengan Laut Merah.
Marib menyangkut energi dan kedalaman pertahanan. Al-Jawf menyentuh ruang strategis yang berdekatan dengan Saudi. Al-Dhalea membuka jalur menuju selatan. Pesisir barat membawa Ansarullah menuju Bab al-Mandab. Keempat arah tersebut membentuk tekanan yang membuat perang Yaman semakin sulit dibaca sebagai konflik yang hanya berpusat pada Sana’a atau Aden.
Yang sedang berlangsung di pesisir barat karena itu bukan sekadar penambahan beberapa kota ke dalam peta kekuasaan Ansarullah. Yang berubah adalah posisi strategis seluruh medan perang. Al-Hudaydah yang dahulu menjadi batas penting kini telah menjadi titik awal bagi gerakan yang jauh lebih panjang. Mokha telah menjadi bukti bahwa koridor itu dapat ditembus. Dhubab menjadi bukti bahwa gerakan tersebut telah mencapai kawasan yang secara langsung berkaitan dengan Bab al-Mandab.
Dari pegunungan Sa’dah menuju Al-Hudaydah, dari Al-Hudaydah menuju Hays dan Al-Khawkhah, dari sana menuju Mokha, lalu terus ke Dhubab, terbentuk sebuah lintasan yang menggambarkan perubahan arah perang. Ansarullah bergerak ke selatan, sementara pusat gravitasi konflik ikut bergeser menuju pesisir Laut Merah. Apa yang dahulu merupakan medan pertahanan kini berubah menjadi ruang gerak strategis.
Di ujung gerakan itu terdapat Bab al-Mandab. Selat tersebut bukan sekadar garis sempit di antara dua daratan. Ia adalah pintu yang menghubungkan dua kawasan laut dan salah satu jalur penting perdagangan dunia. Karena itu, setiap kemajuan Ansarullah menuju kawasan tersebut membawa bobot yang jauh lebih besar daripada ukuran wilayah yang direbut. Peta Yaman mulai bersinggungan langsung dengan peta perdagangan dan keamanan internasional.
Mokha telah menjadi pintu yang terbuka. Dhubab menjadi ambang yang semakin dekat dengan gerbang itu. Ansarullah kini berdiri di kawasan yang memungkinkan mereka memproyeksikan kekuatan semakin jauh ke selatan dan semakin dekat ke jalur laut strategis. Garis depan tidak lagi sekadar membentang di pedalaman Yaman; garis depan kini menatap Laut Merah.
Perang belum mencapai akhirnya, tetapi arah pergerakannya telah meninggalkan tanda yang jelas. Ansarullah telah memperluas jangkauannya dari Al-Hudaydah menuju selatan, menembus Mokha dan mencapai Dhubab. Setiap langkah tersebut mempersempit ruang strategis yang selama ini digunakan untuk membendung gerakan mereka.
Ansarullah tidak lagi berdiri di belakang garis pertahanan. Ansarullah sedang mendorong garis itu ke selatan. Dan di selatan garis tersebut berdiri Bab al-Mandab—gerbang Laut Merah yang kini semakin dekat dengan jangkauan Ansarullah. (*Cendekiawan Muslim)











