Search

Etika Kekuasaan dan Kedewasaan Demokrasi, Membaca Pesan Kebangsaan AHY

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Izmil Patola*

Di tengah riuhnya pragmatisme politik dan manuver elit yang kerap kali hanya berorientasi pada distribusi kekuasaan, sebuah pidato politik baru-baru ini berhasil menarik perhatian publik dan memantik diskursus yang lebih substansial. Pada peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melontarkan sebuah refleksi fundamental: “Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu.”

Bagi pembaca politik awam, pernyataan ini mungkin terdengar sekadar sebagai retorika normatif. Namun, dalam optik ilmu politik, apa yang disampaikan AHY adalah sebuah artikulasi dari etika tanggung jawab (ethic of responsibility) yang belakangan ini kian langka di panggung republik kita.

Secara teoretis, sosiolog politik Max Weber pernah membagi karakter politisi ke dalam dua kutub: mereka yang hidup untuk politik (mengabdi pada nilai), dan mereka yang hidup dari politik (mengejar jabatan semata). Pidato AHY secara elegan menempatkan dirinya dan institusi partainya pada kutub yang pertama. Ia sedang mengajak bangsa ini untuk kembali pada tata bahasa demokrasi yang benar, bahwa esensi dari sebuah republik adalah sirkulasi elit yang berjalan damai, bukan akumulasi kekuasaan tanpa akhir.

Ketika AHY merujuk pada masa pemerintahan 10 tahun Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), rujukan tersebut tidak boleh direduksi sekadar sebagai romantisme masa lalu atau glorifikasi familial. Dalam kajian transisi demokrasi, apa yang diwariskan SBY adalah wujud paripurna dari democratic consolidation (konsolidasi demokrasi).

Ilmuwan politik Juan Linz dan Alfred Stepan menegaskan bahwa demokrasi baru bisa dikatakan terkonsolidasi ketika aturan main konstitusional, terutama pembatasan masa jabatan, telah menjadi the only game in town—satu-satunya permainan yang diakui. SBY membuktikan itu dengan turun gelanggang secara terhormat pada 2014, menolak godaan kekuasaan meski saat itu instrumen negara berada di tangannya.

Dengan mengangkat benchmark ini, AHY sesungguhnya sedang melakukan edukasi politik berskala nasional. Ia mengingatkan kembali adagium klasik Lord Acton, “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.” Bahwa sebaik apa pun niat seorang pemimpin, kekuasaan harus dipagari oleh waktu dan konstitusi. Di sinilah letak kedewasaan seorang AHY: ia memahami bahwa warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah seberapa lama ia bertahta, melainkan seberapa mulus ia menyerahkan tahtanya.

Hal yang paling menarik dari manuver diskursif ini adalah subjek yang menyampaikannya. AHY adalah representasi dari generasi kepemimpinan baru Indonesia. Namun, alih-alih terjebak pada narasi populisme dangkal atau sekadar pamer kekuatan grassroots seperti kebanyakan politisi muda, ia justru memilih masuk ke wilayah filosofi negara.

Sikap ini mengafirmasi transformasi politik AHY yang matang. Ia bukan lagi sekadar prajurit yang terbiasa dengan komando hierarkis, melainkan telah berevolusi menjadi seorang teknokrat dan pemikir politik (political thinker) yang memahami anatomi bernegara. Di saat banyak elit sibuk membicarakan “siapa mendapat apa dan kapan” (who gets what, when, and how—meminjam definisi politik Harold Lasswell), AHY justru mengajak kita memikirkan “mengapa kekuasaan itu ada dan kapan ia harus dikembalikan kepada rakyat.”

Pidato ini juga menegaskan posisi strategisnya dalam lanskap pemerintahan hari ini. Sebagai bagian dari kabinet, AHY menunjukkan bahwa loyalitas kepada pemerintahan tidak berarti harus kehilangan daya kritis pada nilai-nilai dasar demokrasi. Ini adalah bentuk checks and balances kultural yang sangat sehat bagi ekosistem politik kita.

Pada akhirnya, bangsa ini terus bergerak menghadapi tantangan global yang makin kompleks. Demografi yang menua, disrupsi ekonomi, dan fragmentasi geopolitik membutuhkan tipe pemimpin yang tidak mudah mabuk oleh kekuasaan. Kita membutuhkan nakhoda yang menyadari bahwa jabatan hanyalah alat, bukan tujuan akhir.

Pidato AHY tentang batas kekuasaan adalah sebuah oase. Ia memberikan ketenangan bagi publik bahwa di tengah dinamika elit yang seringkali tak tertebak, masih ada tokoh muda yang menempatkan konstitusi dan etika demokrasi di atas syahwat politik berlebihan.

Kekuasaan memang memiliki batas, tetapi gagasan dan kenegarawanan akan terus hidup. Dan melalui pidatonya, AHY baru saja membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas kenegarawanan yang dibutuhkan oleh republik ini di masa-masa yang akan datang. (*Pengamat Politik dan Kebangsaan)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA