Search

Pelajaran Tauhid dari Tragedi Karbala

Ustadz Ali Haidar Al-Khirid menjadi penceramah dalam peringatan malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar. (Berita Alternatif/Ahmad Fauzi)

Oleh: Ustadz Ali Haidar Al-Khirid*

Peristiwa ini terjadi pada salah satu keturunan Rasulullah Saw di wilayah yang kini dikenal sebagai negara Irak. Peristiwa tersebut berlangsung di sebuah tempat yang kita kenal sebagai Karbala. Kita mengetahui bahwa peristiwa ini merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 61 Hijriah, tepatnya di kota Karbala.

Kejadian Asyura merupakan peristiwa yang sangat singkat. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa peperangannya hanya berlangsung beberapa jam saja, dimulai setelah pagi hingga menjelang sore. Jadi, jika dihitung, durasinya hanya beberapa jam. Namun, meskipun waktunya singkat dan skalanya terbatas, peristiwa ini sarat dengan makna. Bahkan, bukan sekadar makna biasa, melainkan makna yang sangat tinggi karena mengandung pelajaran dan pesan-pesan yang begitu penting untuk kita pelajari.

Di padang Karbala, kita menyaksikan sekitar 72 sahabat dan pengikut yang dipimpin oleh seorang yang kita kenal sebagai Imam Husein. Sementara itu, di pihak musuh terdapat begitu banyak musuh-musuh Allah. Mereka adalah pasukan yang lengkap dengan berbagai persenjataan, sedangkan Imam Husein bukan sedang membawa pasukan perang, melainkan membawa keluarga yang tidak memiliki perlengkapan maupun persenjataan perang sebagaimana yang dimiliki pihak lawan.

Namun, kita mengetahui bahwa peristiwa Asyura bukanlah sekadar kisah sejarah. Asyura bukan hanya berbicara tentang Karbala, dan bukan pula hanya tentang peristiwa yang terjadi pada tahun 61 Hijriah. Peristiwa Asyura bahkan dapat dikatakan telah melampaui dimensi ruang dan waktu.

Fakta bahwa hingga hari ini kita masih berkumpul untuk mengenangnya menunjukkan bahwa Asyura adalah peristiwa yang selalu dikenang, selalu hidup, dan selalu menginspirasi.

Kita mengetahui bahwa dalam sejarah terdapat banyak kisah tentang orang-orang yang gugur. Pada masa Rasulullah Saw pun terdapat banyak peperangan. Salah satunya adalah Sayyidina Hamzah yang meraih syahadah. Banyak peperangan terjadi, tetapi tidak ada satu pun peristiwa dalam sejarah Islam, bahkan sejarah sebelumnya, yang memiliki karakter seperti tragedi Asyura atau tragedi Karbala.

Asyura adalah peristiwa yang selalu hidup. Seolah-olah setiap tahunnya peristiwa ini selalu terasa baru. Kini telah berlalu lebih dari 1.400 tahun sejak tahun 61 Hijriah, namun peristiwa Asyura masih tetap kita kenang.

Mengapa tragedi Asyura selalu dikenang? Mengapa tragedi ini terus dihidupkan? Apa yang melatarbelakangi sehingga hingga hari ini kita masih memperingatinya?

Sebagai pendekatan, kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Mengapa Allah mengabadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Karena peristiwa tersebut mengandung spirit pengorbanan. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan kita untuk terus mengenang dan menghidupkannya melalui ibadah kurban yang kita kenal dalam Iduladha.

Setiap tahun kita merayakan dan memperingati Iduladha dengan menyembelih hewan kurban. Kita mengetahui bahwa Allah mengabadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, padahal keduanya berada dalam keadaan selamat. Nabi Ibrahim tidak jadi menyembelih Nabi Ismail, tetapi Allah tetap mengabadikan peristiwa tersebut dan memerintahkan kita untuk terus menghidupkannya.

Kita memperingati Iduladha setiap tahun, padahal kita mengetahui bahwa Nabi Ismail tidak benar-benar disembelih. Pisau Nabi Ibrahim tidak melukai beliau. Jika demikian, apakah tidak mungkin Allah juga menjadikan syiar tentang pengorbanan Nabi Muhammad Saw?

Nabi Ibrahim termasuk Ulul Azmi. Sementara Nabi Muhammad Saw bukan hanya termasuk Ulul Azmi, tetapi juga Sayyidul Anbiya wal Mursalin. Ketika kita berbicara tentang Sayyidul Anbiya wal Mursalin, salah satu bentuk pengorbanan beliau adalah pengorbanan yang terjadi melalui cucunya, Sayyidina Husein as.

Kita mengetahui bahwa pengorbanan ini tidak sama dengan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di sini benar-benar terjadi pembuktian pengorbanan melalui gugurnya Imam Husein as.

Apakah peristiwa sebesar ini tidak layak untuk terus dihidupkan? Sementara pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintahkan untuk terus dikenang, apakah ketika Nabi Muhammad Saw juga memiliki pengorbanan yang demikian besar melalui Imam Husein as, tidak ada perintah untuk senantiasa menghidupkannya?

Ada spirit perjuangan yang sama antara Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Saw. Bahkan, pengorbanan Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa Karbala justru lebih besar daripada peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Salah satu dalil yang menunjukkan besarnya tragedi ini dapat kita lihat dalam Ziarah Asyura. Di dalam Ziarah Asyura kita membaca bahwa tragedi Asyura merupakan musibah yang sangat besar. Kita berdoa kepada Allah dengan hakmu dan dengan kedudukanmu di sisi Allah agar Dia menganugerahkan kepada kami pemahaman terhadap musibah yang sangat agung ini. Dengan demikian, Allah memperkenalkan kepada kita bahwa tragedi Asyura merupakan sebuah musibah yang sangat besar.

Kemudian Allah menganugerahkan kepada kita bukti tentang musibah Imam Husein. Ini merupakan sebuah pemberian, sebuah rahmat bagi para pengikut Ahlulbait. Bahkan, ini adalah sebaik-baik pemberian dari Allah, yaitu pemahaman terhadap musibah yang lebih besar daripada musibah-musibah yang lain. Artinya, musibah ini juga meliputi dan melampaui musibah yang terjadi pada Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Sebuah musibah yang begitu agung dan penderitaan serta kezaliman yang begitu besar, baik dalam Islam maupun di alam semesta.

Di dalam Ziarah Asyura disebutkan, musibah ini bukan hanya besar bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh penghuni langit dan bumi. Jadi, yang memperingati musibah Asyura bukan hanya golongan manusia, tetapi juga para penghuni dan makhluk-makhluk yang lain.

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat bukan hanya manusia, bukan hanya orang Islam, bukan hanya para pengikut Ahlulbait, tetapi seluruh makhluk ikut merasakan besarnya musibah ini.

Karena itulah terdapat anjuran yang menyatakan kepada kita, barang siapa yang menangis, berusaha menangis, atau membuat orang lain menangis karena kesedihan Imam Husein, maka baginya surga.

Demikian pula terdapat riwayat yang berbunyi, “Ketika kalian ingin menangisi sesuatu, maka menangislah untuk Al-Husein.”

Kalau kita melihat di Iran, setiap acara takziah hampir selalu diakhiri dengan peringatan atau pembacaan kronologi syahidnya Imam Husein. Majelis-majelis duka selalu ditutup dengan kisah kesyahidan beliau. Bahkan, ketika kita menghadiri takziah jenazah seorang alim, misalnya Sayyid Ali Khamenei, sering kali salah satu pembacaan syair dan ratapannya juga berkaitan dengan Imam Husein atau kronologi tragedi Karbala.

Hal itu karena adanya anjuran agar ketika kita ingin bersedih, maka jadikanlah kesedihan kepada Imam Husein sebagai kesedihan utama.

Baik ketika kita kehilangan sesuatu, kehilangan orang tua, ataupun tertimpa musibah, maka bersedihlah untuk Al-Husein. Kita diperintahkan menggantikan kesedihan musibah pribadi kita dengan menangisi Imam Husein.

Imam ingin mengajarkan kepada kita agar senantiasa menghidupkan Asyura. Karena itulah ada syiar, “Kullu yaumin Asyura.” Maksudnya, Asyura harus menjadi bagian dari kehidupan kita, bahkan mendarah daging dalam diri kita.

Imam ingin menunjukkan bahwa musibah Asyura adalah musibah yang sangat besar. Musibah itu harus hidup dalam jiwa para pengikutnya. Sebab, Imam Husein bukan sekadar terbunuh. Di balik tragedi itu terdapat begitu banyak makna, kedalaman makrifat, dan pelajaran yang sangat tinggi yang harus kita pelajari.

Karena itulah dalam banyak riwayat, misalnya dari Imam Ja’far ash-Shadiq as, disebutkan bahwa ketika kalian berziarah kepada Imam Husein, pahala ziarah tersebut setara dengan jutaan haji dan jutaan umrah, yang dilakukan bersama para nabi dan rasul sejak awal hingga akhir zaman.

Bahkan, dalam riwayat Imam Ridha as disebutkan bahwa apabila kalian menghidupkan majelis Imam Husein dengan membacakan syair-syair tentang beliau, maka ketahuilah bahwa para malaikat akan datang dan turut menangisi Imam Husein.

Mengapa para malaikat datang? Karena tragedi ini merupakan musibah yang sangat agung.

Imam Ridha juga mengatakan bahwa ketika kalian berziarah kepada Imam Husein, maka Sayyidah Fatimah az-Zahra akan datang kepada kalian dan memohonkan ampun atas dosa-dosa kalian.

Beliau juga bersabda, ketika kalian menangisi Imam Husein, sekalipun tetes air mata kalian hanya sebesar sayap lalat, Allah akan mengampuni seluruh dosa kalian, meskipun sebanyak butiran air di lautan.

Mengapa pahala ini begitu besar? Karena musibah Imam Husein adalah musibah terbesar dalam Islam dan di seluruh langit serta bumi.

Kalau kita berbicara tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita mengetahui bahwa Nabi Ismail tidak terbunuh. Namun ketika kita berbicara tentang cucu Rasulullah Saw, maka sudah sepantasnya kita menangisi Imam Husein.

Sebagai orang yang bermadzhab dan berwilayah kepada Nabi Muhammad Saw, sudah sepatutnya kita ikut bersedih. Imam Ridha berkata, “Jika kalian ingin bersama kami di surga, maka bersedihlah dengan kesedihan kami dan bergembiralah dengan kebahagiaan kami.”

Hal ini menunjukkan bahwa ketika hari ini kita duduk di sini untuk memperingati sebuah peristiwa yang telah melintasi ruang dan waktu, sesungguhnya kita sedang mengenang sebuah tragedi yang terjadi lebih dari 1.400 tahun yang lalu di belahan bumi yang jauh dari tempat kita berada.

Namun, hingga hari ini kita masih memperingati Imam Husein. Hal ini menunjukkan bahwa kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau. Sebab, tidak mungkin seseorang datang ke majelis yang dipenuhi para malaikat, kecuali hatinya telah dibersihkan dan di dalamnya telah tertanam satu nama yang agung, yaitu nama Al-Husein.

Di majelis ini tidak ada Yazid, Muawiyah, atau orang-orang semisal mereka. Yang ada adalah majelis yang membersihkan hati kita.

Semua imam menyatakan hal ini. Dalam salah satu riwayat, Imam Ridha as bersabda:

“Kami semua,” kata Imam Ridha, “adalah bahtera keselamatan. Akan tetapi, bahtera Husein lebih luas dan lebih cepat.”

Artinya, bahtera Imam Husein sangat luas sehingga lebih banyak orang yang dapat memperoleh syafaat di dalamnya. Bahkan disebutkan bahwa ketika menghadapi gelombang yang tinggi, bahtera Husein justru melaju lebih cepat.

Kalau kita melihat kapal-kapal di zaman sekarang, ketika membelah ombak yang tinggi tentu memerlukan waktu. Namun, dalam riwayat ini digambarkan bahwa bahtera Husein justru semakin cepat ketika menghadapi gelombang besar. Ini menunjukkan bahwa syafaat Imam Husein begitu cepat. Siapa pun yang mendekat kepada Imam Husein akan dipercepat dalam memperoleh syafaat dan terkabulnya harapan-harapannya.

Bahkan, dalam riwayat Imam Ridha disebutkan bahwa orang-orang yang menghadiri majelis Imam Husein dan menangis di dalamnya akan masuk surga empat puluh tahun lebih dahulu dibandingkan orang yang tidak mengenal Imam Husein.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya syafaat Imam Husein. Karena itulah kita diperintahkan oleh para maksum untuk menghidupkan Asyura.

Peristiwa Asyura terus hidup karena beberapa sebab. Pertama, karena kisahnya sendiri. Kedua, karena para imam juga menghidupkannya.

Kita mengetahui bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as setiap kali memasuki bulan Muharam selalu memanggil para penyair. Mereka diberi penghormatan dan hadiah untuk melantunkan syair-syair duka tentang Imam Husein.

Salah seorang penyair terkenal bernama Kumail. Ketika penyair ini membacakan syair-syair tentang Imam Husein, Imam Ja’far ash-Shadiq langsung larut dalam kesedihan dan menangis.

Setelah itu, Imam Ja’far ash-Shadiq berdoa, “Ya Allah, dengan keutamaan Imam Husein, ampunilah dosa-dosa Kumail, sang penyair ini, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta berkahilah hidupnya sepanjang usianya.”

Jika para imam sendiri menghidupkan Asyura dan memerintahkan kita untuk menghidupkannya, maka tentu mengikuti mereka merupakan jalan memperoleh ampunan Allah. Dengan itu, dosa-dosa kita, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, akan dihapuskan. Inilah jaminan yang diberikan melalui ajaran para imam.

Jadi, mengapa Asyura tetap hidup? Karena para imam melakukannya sendiri dan mereka juga mengajarkan umatnya untuk terus menghidupkannya.

Poin kedua, mengapa Asyura selalu hidup? Mengapa setiap tahun Asyura selalu diperingati? Mengapa seolah-olah kisahnya tidak pernah habis diceritakan? Sudah lebih dari 1.400 tahun kisah itu diulang-ulang, tetapi selalu ada pelajaran baru, pemahaman baru, dan ilmu baru yang sebelumnya belum tersingkap, kemudian menjadi tersingkap.

Jawaban yang kedua adalah karena para aktornya.

Yang mengabadikan kisah Asyura adalah para tokoh yang berada di balik peristiwa tersebut. Kalau kita berbicara tentang aktor-aktor tragedi Asyura, adakah aktor yang lebih mulia daripada Imam Husein?

Beliau memiliki nasab yang sempurna. Ibunya adalah Sayyidah Fatimah az-Zahra as, seorang ma’shumah. Ayahnya adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, seorang imam. Datuknya adalah Rasulullah Saw. Dari garis keturunannya lahirlah sembilan imam, dan yang terakhir adalah Al-Qa’im Al-Hujjah.

Karena itu kita menemukan riwayat Rasulullah Saw yang berbunyi: “Huseinun minni wa ana minal Husein.”

Mengapa yang disebut adalah Husein? Mengapa bukan Hasan? Ini menunjukkan adanya keistimewaan Imam Husein. Di antara keturunan para imam, Imam Husein memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Sabda Rasulullah, “Huseinun minni wa ana minal Husein,” juga menunjukkan bahwa dari garis keturunan Imam Husein akan lahir para penerus Imamah. Imam Husein adalah aktor utama dalam peristiwa besar tersebut.

Kemudian kita juga mendapati Sayyidah Zainab, saudari Imam Husein, yang merupakan salah satu putri terbaik Sayyidah Fatimah az-Zahra. Beliau mewarisi sifat-sifat ibundanya. Kita mengetahui bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra adalah lambang kesabaran, dan Sayyidah Zainab mewarisi keteguhan itu.

Kita juga mengetahui bahwa salah satu aktor besar di balik Asyura adalah Abu Fadhl al-Abbas. Beliau rela kehilangan kedua tangannya hanya demi mengambil seteguk air untuk anak-anak dan keponakan-keponakannya yang kehausan. Ini adalah sosok yang luar biasa.

Kita juga menemukan Ali al-Akbar, seorang pemuda yang menjadi teladan dalam keberanian dan pengorbanan.

Kita menemukan pula Qasim, seorang remaja yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan bermain, tetapi justru hadir di medan perang demi membela kebenaran.

Di balik tragedi Asyura juga terdapat para sahabat Imam Husein, para aktor terbaik yang menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Ketika Imam Husein mempersilakan mereka pulang pada malam Asyura, mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Husein, bagaimana mungkin kami meninggalkanmu? Apa yang akan kami jawab nanti kepada datukmu, Muhammad saw, dan apa yang akan kami jawab kepada ibundamu, Fatimah az-Zahra? Seandainya kami dibunuh bersamamu, kemudian kami dihidupkan kembali, lalu dibunuh lagi, dan dihidupkan kembali, sesungguhnya kami tidak akan pernah meninggalkanmu, wahai Husein.”

Inilah para aktor dalam peristiwa Asyura. Mereka adalah aktor-aktor terbaik. Karena itu, sangat wajar apabila Allah memerintahkan kita untuk terus menghidupkan madrasah Karbala. Di dalamnya terdapat begitu banyak pelajaran dan hikmah yang sarat makna, yang harus menjadi landasan dalam perjalanan hidup kita, terutama ketika kita menghadapi berbagai rintangan kehidupan.

Aktor-aktor dalam peristiwa Asyura bukanlah aktor yang sembarangan. Mereka bukan orang-orang yang dipilih secara kebetulan. Mereka adalah manusia-manusia pilihan. Tentu ada kebaikan yang luar biasa di dalam hati mereka.

Tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk menghidupkan Asyura apabila tidak ada pelajaran di dalamnya. Pasti terdapat nilai-nilai ilahiah yang sangat agung. Nilai-nilai ilahiah itulah yang mewarnai sekaligus mengabadikan peristiwa Asyura.

Salah satu nilai ilahiah yang dapat kita pelajari pada malam ini adalah tentang keikhlasan dan ketulusan hati.

Imam Husein as pernah bersabda dalam sebuah riwayat yang sering kita dengar: “Inni lam akhruj asyiran wa la bathiran wa la mufsidan wa la zhaliman, wa innama kharajtu li thalabil ishlah fi ummati jaddi.” Inilah, secara singkat, visi dan misi Imam Husein.

Imam Husein mengatakan bahwa beliau tidak keluar karena kesombongan. Kebangkitan beliau bukan karena ingin menunjukkan kekuatan atau mencari popularitas. Beliau juga bukan keluar untuk membuat kerusakan dan bukan pula untuk mencari peperangan. Imam Husein bangkit bukan karena ingin berperang.

Beliau juga bukan keluar untuk berbuat zalim. Akan tetapi, Imam Husein menegaskan, “Sesungguhnya aku keluar untuk melakukan islah, memperbaiki umat kakekku, Rasulullah Muhammad Saw.”

Karena itu, dapat kita garisbawahi bahwa kebangkitan Imam Husein adalah untuk agama Allah. Imam Husein bukan bangkit karena kesombongan. Imam Husein bukan bangkit untuk mencari kekuasaan. Akan tetapi, Imam Husein bangkit demi agama Allah.

Kalau kita melihat pasukan Imam Husein yang hanya berjumlah sekitar 72 orang, sementara pasukan musuh menurut berbagai riwayat mencapai 20 ribu, 25 ribu, 30 ribu, bahkan ada yang menyebut hingga 40 ribu orang, maka muncul sebuah pertanyaan. Seandainya Imam Husein berniat mencari kekuasaan, apakah ketika melihat pengikutnya hanya 72 orang beliau tidak akan goyah?

Tentu orang yang mengejar kekuasaan akan goyah. Kalau niat seseorang adalah mengejar kekuasaan, kemudian ia melihat pengikutnya sangat sedikit dan tidak cukup untuk menghadapi lawan, tentu semangatnya akan surut.

Kalau niatnya untuk mencari dunia atau menzalimi orang lain, untuk apa Imam Husein hanya membawa 72 orang, bahkan di antara mereka terdapat anak-anak, perempuan, dan keluarga beliau sendiri?

Semua ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Imam Husein bergerak bukan demi dunia. Beliau tidak bergerak demi kepentingan pribadi ataupun demi kekuasaan. Imam Husein bergerak semata-mata untuk mencari keridaan Allah Swt.

Inilah jawaban mengapa Asyura tetap abadi. Karena para aktornya adalah orang-orang yang hanya mencari keridaan Allah.

Kalau diringkas, Imam Husein dan seluruh sahabatnya memiliki niat yang tulus dan ikhlas hanya kepada Allah Swt.

Jadi, jawaban singkat mengapa Asyura tetap hidup sepanjang zaman adalah karena para pelakunya memiliki keikhlasan yang luar biasa.

Oleh sebab itu, di dalam berbagai doa dan ziarah kita terus mengingat mereka hingga Hari Kiamat. Nama mereka terus disebut berulang-ulang sepanjang zaman.

Mengapa hal itu terjadi? Karena para aktor dalam peristiwa Asyura memiliki ketulusan hati. Imam Husein dan para sahabatnya mempunyai niat yang murni hanya untuk Allah Swt.

Imam Husein memilih jalan ketulusan hati. Karena itu, beliau tidak pernah goyah meskipun pasukannya hanya berjumlah sekitar 72 orang.

Kalau seseorang berjuang demi dunia, ketika melihat jumlah pasukan musuh jauh lebih besar daripada pasukannya sendiri, pasti ia akan takut, goyah, mundur, bahkan menyerah.

Namun karena Imam Husein memiliki ketulusan dan keikhlasan hati, beliau bersama para sahabatnya tidak pernah mundur.

Pada malam ini, saya akan sedikit membahas tentang ketulusan hati, atau yang kita kenal dengan istilah ikhlas.

Salah satu hal yang membuat sebuah amal menjadi abadi adalah ikhlas. Ingat, setiap keikhlasan akan mengabadikan amal.

Apa itu ikhlas? Saya katakan bahwa ikhlas itu mengabadikan amal. Ikhlas berasal dari kata khalis, yang berarti murni, tulus, dan bersih. Dalam bahasa Indonesia, kita biasanya menerjemahkannya dengan kata ikhlas. Memang tidak ada padanan kata yang benar-benar sama. Mungkin ada yang mengartikannya sebagai rela atau rida, tetapi makna itu pun belum sepenuhnya tepat.

Selama ini, makna ikhlas seolah-olah telah tertanam dalam diri kita sebagai sikap rela menerima sesuatu. Padahal, Al-Qur’an al-Karim memaknai ikhlas jauh lebih dalam daripada sekadar rela. Kita selama ini memahami ikhlas seolah-olah hanya berarti rela, padahal menurut Al-Qur’an, ikhlas bukan sekadar rela atau rida.

Makna ikhlas adalah murni, bersih, tidak tercampur dengan sesuatu yang lain, serta terbebas dari segala kotoran. Kalau kita membuka kamus bahasa Arab, orang Arab menggunakan kata ikhlas untuk menunjukkan sesuatu yang benar-benar murni, bersih, dan bebas dari segala kotoran.

Misalnya, ada istilah ma’un khalis, yaitu air yang murni. Air yang suci dan murni itulah yang mampu membersihkan. Disebut ma’un khalis karena di dalam air itu tidak terdapat kotoran ataupun najis.

Begitulah makna ikhlas yang sesuai dengan padanan bahasa Arab, yaitu kemurnian.

Kalau kita melihat bagaimana orang Arab memeras kelapa, misalnya, mula-mula kelapa diparut, kemudian diperas hingga keluar santannya. Santan itulah yang disebut sebagai sesuatu yang khalis, yaitu yang murni. Demikian pula air yang telah disaring hingga benar-benar bersih disebut sebagai air yang murni. Karena itu, ikhlas adalah kemurnian hati.

Artinya, di dalam hati tidak terdapat sedikit pun kotoran. Dan kotoran yang dimaksud adalah ghairullah, segala sesuatu selain Allah.

Jadi, ikhlas bukan sekadar rela. Ikhlas adalah keadaan ketika isi hati seseorang hanya Allah semata. Hatinya murni dari selain Allah.

Ikhlas adalah ketika segala sesuatu yang ada di dalam hati, setelah “diperas”, hilang seluruh keinginan-keinginan selain Allah. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk mendekat kepada Allah, keinginan memperoleh keridaan Allah, dan keinginan mendapatkan kedudukan di sisi Allah. Inilah makna ikhlas.

Jadi, ikhlas bukan sekadar rela, melainkan memurnikan hati sehingga yang tersisa di dalam hati hanyalah Allah.

Sebagaimana kita membaca Surah Al-Ikhlas. Allah sendiri memberi nama surah itu dengan nama Al-Ikhlas. Mengapa dinamakan Surah Al-Ikhlas? Karena di dalamnya hanya ada pengenalan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka orang yang di dalam hatinya hanya ada Allah Yang Maha Esa, dialah orang yang ikhlas.

Siapa pun yang di dalam hatinya hanya tersisa Allah, itulah orang yang ikhlas.

Karena itu, ketika seseorang ikhlas, bukan berarti sekadar rela. Ikhlas berarti amalnya tidak ditujukan untuk memperoleh pujian manusia, tidak ditujukan untuk mencari ketenaran, dan tidak pula untuk mengharapkan balasan dari manusia. Itulah yang dinamakan ikhlas.

Maka ketika Imam Husein mengatakan bahwa beliau keluar bukan untuk mencari kedudukan, bukan untuk mencari kekuasaan, bukan pula untuk menunjukkan siapa dirinya atau dari keturunan siapa beliau berasal, hal itu menunjukkan bahwa hati Imam Husein benar-benar murni hanya untuk Allah.

Jadi, ikhlas adalah kemurnian hati, yaitu hati yang hanya dipersembahkan untuk Allah. Bukan sekadar rela atau rida, melainkan menjadikan hati kita hanya milik Allah.

Rasulullah Saw bersabda: “Qalbul mu’min haramullah.” Hati seorang mukmin adalah haram Allah, tempat yang disucikan untuk Allah.

Karena itu, jangan isi hati tersebut kecuali dengan Allah. Jangan isi dengan selain-Nya.

Jadi, ikhlas adalah keadaan ketika seseorang memiliki hati yang tidak disertai sedikit pun embel-embel kepentingan selain Allah. Ia tidak mengharapkan pujian, tidak mengharapkan berbagai balasan dari manusia, melainkan hanya mengharapkan keridaan Allah. Itulah makna ikhlas.

Karena itu, Imam Ali bin Abi Thalib as. mengatakan: “Al-ikhlashu…” dan beliau juga bersabda, “Thuba liman akhlasha lillahi fil ‘ibadah wad-du’a.”

Beruntunglah orang yang memurnikan ibadah dan doanya hanya untuk Allah.

Imam Ali juga mengatakan bahwa ikhlas adalah pusat agama. Mengapa disebut pusat agama? Karena ikhlas bukan sekadar rela. Seandainya ikhlas hanya diartikan sebagai rela, tentu maknanya menjadi sangat sempit.

Yang dimaksud Imam Ali adalah kemurnian hati, yaitu hati yang isinya hanya Allah. Itulah yang dinamakan ikhlas. Dan itulah pusat agama Allah.

Dalam sebuah hadis, Imam Ali ar-Ridha as meriwayatkan hadis qudsi yang berbunyi: “Lā ilāha illallāhu hiṣnī, fa man dakhala hiṣnī amina min ‘adzābī.” Artinya, Allah Swt berfirman, “Lā ilāha illallāh adalah benteng-Ku. Barang siapa memasuki benteng-Ku, maka ia akan aman dari azab-Ku.” Hadis ini menunjukkan kepada kita makna tauhid.

Kalau kita memahami bahwa ikhlas hanya berarti rela, lalu bagaimana dengan Surah At-Tauhid yang juga dinamakan Surah Al-Ikhlas? Surah At-Tauhid dinamakan Surah Al-Ikhlas karena seluruh isinya mengajarkan seseorang untuk meyakini dan mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Karena itu pula, dalam salat, pada setiap rakaat kedua kita dianjurkan membaca Surah At-Tauhid.

Dengan demikian, agar lebih mudah dipahami, kita dapat mengatakan bahwa makna Al-Ikhlas adalah At-Tauhid. Artinya, ketika seseorang ikhlas, berarti ia bertauhid. Ikhlas bukan sekadar perasaan, tetapi tauhid.

Jadi, kalau seseorang ikhlas, berarti tujuan hidupnya, visi dan misinya, serta seluruh amal yang dilakukannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk Allah.

Karena seluruh tujuannya hanya untuk Allah, maka di sinilah Imam Husein berkata: “Mitsli lā yubāyi’u mitslah.” Orang seperti aku tidak akan pernah tunduk kepada orang seperti dia.

Mengapa? Karena yang satu adalah pengikut setan, sedangkan aku adalah pengikut Allah. Gerakanku adalah lillāh, pengorbananku lillāh, perjuanganku lillāh, semuanya hanya untuk Allah. Aku ikhlas. Artinya, aku bertauhid kepada Allah.

Karena itu, siapa pun yang ikhlas, yang suci, yang murni, dan bertauhid, maka ia tidak akan pernah takut kepada siapa pun dan terhadap apa pun.

Itulah sebabnya, ketika Imam Husein melihat pasukannya hanya berjumlah sekitar 72 orang, sementara pasukan musuh mencapai puluhan ribu orang, beliau tidak pernah mundur, tidak pernah gentar, dan tidak pernah takut. Sebab Imam Husein hanya berjuang untuk Allah semata.

Jadi, Al-Ikhlas adalah At-Tauhid.

Kemudian yang kedua, Imam Ali as mengatakan bahwa al-ikhlas adalah ghāyatud dīn, yaitu puncak agama.

Kita mengetahui bahwa seluruh rukun iman, pada hakikatnya memiliki satu tujuan, yaitu membawa manusia kepada tauhid.

Semua itu bermuara pada satu tujuan, yaitu memurnikan penghambaan kepada Allah, atau dengan kata lain ikhlas dan tauhid.

Karena itulah Imam Ali mengatakan bahwa al-ikhlas adalah ghāyatud dīn, yakni puncak agama. Maksudnya adalah tauhid. Orang yang bertauhid adalah orang yang memurnikan hatinya hanya untuk Allah.

Diutusnya para rasul, diutusnya para imam, diturunkannya kitab-kitab Allah, semuanya bertujuan menjadikan manusia sebagai hamba-hamba yang bertauhid dan memiliki hati yang ikhlas.

Termasuk di dalamnya adalah berbagai syariat yang Allah berikan kepada kita. Semua itu bertujuan untuk memurnikan hati kita agar memiliki sifat ikhlas dan sifat tauhid, sehingga setiap gerakan, setiap langkah, dan setiap amal yang kita lakukan hanya ditujukan kepada Allah dan menuju Allah.

Karena itu, maksud perjuangan Imam Husein adalah bergerak dengan satu visi, yaitu menegakkan tauhid. (*Disampaikan dalam peringatan malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA