BERITAALTERNATIF.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar diskusi publik bertajuk Paradoks Lumbung Energi: Daerah Kaya SDA tapi Miskin Daya, Bongkar Mafia Saklar & BBM Langka di Sekretariat HMI Cabang Kukar pada Minggu (19/7/2026).
Diskusi menghadirkan praktisi hukum dan politik Kukar Hardianda sebagai narasumber untuk mengupas paradoks pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di Kaltim yang dinilai belum sepenuhnya berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
Forum tersebut digelar di tengah berbagai persoalan yang masih dihadapi daerah, mulai dari kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), pemadaman listrik bergilir, hingga tekanan terhadap kondisi fiskal daerah.
Diskusi ini juga mengkritisi optimalisasi pengelolaan SDA yang dikelola oleh badan usaha milik daerah, termasuk kontribusi perusda-perusda Kukar yang dinilai kurang optimal dalam mendongkrak keuangan daerah yang saat ini tengah mengalami defisit.
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda HMI Cabang Kukar, Muhammad Alfin, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan pengelolaan SDA di daerah.
Menurutnya, melimpahnya potensi energi yang dimiliki Kukar seharusnya berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat serta terpenuhinya kebutuhan dasar, termasuk akses terhadap energi dan BBM. “Pertanyaannya, ada apa? Mengapa bisa demikian?” ujarnya.
Kondisi ini, lanjut Alfin, menunjukkan masyarakat di daerah penghasil energi belum sepenuhnya menikmati manfaat dari kekayaan alam yang dimiliki daerahnya sendiri.
Dia juga mempertanyakan kondisi keuangan daerah yang mengalami tekanan, padahal Kukar saat ini masih berstatus sebagai salah satu penyumbang terbesar sektor migas dan batu bara nasional.
Ia berpendapat, kontribusi daerah yang besar terhadap penerimaan negara belum diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan publik.
“Ini menjadi ketidakadilan bagi kita sebagai daerah penghasil. Harapannya, kajian malam ini dapat membuka cakrawala berpikir dan membangun kesadaran agar kita lebih kritis terhadap kondisi daerah serta mendorong lahirnya gerakan intelektual,” katanya.
Sementara itu, Hardianda menegaskan pembahasan mengenai paradoks energi harus dibangun di atas data empiris, bukan sekadar asumsi maupun opini.
Dia mengatakan kajian mengenai sumber daya alam perlu melihat secara utuh kondisi ekspor, impor, kapasitas produksi, hingga kebutuhan energi masyarakat agar akar persoalan dapat dipetakan secara objektif.
“Kalau berbicara sumber daya alam, maka kita harus melihat data riil. Berapa ekspor dan impornya, bagaimana kebutuhan energi daerah, di mana letak kekurangannya, dan isu apa yang perlu kita bangun bersama,” jelasnya
Selain itu, hasil diskusi tidak boleh berhenti sebagai forum akademik semata. Ia mendorong mahasiswa mengawal isu pengelolaan SDA melalui karya ilmiah, tulisan di media, hingga aksi nyata yang berpijak pada data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting menghadirkan kajian berbasis data sekaligus mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.
“Isu energi ini harus terus dikawal dengan basis data dan kajian yang kuat,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












