Search

Karbala dan Makna Taklif: Belajar Menjalankan Tugas Ilahi dari Keteguhan Imam Husein

Ustadz Muhammad Ridho Al Habsyi saat menjadi penceramah di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar. (Berita Alternatif/Sayyid Ali Hadi Assegaff)

Oleh: Ustadz Muhammad Ridho Al Habsyi*

Kita menyampaikan rasa syukur kita atas satu nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, yaitu sebuah kesempatan yang begitu besar sehingga kita dapat bertemu kembali dengan bulan yang penuh duka bagi Rasulullah dan Ahlulbaitnya. Bulan yang mengingatkan kita pada tragedi besar yang menimpa Sayyidina Husein bin Ali.

Pada kesempatan ini saya akan membacakan salah satu ayat dalam Surah An-Nisa ayat 66–68.

Bismillahirrahmanirrahim. “Walau anna katabna ‘alaihim aniqtulu anfusakum awikhruju min diyarikum ma fa’aluhu illa qalilun minhum. Walau annahum fa’alu ma yu’azuna bihi lakana khairan lahum wa asyadda tatsbita. Wa idzan la atainahum min ladunna ajran ‘azhima. Wa lahadainahum shirathan mustaqima.”

Dalam ayat ini Allah berfirman: “Dan sekiranya Kami perintahkan kepada mereka, bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman) mereka. Dan jika demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.”

Secara ringkas, ayat ini ingin menegaskan kepada kita bahwa segala sesuatu yang disampaikan oleh para nabi, para rasul, dan para imam maksum merupakan bagian dari apa yang sering kita dengar sebagai taklif.

Taklif adalah sebuah tugas atau tanggung jawab yang secara akal dan logika harus kita laksanakan. Perintah-perintah tersebut merupakan amanah yang Allah berikan melalui lisan para nabi dan rasul serta dijelaskan oleh para imam maksum.

Semakin banyak seseorang melaksanakan taklif dan tugas-tugas yang Allah berikan, maka ada beberapa hal yang akan ia dapatkan.

Pertama, ia akan mendapatkan jalan menuju kesempurnaan, bahkan akan mencapai kesempurnaan itu sendiri.

Kedua, ia akan memiliki basirah, yaitu kepekaan dan ketajaman dalam melihat, memahami, serta menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Ketiga, keimanannya akan semakin kuat. Langkah-langkahnya dalam menegakkan keadilan dan kebenaran juga akan semakin kokoh.

Dan di sinilah Allah menjanjikan bahwa Dia akan memberikan petunjuk kepada mereka yang menjalankan tugas-tugas tersebut.

Ayat ini menegaskan kepada kita tentang pentingnya memahami masalah taklif.

Jika kita kembali melihat peristiwa Karbala, secara garis besar seluruh yang dilakukan oleh Abi Abdillah Al-Husein tidak lain adalah menjalankan tugas. Imam Husein tidak pernah berpikir tentang hasil akhir, apakah beliau akan menang atau kalah.

Imam Husein tidak melihat pada hasil. Karena bagi beliau, yang terpenting adalah menjalankan kewajiban.

Beliau mengatakan bahwa jika akhirnya syahid ataupun mendapatkan kemenangan, perjuangan ini tetap harus dilakukan. Imam Husein hanya ingin melaksanakan tugasnya.

Bagi Imam Husein, tugas tersebut merupakan sebuah kewajiban. Namun ketika beliau mengajak rombongan dan para pengikutnya untuk mengikuti jalan perjuangan beliau, di sini diperlukan kesadaran dari umat pada masa itu.

Jika seseorang mengenal dirinya, maka ia akan mengetahui tugas apa yang harus ia lakukan. Karena itu, mereka yang benar-benar mengenal dirinya akan memahami dan mengikuti Imam Husein.

Jika kita melihat konsep taklif, maka perintah-perintah Allah terbagi menjadi dua. Ada yang mudah dan ada yang sulit. Tingkat kesulitannya pun berbeda-beda.

Contohnya, Allah memerintahkan kita untuk beristighfar ketika melakukan dosa. Ini adalah sesuatu yang mudah. Kita tidak perlu mengorbankan nyawa atau harta. Kita hanya duduk dan memohon ampun kepada Allah.

Namun tingkat yang lebih tinggi adalah ketika istighfar tersebut dilakukan dengan kesungguhan hati, penuh kesadaran, dan benar-benar menunjukkan penyesalan kepada Allah.

Semakin tinggi tingkat kesungguhan seseorang, maka semakin besar pula nilai amal tersebut.

Begitu juga dengan taklif yang lain. Ada perintah yang wajib, seperti melaksanakan salat. Namun ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu menjaga salat tepat pada waktunya. Ini merupakan sesuatu yang tidak mudah, tetapi menjadi bagian dari kesempurnaan seorang hamba.

Kemudian ada salat malam atau tahajud. Ini bukan kewajiban, tetapi merupakan amalan yang dapat meningkatkan derajat manusia.

Semakin sulit sebuah taklif yang dilakukan seseorang, maka semakin besar pula pahala dan jalan menuju kesempurnaan yang ia dapatkan.

Kita dapat melihat bahwa ujian para maksum dan para sahabat setia mereka sangatlah berat. Mereka menghadapi kesulitan yang luar biasa.

Tingkat yang paling tinggi adalah ketika seseorang harus mengorbankan nyawa, waktu, dan hartanya di jalan Allah. Dan ini bukan sesuatu yang mudah. Ini membutuhkan kesungguhan, keteguhan, dan pengorbanan yang besar.

Melaksanakan taklif dengan maksimal berarti kita berusaha sebaik mungkin dengan kemampuan yang kita miliki untuk menjalankan segala sesuatu yang menjadi tugas kita sesuai dengan kemampuan tersebut.

Kemudian kita melihat mana yang lebih penting untuk dilakukan terlebih dahulu. Misalnya, kita memiliki kewajiban salat wajib dan juga ingin melakukan salat sunnah. Maka yang harus kita dahulukan adalah salat wajib. Kewajiban-kewajiban yang wajib harus lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunnah.

Bukan berarti kita tidak boleh melakukan amalan sunnah di samping menjalankan kewajiban. Bukan seperti itu. Akan tetapi, yang wajib harus menjadi prioritas utama.

Kemudian, jika kita melihat peristiwa Karbala, kita dapat mengambil ucapan Imam Khomeini. Beliau mengatakan bahwa revolusi kami mendapatkan pelajaran dari Asyura dan Arbain.

Di sini Imam Khomeini menjelaskan bahwa ketika beliau memulai revolusi, yang beliau lakukan adalah menjalankan taklif. Beliau hanya menjalankan tugas. Beliau tidak berpikir tentang hasil akhir.

Bukan berarti ketika kita memiliki sebuah program kita tidak memikirkan hasil. Tetap harus ada perencanaan, perkiraan, strategi, dan usaha. Semua itu harus dilakukan. Namun hasil akhirnya bukan berada di tangan kita.

Jika seseorang hanya melihat hasil, maka seakan-akan seluruh perjuangan para nabi, para rasul, dan para maksum—kecuali Rasulullah saw dan Imam Mahdi as—adalah sebuah kegagalan, karena mereka tidak semuanya berhasil mendirikan pemerintahan Islam secara sempurna.

Padahal para nabi dan rasul tidak diutus hanya untuk mendapatkan kemenangan duniawi, tetapi untuk menjalankan tugas yang Allah berikan kepada mereka.

Mereka semua melaksanakan perintah Allah. Ujian mereka berbeda-beda.

Kita melihat Nabi Ibrahim as dengan berbagai ujian yang sangat berat. Kita juga melihat kisah Nabi Nuh as. Allah Swt berfirman: “Fastajabna lahu fanajjainahu wa ahlahu minal karbil ‘azhim.”

Artinya: “Maka Kami memperkenankan doanya, lalu Kami menyelamatkannya bersama keluarganya dari bencana yang besar.”

Dalam kisah Nabi Nuh as, Allah menggunakan istilah karb, yaitu kesulitan atau musibah besar yang menimpa.

Sedangkan dalam kisah Nabi Ibrahim as, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as, Allah berfirman: “Inna hadza lahuwa al-bala’ul mubin.”

Artinya: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.”

Di sini Allah menggunakan istilah bala, yaitu ujian yang sangat jelas.

Ketika kita kembali kepada peristiwa Karbala, saat Imam Husein as sampai di Karbala, beliau bertanya kepada orang-orang di sana: “Apa nama tempat ini?”

Satu per satu mereka menjawab. Ketika Imam Husein mendengar bahwa tempat itu bernama Karbala, beliau berdoa: “Allahumma inni a’udzu bika minal karbi wal bala.”

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari karb dan bala.”

Imam Husein memahami bahwa di tempat itu beliau akan menghadapi dua hal sekaligus: karb, yaitu penderitaan yang sangat besar, dan bala, yaitu ujian yang sangat berat.

Nabi Nuh menghadapi satu bentuk ujian. Nabi Ibrahim juga menghadapi satu bentuk ujian besar. Tetapi Imam Husein menghadapi keduanya sekaligus.

Karena itu, tugas yang dijalankan oleh Imam Husein dan pengorbanan yang beliau berikan mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.

Begitu pula para Ahlulbait dan para maksum lainnya memiliki kedudukan masing-masing.

Imam Husein mendapatkan keutamaan khusus karena beliau menjalankan taklifnya dengan penuh kerelaan, kecintaan, dan ketundukan kepada Allah Swt. Beliau menerima tugas tersebut dengan hati yang lapang.

Karena itulah Imam Husein memperoleh kesempurnaan dan kedudukan yang tidak didapatkan oleh yang lain.

Kemudian kita sering mendengar ungkapan tentang Imam Husein: “Innal Husaina mishbahul huda wa safinatu an-najah.”

“Sesungguhnya Husein adalah lentera petunjuk dan bahtera keselamatan.”

Jika kita melihat kisah Nabi Nuh as, Allah menyelamatkan beliau melalui sebuah bahtera. Ada perahu sebagai alat keselamatan dan ada manusia yang diselamatkan.

Namun dalam kisah Imam Husein, manusia itu sendiri menjadi bahtera keselamatan. Karena itu dikatakan bahwa bahtera Imam Husein lebih luas dan lebih cepat membawa manusia menuju keselamatan.

Salah satu kesempatan yang Allah berikan kepada kita adalah bulan Muharram, khususnya sepuluh hari pertama dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Kesempatan ini menjadi waktu untuk mengenal, mengambil pelajaran, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui peristiwa Asyura.

Sampai sekarang, sejak Revolusi Islam Iran hingga hari ini, kita dapat melihat hasilnya. Kita bisa melihat bagaimana keimanan, keteguhan, dan kekokohan masyarakat Iran dalam mempertahankan serta membela kebenaran dan keadilan.

Kita dapat melihat hasil dari majelis-majelis Asyura dan Arbain. Pertemuan-pertemuan spiritual yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sederhana, ternyata memiliki dampak yang luar biasa.

Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa apabila bulan Muharram dan Safar telah berlalu, kemudian kita tidak mengalami perubahan apa pun dalam diri kita, maka bisa jadi kita hanya mendapatkan air mata, kesedihan, dan cerita tentang tragedi Karbala. Padahal tujuan utama dari Karbala adalah mengambil ibrah, yaitu pelajaran.

Jika selama kita menghadiri majelis-majelis Asyura, tetapi tidak ada perubahan dalam diri kita, maka berarti pemahaman kita terhadap peristiwa Karbala belum benar-benar sempurna. Bahkan bisa jadi kita belum memahami hakikat pesan Karbala. Karena Karbala bukan hanya untuk ditangisi, tetapi untuk menjadi jalan perubahan bagi manusia.

Ketika seseorang menjalankan tugas dan taklif yang diberikan Allah, maka pertolongan Allah akan datang. Namun terkadang manusia hanya melihat dengan perhitungan duniawi.

Hal ini juga dibuktikan dalam sejarah. Ada sebuah ungkapan bahwa jika musuh-musuh mengatakan dua tambah dua adalah empat, maka dengan pertolongan Allah hasilnya bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Secara logika manusia, dua tambah dua adalah empat. Tetapi ketika pertolongan Allah hadir, sesuatu yang di luar perhitungan manusia bisa terjadi.

Karena itu, dalam menjalankan taklif, apapun bentuk tugas yang Allah berikan, kita harus berusaha melaksanakannya dengan kemampuan terbaik.

Namun ada satu hal penting: dalam menjalankan taklif, kita tetap harus memperhatikan aturan dan batasan yang Allah tetapkan.

Jangan sampai seseorang merasa sedang menjalankan tugas agama, tetapi pada saat yang sama ia melanggar perintah Allah.

Karena jika demikian, sesuatu yang seharusnya menjadi kebaikan justru bisa berubah menjadi kesalahan.

Mengapa? Karena di sini muncul yang disebut dalam istilah akhlak sebagai ‘ujub atau merasa diri benar dan merasa usaha dirinya cukup tanpa memperhatikan kehendak Allah. Pada akhirnya hal itu bisa membuat seseorang menjauh dari nilai penghambaan kepada Allah Swt.

Kita tidak boleh berada pada kondisi di mana satu sisi kita melakukan ibadah, tetapi di sisi lain kita melanggar aturan Allah.

Manusia semuanya menjalankan taklif, karena hidup ini adalah ujian yang kita hadapi. Setiap kita pasti memiliki ujian masing-masing.

Terkadang ujian itu datang dalam bentuk kesulitan, keterbatasan waktu, kondisi yang berat, bahkan dalam keadaan sakit pun seseorang tetap harus menjalankan tugasnya.

Inilah yang dimaksud dengan keseriusan dalam menjalankan tugas. Karena yang terpenting adalah kita melaksanakan tugas yang Allah berikan.

Di sisi Allah, ketika seseorang telah berusaha menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh, maka ia telah mendapatkan keberhasilan. Sebagaimana para nabi dan hamba-hamba Allah yang saleh, ketika ajal mereka tiba, mereka telah menyelesaikan amanah yang diberikan kepada mereka.

Di sinilah perbedaan antara orang yang menjalankan tugasnya secara maksimal dengan orang yang meremehkan tugasnya.

Jika kita melihat orang-orang yang mengambil pelajaran dari para hamba Allah dan para nabi, maka pasti akan mendapatkan nilai-nilai positif, baik dari sisi kepribadian maupun dari sisi hubungan sosial dengan masyarakat.

Mungkin dalam waktu dekat kita belum merasakan hasilnya. Tetapi bisa jadi dampaknya terlihat dalam jangka panjang.

Karena sejarah itu terus berkesinambungan. Sejak zaman Nabi Adam as, perjalanan manusia merupakan sebuah mata rantai yang akan terus berlangsung sampai hari kiamat.

Artinya, kehidupan kita hari ini juga akan menjadi bagian dari catatan sejarah. Apa pun yang kita lakukan akan tercatat.

Walaupun seseorang bukan orang besar atau tidak dikenal oleh manusia, bisa jadi ia dikenal di sisi Allah.

Sebagaimana ungkapan para ulama: seseorang bisa saja tidak terkenal di bumi, tetapi dikenal oleh para penghuni langit karena amal dan ketulusannya.

Karena itu, apabila kita tidak menjalankan taklif, meremehkan tugas, atau meninggalkan tanggung jawab yang diberikan Allah, maka secara sadar atau tidak sadar kita dapat menjadi penghalang bagi jalan kebenaran.

Contohnya seperti seorang karyawan dalam sebuah perusahaan. Jika seorang karyawan tidak bekerja, tidak mengikuti aturan, dan hal itu dibiarkan, maka lama-kelamaan akan memengaruhi karyawan lainnya dan merusak sistem perusahaan tersebut.

Karena itu, salah satu pelajaran mendasar dari Imam Husein as adalah bagaimana manusia menjalankan taklif dan tugasnya. Jika kita melihat kebangkitan Imam Husein as, semuanya adalah bentuk menjalankan tugas.

Menjaga agama Islam, menjaga ajaran kakeknya Rasulullah saw, dan menegakkan kembali sunnah Rasulullah saw adalah bagian dari tanggung jawab beliau.

Imam Husein tidak bangkit karena kepentingan pribadi, tetapi karena menjalankan amanah dari Allah.

Karena itu Imam Husein mengatakan: “Orang seperti aku tidak akan berbaiat kepada orang seperti Yazid.”

Ini adalah pelajaran besar bahwa seseorang yang memiliki prinsip seperti Imam Husein tidak mungkin tunduk kepada kezaliman dan penyimpangan seperti yang dilakukan oleh Yazid.

Karena itu, Karbala bukan hanya peristiwa yang terbatas pada satu zaman tertentu. Karbala selalu hidup. Pesan Asyura akan terus ada dan semakin dikenal dari masa ke masa.

Namun semakin besar penyebaran nilai-nilai Karbala, semakin besar pula ujian yang akan kita hadapi.

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa semakin dekat kemunculan Imam Mahdi as, semakin berat pula ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang mempertahankan kebenaran. Seolah-olah memegang kebenaran seperti memegang bara api di tangan.

Ujian itu bentuknya bermacam-macam, dan setiap manusia akan menghadapi ujiannya masing-masing.

Jika kita mampu mengamalkan pesan dalam Surah Al-‘Ashr: “Wa tawashau bil haqq, wa tawashau bis shabr” (saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran), maka kita memahami bahwa perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian.

Kita membutuhkan komunitas. Karena tanpa kebersamaan, tidak akan ada proses saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Komunitas yang baik harus dijaga. Ketika komunitas tersebut menjaga nilai-nilai kebenaran dan kesabaran, maka janji Allah pasti akan datang. Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. (*Disampaikan dalam peringatan malam-malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada 20 Juni 2026)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA