Search

Madrasah Karbala: Memahami Pesan Imam Husein, Perjuangan, Pengorbanan, dan Warisan Spiritual Asyura

Ustadz Muhammad Ridho Al-Habsyi saat menjadi penceramah di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar. (Berita Alternatif/Sayyid Ali Hadi Assegaff)

Oleh: Ustadz Muhammad Ridho Al-Habsyi*

Alhamdulillah, pada kesempatan ini Allah Swt telah memberikan taufik-Nya sehingga kita dapat melanjutkan kajian kita untuk mengenal, memahami, dan menghidupkan kembali pesan-pesan dari peristiwa Asyura; sebuah tragedi yang terjadi di Karbala.

Kehadiran kita di majelis ini, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlubait, merupakan sesuatu yang sangat diagungkan. Tidak hanya bagi umat Rasulullah Saw dan para imam, tetapi juga bagi para nabi sebelum Rasulullah Saw. Mereka juga memuliakan majelis mengenang musibah Imam Husein as.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang pahala, insyaallah jika kita melakukannya dengan niat ikhlas dan hati yang tulus, Ahlubait akan membalas kebaikan kita. Sebab disebutkan bahwa Ahlubait tidak akan membiarkan seseorang yang berbuat baik kepada mereka tanpa balasan. Inilah sifat Ahlubait; siapa pun yang berbuat baik kepada mereka, mereka akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik.

Ada sebuah kisah tentang seorang wanita. Selama sepuluh tahun, setiap menjelang matahari terbenam, wanita ini naik ke atas rumahnya. Setelah berada di atas atap, ia menghadap ke arah barat dan memberikan salam kepada Imam Husein setiap hari sebelum matahari terbenam.

Setelah sepuluh tahun berlalu, wanita tersebut semakin tua. Ia mulai kesulitan menaiki tangga hingga harus berpegangan pada kayu yang berada di samping tangga. Ia naik perlahan-lahan karena usianya yang semakin lanjut.

Kemudian datang seorang tetangga yang dikenal sebagai orang baik dan memiliki hati yang ikhlas. Ia bukan seorang ulama, tetapi orang yang saleh. Suatu ketika ia bertanya tentang rumah seorang perempuan tua tersebut.

Tetangganya itu kemudian bercerita:

“Beberapa waktu lalu saya bermimpi bertemu dengan Imam Husein. Imam Husein berkata kepada saya: Wahai fulan, sampaikan kepada perempuan itu bahwa salam yang selama ini ia kirimkan kepadaku telah sampai kepadaku, dan aku telah menjawab salamnya. Tidak perlu lagi ia bersusah payah naik ke atas tangga. Cukup dari halaman rumah saja, aku akan menjawab salamnya.”

Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Ahlubait.

Maka dari sini kita memahami, jika kita melihat peristiwa Karbala hanya sebagai sesuatu untuk mengenang tragedi Imam Husein, hanya untuk menangis, dan hanya untuk menghidupkan majelis, maka itu belum cukup.

Imam Husein mengajarkan bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah hanya mereka yang melakukan kejahatan di Karbala, karena mereka telah berlalu. Mereka sudah tidak ada.

Bukan pula hanya mereka yang melarang para pecinta Husein untuk berziarah ke makam Imam Husein, seperti yang terjadi pada masa tertentu ketika makam Karbala dihancurkan dan orang-orang dilarang berziarah.

Namun musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang membatasi tujuan kebangkitan Ahlubait hanya sebatas tangisan dan majelis saja.

Ketika tujuan kebangkitan Ahlubait dibatasi hanya pada menangis dan berkumpul, maka hal itu menjadi masalah besar. Mengapa? Karena mereka menghalangi pesan Ahlubait untuk sampai kepada umat manusia.

Kita memahami bahwa dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Imam Husein adalah Al-Qur’an yang berjalan. Karena itu, perjuangan dan pengorbanan Imam Husein harus memiliki hubungan dengan pesan Al-Qur’an itu sendiri.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat Rasulullah Saw hingga hari kiamat. Maka perjuangan dan pengorbanan Imam Husein juga memiliki pesan yang harus tetap hidup sampai hari kiamat.

Karena itu, ketika Imam Husein mengatakan bahwa orang seperti beliau tidak akan tunduk kepada orang seperti Yazid, maka pesan tersebut berlaku sepanjang zaman.

Pengorbanan Imam Husein akan tetap hidup selama dunia masih ada hingga hari kiamat.

Pertama, ketika kita mengucapkan belasungkawa atas musibah Imam Husein, kita memohon kepada Allah agar diberikan pahala. Pahala yang kita harapkan adalah keselamatan dan keberkahan.

Sebab setiap bulan Muharam tiba, ucapan belasungkawa atas musibah Imam Husein terus dihidupkan dan disampaikan dari generasi ke generasi hingga hari kiamat.

Namun yang lebih penting adalah yang kedua: kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan darah Imam Husein, yaitu orang-orang yang mengambil pelajaran dari pengorbanannya.

Inilah makna dari pesan Imam Husein yang terus hidup hingga hari kiamat.

Intinya, ketika kita mengambil pesan dari Imam Husein, hal yang paling penting adalah memohon kepada Allah agar kita termasuk golongan yang bersama dengan kebenaran yang diperjuangkan oleh Imam Husein. Karena itu, mau tidak mau kita harus selalu berusaha untuk bersama Imam Husein.

Jika kita tidak berusaha berjalan bersama nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husein, maka sulit bagi kita untuk termasuk orang-orang yang beruntung bersama Imam Mahdi Al-Muntazhar.

Oleh karena itu, harus ada keserasian antara kita yang hidup pada masa sekarang dengan para sahabat Imam Husein yang berdiri bersama beliau.

Jika tidak ada kesamaan jalan dan nilai, maka bagaimana mungkin kita dapat bersama mereka?

Sunnah Allah tidak mungkin berubah dan tidak mungkin terjadi pergantian dalam ketetapan-Nya. Sunnah Allah akan selalu tetap berlaku.

Kemudian, selain itu, dari sisi ibadah dan pemahaman yang lainnya, kita melihat bahwa apabila kita membatasi perjuangan Imam Husein hanya pada tangisan dan majelis duka saja, maka pemahaman kita menjadi tidak sempurna.

Seolah-olah tujuan dari perjuangan Imam Husein hanya untuk membuat umat Rasulullah Saw menangis. Padahal jika kita memahami Asyura hanya sebatas menangis dan menghadiri majelis, tanpa ada upaya untuk melakukan perubahan, maka kita tidak akan berusaha memperbaiki diri kita.

Padahal pesan penting dari Asyura adalah bagaimana kita melakukan perubahan, pertama-tama pada diri kita sendiri. Setelah itu, bagaimana kita melakukan perubahan di tengah masyarakat.

Jika kita tidak berusaha memperbaiki diri, maka kita juga tidak akan mampu memperbaiki lingkungan dan komunitas kita.

Kemudian yang ketiga, tujuan lain dari perjuangan Imam Husein adalah jika kita melihat para sahabat Imam Husein, semuanya menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.

Mereka menjalankan perintah dan amanah yang diberikan kepada mereka.

Tugas mereka pada saat itu adalah menjaga agama dan kebenaran yang dibawa Rasulullah Saw. Karena itu, tugas kita hari ini juga adalah bagaimana menjaga amanah tersebut.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan menyampaikan ajaran dan pesan-pesan Karbala serta pesan para Imam dengan cara yang baik dan benar.

Pertama, menjaga agama dan memberikan petunjuk kepada umat. Kemudian menegakkan keadilan. Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga kehormatan manusia. Menjaga kehormatan berarti menjaga harga diri dan kemuliaan manusia.

Kita yakin bahwa selama seseorang tidak berpegang kepada Al-Qur’an dan Allah Swt, maka kemuliaan sejati tidak akan diperoleh. Sebab kemuliaan hanya milik Allah.

Karena itu, selama kita menganggap bahwa kemuliaan hanya bisa didapatkan melalui dunia dan kedudukan duniawi, maka kita masih memiliki masalah dalam memahami hakikat kemuliaan.

Yang harus kita jaga adalah jangan sampai kita menjadi hina. Karena ketika manusia kehilangan kemuliaannya, maka ia akan mudah meninggalkan kebenaran.

Selanjutnya, pesan Imam Husein adalah menjaga ajaran Islam itu sendiri.

Perjuangan dan pengorbanan Imam Husein menjadi salah satu sebab terjaganya agama Islam. Dari masa Imam Husein hingga hari kiamat, Islam akan terus terjaga.

Pertanyaannya, siapa yang menjaga Islam? Islam tetap terjaga karena Imam Husein telah berkorban. Namun bagaimana agar pesan Islam terus diwariskan dari generasi ke generasi?

Jawabannya adalah kita. Kita adalah generasi yang membawa pesan Karbala. Kita adalah penerus yang bertugas menjaga nilai-nilai yang diwariskan melalui peristiwa Karbala.

Kemudian pesan terakhir adalah melawan kezaliman dan membela orang-orang yang tertindas. Inilah yang harus terus ditegakkan.

Karena itu, kita melihat bagaimana Imam Khomeini menjadikan tujuan revolusi sebagai upaya menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman.

Salah satu tujuan revolusi tersebut adalah bagaimana membela orang-orang yang tertindas, termasuk bangsa Palestina.

Imam Khomeini meyakini bahwa ketika kezaliman dapat dilawan dan keadilan ditegakkan, maka pembebasan Palestina akan menjadi lebih mudah.

Namun perjuangan Imam Khomeini juga menghadapi banyak penolakan. Banyak orang yang tidak setuju dengan langkah revolusi tersebut.

Jawaban Imam Khomeini adalah bahwa ini adalah tanggung jawab dan tugasnya. Ia harus menjalankan kewajibannya.

Ketika sebagian ulama dan tokoh pada masa itu mempertanyakan langkah tersebut, Imam Khomeini tetap menjelaskan bahwa perjuangan melawan kezaliman adalah kewajiban.

Karena itu, revolusi tersebut berhasil. Bukan hanya dalam menghadapi perang, tetapi juga ketika menghadapi tekanan dan berbagai blokade dari dunia luar. Namun tekanan tersebut justru membuat masyarakat Iran semakin kuat dan semakin bersatu.

Ketika masyarakat melihat kepemimpinan yang mereka ikuti menghadapi tekanan dan ujian, mereka tetap bertahan karena memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab.

Mereka menyadari bahwa mereka adalah hamba Allah yang memiliki tugas untuk menjalankan kewajiban.

Mereka bukan hanya menunggu keadaan berubah, tetapi memahami bahwa mereka memiliki peran dalam perjuangan.

Inilah pelajaran dari Karbala: manusia harus menyadari tanggung jawabnya, menjaga kebenaran, dan berusaha menjadi bagian dari perubahan.

Karena itu, apa yang disampaikan dalam pesan Asyura adalah bahwa musuh terbesar bukan hanya mereka yang menentang Imam Husein secara langsung, tetapi mereka yang membatasi makna Karbala hanya sebatas menangisi Imam Husein, melakukan azadari, atau memukul-mukul dada tanpa memahami pesan yang lebih luas.

Mereka menjadi berbahaya karena mereka menghalangi pesan-pesan Karbala sampai kepada umat.

Bahkan orang-orang seperti ini bisa saja tanpa sadar menjadi penghambat perjuangan dan nilai-nilai yang dibawa oleh Imam Husein.

Karena itu, jika kita ingin selalu bersama barisan kebenaran, bersama golongan Imam Husein dan para sahabatnya di masa sekarang, maka kita harus belajar dari mereka.

Kita harus memahami tugas mereka, tanggung jawab mereka, dan nilai-nilai positif apa saja yang ada dalam diri para sahabat Imam Husein.

Apa yang harus kita pelajari? Kesadaran mereka, tujuan mereka, pengorbanan mereka, dan perjuangan mereka.

Tujuan mereka bukan kepentingan duniawi, bukan mencari kedudukan, tetapi semata-mata lillahi ta‘ala dan taat kepada Imam zaman mereka.

Oleh sebab itu, ibadah mereka pun dijaga. Perjuangan mereka tidak terpisahkan dari kedekatan kepada Allah Swt.

Dalam perjalanan perjuangan, ketika kita berbicara tentang pesan para nabi, para wali, dan para pembimbing umat, bukan berarti seseorang tidak melakukan persiapan terlebih dahulu.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Imam Husein sebelum meninggalkan Madinah sudah melakukan persiapan. Beliau melihat kondisi politik dan sosial saat itu, memahami siapa yang akan dihadapi, dan mengetahui situasi yang ada.

Imam Husein memiliki gambaran tentang kekuatan lawan dan kondisi yang akan dihadapi. Namun kemudian Allah Swt menetapkan perjalanan Imam Husein menuju Karbala.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Imam Husein memahami konsekuensi perjalanannya, termasuk bahwa keluarganya akan menjadi tawanan.

Namun beliau tetap melanjutkan perjalanan menuju Karbala bersama sekitar 72 atau 73 orang sahabatnya.

Karena jumlah pasukan yang sangat sedikit dibandingkan musuh, Imam Husein mengubah strategi. Dari sisi kuantitas, beliau tidak mungkin menang, maka beliau menekankan kualitas.

Para sahabat Imam Husein dibentuk menjadi manusia-manusia yang memiliki kualitas iman, keberanian, dan kesetiaan. Inilah strategi Imam Husein.

Ketika sampai di Karbala, Imam Husein mengatur posisi pasukan dan tenda-tenda keluarganya. Beliau juga memperhatikan keselamatan keluarga, termasuk Sayyidah Zainab.

Ketika para wanita melihat musuh datang dan pertempuran semakin dekat, mereka memahami keadaan yang akan terjadi. Kemudian para sahabat Imam Husein maju satu per satu.

Namun yang luar biasa adalah kesadaran mereka. Setiap sahabat yang ingin maju ke medan perang terlebih dahulu meminta izin kepada Imam Husein.

Mereka datang kepada Imam Husein dan berkata bahwa mereka siap berkorban. Kemudian mereka maju satu per satu.

Inilah strategi Imam Husein: ketika jumlah sedikit, maka kualitas manusia harus diperkuat. Karena sekitar 70 orang menghadapi puluhan ribu pasukan musuh.

Pada saat itu, sebagian masyarakat juga telah dipengaruhi oleh propaganda yang menuduh Imam Husein telah keluar dari agama. Kelompok Khawarij dan pihak-pihak yang membenci Ahlubait menyebarkan tuduhan tersebut. Akibatnya, banyak orang tidak mau bergabung bersama Imam Husein. Padahal jumlah pasukan yang berada di pihak lawan mencapai puluhan ribu.

Namun para sahabat Imam Husein tetap bertahan. Mereka berkata bahwa mereka akan bersabar menghadapi segala ujian dan bencana yang mereka hadapi. Mereka mengetahui siapa diri mereka dan apa tujuan mereka.

Selain kesetiaan, para sahabat Imam Husein juga menjaga nilai-nilai spiritual. Mereka tetap melaksanakan salat meskipun dalam kondisi perang. Bahkan ketika panah-panah diarahkan kepada mereka, mereka tetap menjaga ibadah.

Mereka membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, dan memperkuat hubungan kepada Allah. Bahkan dalam keadaan genting, mereka membacakan syair-syair yang mengandung nilai spiritual, keberanian, dan keteguhan dalam mengikuti Imam zaman mereka. Itulah nilai-nilai yang ada pada para sahabat Imam Husein.

Mereka berkorban bukan sekadar untuk sebuah pertempuran, tetapi untuk menjaga agama. Para sahabat Imam Husein memahami bahwa perjuangan beliau adalah untuk menjaga agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan kakeknya. Karena itu, tujuan mereka adalah menjaga agama.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Imam Khomeini, jika seseorang dihadapkan pada pilihan antara menjaga kepentingan pribadi atau menjaga perjuangan Islam, maka yang harus dipilih adalah menjaga Islam. Sebab perjuangan yang benar adalah perjuangan yang menjaga nilai-nilai agama.

Revolusi Islam juga dipahami sebagai upaya menjaga ajaran Islam yang hakiki. Karena itu, nilai-nilai perjuangan harus terus dijaga agar tetap sesuai dengan ajaran Islam.

Dan terakhir, salah satu pesan penting dari peristiwa Karbala adalah tentang warisan spiritual.

Kita ingat bahwa ada salah satu ziarah yang dikenal sebagai Ziarah Warits. Ziarah ini berkaitan dengan warisan agama yang kita terima dari para nabi dan para wali. Para pewaris ini adalah orang-orang yang meneruskan warisan para nabi, para ulama, dan orang-orang saleh.

Ketika kita membaca Ziarah Warits, mengapa disebut demikian? Karena kata warits berarti pewaris. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah perbedaan antara warisan yang bersifat materi dan warisan yang bersifat spiritual.

Kalau warisan materi, sebagaimana yang kita ketahui, seseorang biasanya baru menerima warisan setelah pemilik harta meninggal dunia. Anak-anak atau ahli waris harus menunggu orang tuanya wafat terlebih dahulu.

Namun berbeda dengan warisan spiritual. Dalam Ziarah Warits, kapan pun kita membacanya, kita berusaha mengambil warisan dari Ahlubait dan para nabi, termasuk warisan dari Imam Husein.

Warisan tersebut bukan berupa harta, tetapi berupa nilai-nilai: kemuliaan, keadilan, keberanian, kesabaran, dan sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Imam Husein.

Akan tetapi, untuk mendapatkan warisan tersebut, kita harus mempersiapkan diri. Kita harus memperbaiki diri terlebih dahulu. Karena selama kita tidak berusaha membersihkan diri, maka sulit bagi kita untuk menerima warisan spiritual dari Imam Husein dan Ahlubait.

Bagaimana cara membersihkan diri? Yaitu dengan melawan hawa nafsu dan mengendalikan keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Sebagaimana ungkapan yang sering disampaikan: “Matilah kalian sebelum kalian mati.” Maksudnya bukan kematian fisik, tetapi mematikan ego, mengendalikan hawa nafsu, dan melawan kecenderungan buruk dalam diri. Khususnya keinginan-keinginan duniawi yang berlebihan.

Bukan berarti kita tidak boleh mencari rezeki, bekerja, atau memiliki kehidupan dunia. Tetapi semua itu harus diarahkan untuk tujuan yang benar, untuk mendukung perjuangan kebaikan dan nilai-nilai yang dibawa oleh Imam Husein. Karena kecintaan kepada Imam Husein harus membawa perubahan dalam diri kita.

Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: ketika kita menghadiri majelis ini, apa tujuan kita? Apakah hanya untuk mendapatkan suasana majelis?
Apakah hanya untuk mengikuti tradisi?
Ataukah benar-benar untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah?

Kecintaan yang benar kepada Imam Husein akan membentuk sikap kita ketika menghadapi ujian. Ketika kita diuji, di situlah terlihat sejauh mana kecintaan dan kesetiaan kita.

Misalnya ketika kita dihadapkan antara kepentingan pribadi, keluarga, atau dunia dengan nilai perjuangan Imam Husein, di situlah kita dapat menilai diri kita sendiri.

Sebelum menghadapi ujian nyata, kita harus melakukan persiapan. Persiapan itu adalah memperkuat hubungan dengan Allah, memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, dan menjaga hubungan hati dengan Ahlubait.

Yang terpenting adalah hubungan batin kita dengan para wali Allah dan para pewaris agama harus terus dijaga.

Karena itu, paling tidak kita diberi kesempatan untuk menghadiri majelis seperti ini, khususnya malam Rabu dan malam Jumat. Jika kita rutin menghadirinya, insyaallah kita akan mendapatkan manfaat dan keberkahan.

Namun jangan sampai niat kita hanya sekadar hadir untuk meramaikan majelis. Jangan sampai kita datang hanya sebagai kegiatan seremonial.

Ketika keluar rumah menuju majelis, niatkanlah bahwa kita hadir untuk belajar, mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab semuanya kembali kepada niat masing-masing. (*Disampaikan dalam peringatan malam duka tragedi Karbala di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA