Oleh: Ustadz Ali Hadi Assegaff*
Pada majelis-majelis Huseini yang lalu, kita seringkali membahas tentang ucapan dan kalimat-kalimat Imam Husein as sejak dari Makkah hingga Karbala. Kita membahas hal-hal tersebut untuk memahami kebangkitan Asyura, karena bagaimanapun juga, jika seseorang ingin mengenal siapa pun, ia akan mengenalnya melalui ucapannya. Sebagai contoh, bagaimana kita mengenal Allah? Amirul Mukminin (Imam Ali) dalam Nahjul Balaghah-nya menyatakan bahwa Allah telah bertajali (menampakkan diri) di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya; Anda mengenal Allah lewat kalam-Nya.
Begitu pula dengan kebangkitan Imam Husein. Jalan terbaik untuk mengenalnya adalah melalui ucapan dan kalimat-kalimat beliau di sepanjang perjalanan ini dan selama hari-hari Muharam di Karbala. Beliau menyampaikan banyak sekali wejangan. Beliau sangat mendalam dalam memberikan wejangan dan nasihat, tidak menyisakan kekurangan sedikit pun; beliau mengerahkan segala kemampuan untuk memberi petunjuk dan nasihat.
Pada hari kedua Muharam, ketika beliau tiba di tanah Karbala, beliau menyampaikan kalimat yang sangat masyhur ini, beliau as berkata: “Manusia adalah hambanya dunia, dan agama hanyalah jilatan (hiasan) di atas lidah mereka.”
Mereka mengklaim mereka beragama, namun keberagamaan mereka tidaklah nyata.
Agama itu sangatlah penting. Namun, jika kita perhatikan, keyakinan yang dimiliki oleh kaum musyrik pun disebut sebagai agama, yang berarti keyakinan atau iman. Namun, saat kita berbicara tentang agama saat ini, yang kita maksud adalah agama yang hak (benar). Begitu banyak ditekankan dalam riwayat dan ayat-ayat kita bahwa jika nyawamu terancam, korbankanlah hartamu demi melindunginya. Namun, jika agamamu yang terancam, maka korbankanlah baik nyawa maupun hartamu demi agama. “Maka jadikanlah harta dan jiwamu sebagai tebusan demi membela agamamu.”
Mengapa demikian? Karena menurut Al-Qur’an, agama memiliki beberapa karakteristik khusus. Dan Izinkan saya menyampaikan karakteristik tersebut kepada Anda:
Yang pertama adalah, agama itu bersifat fitri. Allah Swt dalam kitabnya yang suci berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah…” (QS. Ar-Rum: 30)
Fitrah manusia mengatakan kepada dirinya bahwa harus ada keyakinan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, para Imam kita sering bertanya kepada orang-orang: “Jika engkau berada di tengah lautan dan dalam kondisi hendak tenggelam, kepada apa engkau akan bersandar meminta keselamatan?” Sesuatu yang engkau tuju untuk bersandar itulah Allah. Tidak mungkin alam semesta dan eksistensi ini ada tanpa adanya Sang Pencipta; tidak ada akal yang dapat menerima hal itu. Karakteristik pertama dari agama adalah ia selaras dengan fitrah manusia.
Yang kedua adalah, agama selaras dengan akal dan penalaran manusia. “Barang siapa yang berakal, maka ia memiliki agama.” Oleh karena itu, jika Anda melihat kitab-kitab hadis kita, pembahasan paling pertama yang diangkat adalah bab tentang akal. Bahkan di dalam Al-Qur’an kata “akal” disebutkan sebanyak 49 kali, dan kata “ilmu” disebutkan sebanyak 779 kali. Pada dasarnya, agama itu selaras dengan akal dan ilmu pengetahuan.
Yang ketiga adalah, karakteristik agama adalah mudah. Agama tidak membawa kesulitan bagi umat manusia. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menghendaki kemudahan bagi kalian. Dia berfirman bahwa Dia tidak menjadikan bagi kalian suatu kesempitan (haraj) di dalam agama, tidak ada kesulitan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Yang keempat adalah, agama itu kokoh dan lurus. “…kepada (jalan) yang lebih lurus…” (QS. Al-Isra: 9)
Al-Qur’an menyatakan bahwa salah satu karakteristik agama adalah dasar-dasarnya yang kokoh dan tidak rapuh.
Sekarang, apa sebenarnya agama itu? Ada banyak riwayat, namun izinkan saya menjelaskannya secara sederhana: Gabungan dari tiga hal membentuk agama, yaitu keyakinan (akidah), akhlak, dan hukum (ahkam). Agama memiliki fondasi yang kita sebut sebagai ushuluddin (akidah), memiliki cabang yang kita sebut furu’uddin (hukum/fikih), dan memiliki prinsip moral (akhlak) yang mengajarkan: jangan berbohong, jadilah orang yang amanah, dan milikilah rasa malu.
Kumpulan dari semua ini layaknya sebuah potongan teka-teki (puzzle). Jika Anda mengambil satu bagian saja, maka semuanya akan menjadi sukar untuk difahami, karena itu semua adalah satu kesatuan yang utuh.
Ada satu riwayat yang menyederhanakan pemahaman agama untuk akal manusia: “Sesungguhnya perumpamaan agama itu laksana sebatang pohon yang kokoh.”
Bayangkanlah sebuah pohon. Pohon itu memiliki akar, batang, dahan, daun, dan buah. Inti dari sebuah pohon bertumpu pada empat atau lima elemen ini. Jika agama diibaratkan sebagai sebatang pohon, lalu apa batangnya? Apa akarnya? Apa dahannya? Dan apa buahnya? Sebuah pohon tentu memerlukan air untuk disiram, lalu dengan air apa agama ini dapat ditumbuhkan? Riwayat ini menjelaskan hal tersebut dengan bersabda: Agama itu laksana sebatang pohon, lalu dilanjutkan dengan: Pertama, iman adalah batangnya/fondasinya. Bukan sekadar Islam. Menjadi Islam itu cukup dengan seseorang hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, namun berbeda untuk menjadi seorang Mukmin. Saat ini kita memiliki banyak orang Muslim, namun tidak banyak orang Mukmin. Mukmin itu adalah urusan iman, keyakinan, dan pembenaran hati.
Karena “Iman adalah apa yang menetap di dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.” Seseorang bisa saja berstatus Muslim, seperti apa yang saat ini banyak terjadi, mungkin kita menyebutnya dengan sebutan “Muslim KTP”, mungkin ia tidak salat, tidak puasa, tidak membayar zakat. Namun jika ia meninggal, ia tetap dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin, dan jika ayahnya meninggal, ia berhak menerima warisan, karena warisan didasarkan pada hukum Islam, bukan berdasarkan derajat keimanan.
Jika seseorang memiliki dua anak, yang satu pergi ke Qom menjadi santri, ahli salat malam, bahkan menjadi ayatullah; sementara anak yang lain sejak awal pergi ke luar negeri, tidak pernah salat dan tidak pernah puasa. Jika ayah mereka meninggal, keduanya akan menerima warisan dalam jumlah yang adil dan sama sesuai hukum. Tidak mungkin kita berkata: “hakmu lebih besar karena kamu ahli salat malam, dan kamu tidak berhak karena tidak salat subuh.”
Sebab, urusan waris tidak melihat kadar keimanan, melainkan ranah hukum Islam. Oleh karena itu, ada riwayat yang menyatakan bahwa Islam adalah untuk hukum-hukum duniawi: kesucian, penguburan, dan warisan. Namun iman berbeda sifatnya: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk (Islam)…'” (QS. Al-Hujurat: 14)
Kedua, salat adalah akarnya. Oleh karena itu, perhatikanlah pohon yang tidak memiliki akar, ia laksana semak berduri di gurun yang ketika ditiup angin kencang akan tercerabut, tergulung, dan menggelinding ke tengah jalan karena tidak memiliki akar yang kuat. Orang-orang yang tidak ada salat dalam hidupnya, itu laksana seseorang yang ingin pergi ke luar negeri namun tidak memegang paspor. Biarpun Anda menunjukkan 50 kartu identitas lainnya, Anda tetap tidak akan diizinkan lewat; Anda mutlak butuh paspor.
“Jika salatnya diterima, maka amalan lainnya pun akan diterima.” Dan ingat, amalan pertama yang akan dipertanyakan adalah salat.
Ketiga, zakat adalah airnya. Sebuah pohon membutuhkan air. Zakat mengikat pada jenis harta tertentu, atau yang dimaksud di sini secara umum adalah infak dan pemberian bantuan, baik yang sifatnya wajib seperti khumus dan zakat, maupun yang mustahab (sunah).
Keempat, puasa adalah dahannya.
Kelima, akhlak yang baik adalah dedaunannya. Akhlak yang baik dan menjaga perilaku moral. Di dalam riwayat ini, ketiga hal yang saya sebutkan tadi terkandung di dalamnya: akidah, hukum, sekaligus akhlak.
Nah, seorang petani yang menanam pohon buah tentu tidak menanamnya sekadar untuk mengincar bayang-bayang keteduhannya; ia menanam pohon demi memetik buahnya. Pohon kurma yang ditanam, pohon ceri yang ditanam, atau pohon jeruk yang ditanam, mereka ingin memanen buahnya. Lalu, apa buah dari agama? Dari mana kita bisa mengenali sosok orang yang benar-benar beragama? Dan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan adalah buahnya.
Buah dari agama ini adalah meninggalkan perbuatan haram. Seseorang yang agamis tidak boleh terjatuh ke dalam dosa, seperti khamar (miras), zina, kekejian, riba, dan suap. Sebatang pohon tidaklah sempurna tanpa adanya buah, begitu pula agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan perbuatan dosa.
Hadirin sekalian, memegang teguh agama itu sangatlah penting, membela agama itu sangatlah utama. Jika Anda melihat peristiwa di Karbala, salah satu syiar perang yang dikumandangkan oleh Abul Fadhlil Abbas adalah kalimat ini: “Demi Allah, jika kalian memotong tangan kananku, maka aku akan menggunakan tangan kiri ku, jika kalian memotong tangan kiriku, maka aku akan menggunakan mulutku. dan seterusnya”, ini menunjukan pada kita semua, bagaimana seorang mukmin sejati memperjuangkan agamanya.
Jagalah agama kalian dengan sangat hati-hati. Agama itu tidak bersifat musiman; ia bukan seperti alat pemanas ruangan yang hanya digunakan di musim dingin lalu disimpan di musim panas. Sebagian orang mengira agama itu bisa dijalankan secara musiman: saat berada di majelis ia memakai hijab, namun saat berada keluar dari majelis ia menanggalkannya. Di malam tanggal dua puluh satu Ramadhan ia rajin salat, namun begitu bulan Ramadan usai ia berhenti. Atau mungkin seperti kondisi kita saat ini, selama 10 malam berturut-turut kita pergi menghidupkan malam-malam kedukaan Imam Husein, kita menangis, berduka dan meratapi apa-apa yang menimpa Imam Husein dan keluarganya. Namun ketika semua itu selesai, kita kembali melupakan imam. Imam Husein kembali asing sebagimana saat di Karbala. Beliau tetap sendirian karena tidak ada satu pun dari kita yang menyahuti panggilannya.
Jika salat adalah bagian dari perintah agama, ia berlaku di mana saja. Jika berbohong itu buruk, maka ia buruk di mana saja. Agama bukanlah sekadar hiasan di bibir, sebagaimana yang disabdakan oleh Imam Husein: “Manusia adalah hamba dunia, dan agama hanyalah hiasan di atas lidah mereka.”
Beragama itu menuntut pengorbanan, sedangkan tidak beragama tidak membutuhkan pengorbanan apa pun. Ketika Anda berkomitmen beragama, maka kita harus siap untuk tidak meminum khamar, saat Anda berada di kesendirian, maka jangan datangi tempat tempat maksiat, saat Anda memegang ponsel, maka jangan menonton apa yang seharusnya tidak kita tonton. Beragama pada dasarnya memberikan imunitas (perlindungan) sekaligus batasan bagi manusia. Oleh karena itu, poin penting dari beragama adalah:
Pertama, jangan beramal secara musiman.
Kedua, jangan beramal secara pilih-pilih. Sebagian orang berlaku dalam beragama seperti seseorang yang sedang tebang pilih, ia berkata: “Aku mau berpuasa.” Tetapi ternyata sholatnya masih banyak yang bolong. Namun tidaklah demikian! Hal itu laksana seseorang yang hanya merawat satu anggota tubuhnya namun menelantarkan anggota tubuh lainnya; ia menganggap satu telinganya tidak penting dan membiarkannya tuli karena yang penting baginya adalah matanya. Kita harus menjaga keseluruhan anggota tubuh kita. Dalam beragama, kita tidak boleh bersikap musiman maupun tebang pilih; semuanya adalah satu kesatuan.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para pemuda pemudi tercinta kita untuk mengenal agama secara mendalam. Agama adalah satu paket utuh yang terdiri dari akidah, hukum, dan akhlak. Mereka harus membela agama, sebagaimana prinsip: Abu Fadl Abbas as, yang berkata: “Sesungguhnya aku akan senantiasa membela agamaku untuk selama-lamanya.”
Terkadang agama membutuhkan jihad. Imam Husein as, demi membela agama, membutuhkan kesiapan manusia untuk bangkit bersama beliau. Terkadang agama menuntut syahadah (pengorbanan nyawa), dan terkadang menuntut pengorbanan harta yang harus dikeluarkan. Segala sesuatu harus dikorbankan dan dikeluarkan demi agama. Inilah poin-poin yang dapat saya sampaikan di malam ini mengenai agama.
Tidak sempurna malam-malam kedukaan Husaini ini jika kita tidak menghadirkan hati-hati kita pada apa-apa yang terjadi di Karbala.
Malam ini adalah malam keenam Muharam, dan ini adalah sebuah tradisi yang luhur sudah menjadi kebiasaan di antara para khotabil Husein untuk mengetuk pintu keberkahan Al-Qasim putra Imam Hasan pada malam keenam.
Anak ini baru berusia tiga tahun ketika ia kehilangan ayahnya; ia tumbuh besar sebagai seorang anak yatim. Selama sepuluh tahun, Imam Husein telah bertindak sebagai ayah baginya dan membesarkannya. Kini, di hari Asyura, ia datang dan berkata: “Wahai paman, apakah engkau mengizinkanku untuk maju ke medan laga?” Imam Husein merasa berat. Ketika Ali Al-Akbar putranya meminta izin untuk maju ke medan perang, Imam dengan tanpa keraguan memberikannya izin, namun bagaimana beliau bisa tega memberikan izin kepada Qasim? Di sisi lain, pada malam Asyura, beliau telah berjanji kepadanya bahwa ia akan maju ke medan laga, namun lidah beliau terasa kelu untuk mengucapkannya. Beliau membuka kedua lengannya, mendekap Qasim ke dalam pelukannya, dan mulai menangis.
Saya tidak tahu apakah beliau teringat pada saudaranya (Imam Hasan) atau teringat pada masa yatimnya anak ini. Para sejarawan menuliskan bahwa saking hebatnya kedua insan ini saling menangis di dalam dekapan satu sama lain, hingga akhirnya mereka berdua jatuh pingsan. Di siang harinya, beliau tetap tidak tega mengatakan “pergilah wahai Qasim” kepadanya. Sungguh luar biasa makrifat dan kebaktian pemuda ini. Tahukah Anda apa yang ia lakukan? Ia terus-menerus mencium kaki dan tangan Imam Husein, seraya meratap: “Paman, demi Allah izinkanlah aku pergi. Demi kesucian Fatimah, biarkan aku menuju Karbala, jangan biarkan aku absen menjadi tebusan di jalan Al-Qur’an. Wahai paman, demi hak Ali Sang Penghancur Berhala, jangan tolak permintaan Qasim ini.” Imam Husein akhirnya luluh dan mengisyaratkan: Pergilah wahai anakku, engkau telah membuat hatiku luluh, pergilah.
Pada narasi yang lain, Imam Husein sebenarnya tidak memberikan izin kepada Qasim untuk maju ke medan perang. Namun setelah menerima beberapa kali mengalami penolakan, Qasim kembali kepada Imam Husein dengan membawa surat dan berkata kepada Imam: “Wahai paman, aku tahu kau tidak akan akan rela jika aku maju ke medan perang, namun setidaknya bacalah surat ini.” Imam Husain pun membaca surat tersebut, namun betapa terkejutnya Imam. Ternyata surat itu berisi pesan Imam Hasan.
Imam Hasan berkata: “Wahai saudaraku Husein, ketika surat ini sampai kepadamu, maka ketahuilah bahwa aku sudah mengetahui musibah yang akan menimpamu. Andaikan aku dapat hadir bersamamu di Karbala, niscaya aku akan mengorbankan jiwaku di hadapanmu. Wahai saudaraku Husein, aku tidak dapat hadir membelamu karena aku telah mendahuluimu menuju akhirat. Maka aku titipkan kepadamu putraku, Qasim. Terimalah ia sebagai penggantiku. Jika tiba saatnya engkau membutuhkan penolong, izinkanlah ia berperang agar ia dapat menggantikan kehadiranku di sisimu. Sampaikan salamku kepada para syuhada, dan bersabarlah atas ketetapan Allah. Aku menantimu di sisi kakek kita, Rasulullah.”
Imam Husein as pun menangis tersedu-sedu saat membaca surat dari abangnya itu. Ia masih tidak menyangka bahwa setelah kepergian abangnya pun ia masih saja memikirkan Husein. Imam Husein pun dengan hati yang begitu berat mengizinkan putra abangnya itu untuk maju ke medan laga.
Qasim pun maju ke panggung kesyahidan seraya mengumandangkan syiar perangnya. Qasim dengan dengan baju perang yang kebesaran itu berkata dengan lantang: “Jika kalian tidak mengenalku, maka ketahuilah bahwa aku adalah putra Al-Hasan; cucu dari Nabi Al-Musthafa yang terpercaya. Dan inilah Husein yang berada di tengah kalian bagai seorang tawanan yang terkepung.”
Walau terkadang Qasim terlihat seakan menyeret pedangnya karena pedangnya terlalu berat, namun ketahuilah, ia adalah putra dari Al Hasan, dan cucu dari Haidar. Walau bertubuh kecil, Qasim mampu menghabisi sejumlah musuh, bahkan di kitab-kitab maktal disebutakan bahwa seorang anak kecil ini mampu menghabisi hampir 50 orang. Namun yang perlu kita ketahui di sini adalah seorang anak kecil tidak akan sebanding jika dihadapkan dengan ribuan pasukan. Tidak hanya itu, seluruh pemuda pemuda Huseini pada saat itu bertarung dalam keadaan kehausan dan tidak memiliki energi lebih untuk terus bertarung, Qasim pun syahid dalam keadaan membela Imam Zamannya.
Pada hari Asyura, Abi Abdillah (Imam Husein) mendatangi jasad sembilan orang syuhada, dan salah satunya adalah Qasim. Ketika Qasim terjatuh dan Imam datang ke dekatnya, saat itu musuh sedang gencar melakukan serangan. Abi Abdillah sempat bertempur melawan musuh beberapa saat, namun di satu momen, anak muda ini sedang menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah menahan rasa sakit yang amat sangat di sisa nafas terakhirnya, sementara Imam Husein berdiri tegak di samping kepalanya.
Imam menghentikan pertempuran sejenak, beliau memandanginya lalu berseru: “Wahai putra saudaraku, demi Allah, sungguh teramat berat bagiku saat engkau memanggil namaku namun aku tidak berkuasa berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu.”
Namun, Imam Husein melakukan satu hal terhadap jasad Qasim yang tidak ada duanya di Karbala. Anda tentu mendengar tentang Ali Al-Akbar di mana Imam meminta para pemuda lain untuk datang membantu membawa jasadnya, dan begitu pula terhadap syuhada lainnya. Mereka saling membantu membawa jenazah. Namun untuk Qasim, Imam Husein sendiri yang membungkuk dan mendekapkan dada Qasim yang telah hancur ke dada beliau. Beliau membungkuk dan menempelkan dada yang remuk itu ke dada beliau sendiri.
Imam as pun bekata pelan pada Qasim: “Mereka membalas jasa Hasan kepadamu dengan cara menginjak-injak tubuhmu yang merah berdarah dengan kuda-kuda mereka. Duhai, andai saja pamanmu tidak perlu menyaksikan tubuhmu yang hancur ini saat membawanya sebagai hadiah duka untuk ibumu.” (*Disampaikan dalam peringatan malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)












