BERITAALTERNATIF.COM – Di balik berdirinya Pioneer Gadai Indonesia (PGI), perusahaan pergadaian yang berhasil mengantongi izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat sosok Faisal, seorang arsitek yang bertransformasi menjadi pengusaha hingga akhirnya mendirikan perusahaan pergadaian sendiri.
Perjalanan hidup Faisal tidak dibangun dalam waktu singkat. Latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman di dunia konstruksi, hingga perjalanan sebagai pelaku usaha menjadi bekal yang mengantarkannya memasuki industri jasa keuangan nonbank.
Faisal lahir di Dompu, Nusa Tenggara Barat, pada 12 Januari 1983. Ia merupakan putra pasangan Sudirman Hadi dan Suriati.
Sang ayah, Sudirman Hadi, merupakan seorang hakim yang mengabdikan diri di berbagai daerah di Indonesia. Di penghujung kariernya, ia pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Samarinda, sebuah amanah yang turut membentuk lingkungan tumbuh kembang Faisal.
Karena mengikuti penugasan ayahnya, Faisal menghabiskan masa kecil dengan berpindah-pindah kota. Namun, sebagian besar masa pendidikannya ditempuh di Jawa Timur.
“Sekolahnya di Jawa saya. Dari SD sampai kuliah di Jawa,” ungkapnya saat diwawancarai Berita Alternatif pada Senin (3/8/2026).
Menempuh Pendidikan di Bojonegoro hingga Malang
Perpindahan tempat tinggal membuat Faisal terbiasa beradaptasi sejak usia dini.
Ia mulai menetap di Bojonegoro sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar dan menamatkan pendidikan SD di kota tersebut.
Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan di Tuban, mulai dari SMP hingga lulus SMA pada 2001.
Minatnya terhadap dunia rancang bangun membawanya melanjutkan pendidikan ke Universitas Teknologi Nasional (ITN) Malang pada Program Studi Teknik Arsitektur.
Pada 2007, Faisal berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dan resmi menyandang gelar Sarjana Teknik Arsitektur.
Mengawali Karier di Dunia Konstruksi
Usai menyelesaikan kuliah, Faisal sempat mengawali karier di lingkungan Pekerjaan Umum (PU) Makassar. Namun, dia tidak bertahan lama.
Ia kemudian memutuskan merantau ke Kaltim dan bergabung dengan PT Silika Mulia di Samarinda sebagai staf engineer arsitektur.
Di perusahaan tersebut, Faisal terlibat dalam pembangunan pusat perbelanjaan yang kini dikenal sebagai salah satu mal di Kota Samarinda.
“Karena memang bidang saya arsitektur, jadi awal kerja ya di konstruksi,” katanya.
Setelah sekitar satu tahun bekerja di Samarinda, Faisal melanjutkan kariernya ke Balikpapan.
Dia bergabung di PT Beton Konstruksi Wijaksana (BKW) sebagai engineer konstruksi dan ikut menangani proyek pembangunan hotel di kawasan Jalan MT Haryono.
Pengalaman bekerja di dua perusahaan itu semakin memperkuat kemampuan teknis dan manajemen proyek yang dimilikinya.
Meski memiliki karier yang cukup baik di bidang konstruksi, dia memilih mengambil jalan berbeda.
Sekitar 2009, ia meninggalkan dunia teknik dan mulai membangun usaha sendiri dengan menjadi mitra franchise Rumah Warna, merek tas lokal asal Yogyakarta.
Hampir satu dekade menjalankan usaha tersebut membuatnya banyak belajar mengenai dunia bisnis, mulai dari manajemen usaha, pemasaran, hingga strategi penjualan.
“Dari situ mulai belajar yang namanya bisnis, jual beli, manajemen, sampai sales,” ujarnya.
Ketika tren pasar mulai berubah, Faisal kemudian melepas bisnis franchise tersebut dan beralih menjual tas serta produk fashion impor untuk wanita.
Menurutnya, pengalaman sebagai pelaku usaha itulah yang membentuk cara berpikirnya dalam mengelola sebuah perusahaan.
Menemukan Jalan di Industri Pergadaian
Perjalanan di dunia perdagangan kemudian mempertemukannya dengan industri pergadaian.
Di tengah menjalankan usaha fashion, Faisal mendapat tawaran bergabung dengan sebuah perusahaan pergadaian. Selama kurang lebih dua tahun, ia mempelajari berbagai aspek bisnis pergadaian, mulai dari operasional hingga tata kelola perusahaan.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum akhirnya memutuskan membangun perusahaan sendiri.
Pada Januari 2026, Faisal resmi mendirikan Pioneer Gadai Indonesia (PGI).
PGI bergerak di bidang pergadaian konvensional dengan fokus layanan pembiayaan menggunakan jaminan barang elektronik dan kendaraan roda dua.
Sejak perusahaan berdiri, dia bersama tim langsung mengurus seluruh proses perizinan kepada OJK.
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan ketelitian karena perusahaan harus berkali-kali melengkapi dokumen, melakukan revisi administrasi, hingga memenuhi seluruh persyaratan regulator.
“Januari sampai Mei kami fokus pemberkasan. Berkas diserahkan, dikembalikan lagi, dilengkapi, direvisi, seperti itu dengan pihak OJK,” jelasnya.
Seluruh proses itu akhirnya membuahkan hasil. Pada Juli 2026, PGI resmi mengantongi izin operasional dari OJK.
Hingga wawancara dilakukan, PGI telah memiliki delapan kantor cabang yang seluruhnya berada di Samarinda. Antara lain di Jalan PM Noor, Sungai Dama, Abul Hasan , MT Haryono, Jalan Jakarta, Harapan Baru, Jalan Sengkotek serta Jalan Sultan Hasanuddin.
Seluruh kantor cabang tersebut masih berada di ibu kota Kaltim karena izin operasional yang dimiliki perusahaan saat ini masih berada pada cakupan tingkat kota.
Bagi Faisal, keberhasilan memperoleh izin OJK bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang PGI.
Ia mengungkapkan, manajemen telah menyusun roadmap pengembangan perusahaan hingga 2030. Pada 2026, PGI menargetkan memiliki 10 outlet. Selanjutnya, jumlah tersebut ditingkatkan menjadi 20 outlet pada 2028 dan berkembang hingga 40 outlet pada 2029.
Tak hanya berfokus pada penambahan jaringan kantor, Faisal mengatakan target jangka panjang perusahaan adalah meningkatkan cakupan izin operasional dari tingkat kota menjadi tingkat provinsi. Dengan begitu, layanan PGI diharapkan tidak hanya hadir di Samarinda, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah di Kaltim.
“Tentunya kami sudah ada roadmap sampai 2030. Tahun 2026 kami menargetkan memiliki 10 outlet, kemudian berkembang menjadi 20 outlet pada 2028, lalu 40 outlet pada 2029. Harapan besar kami pada 2029 sampai 2030 bisa meningkatkan izin OJK menjadi izin tingkat provinsi,” ujarnya.
Menurutnya, perluasan izin tersebut bukan semata-mata untuk memperbesar perusahaan, melainkan agar manfaat layanan pergadaian yang dijalankan PGI dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Tujuannya untuk membantu masyarakat. Bukan hanya masyarakat Samarinda. Harapan kami pada 2030 bisa membantu masyarakat di seluruh Kaltim,” tutupnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











