Search

Mengenal Sandri Perdana Putra, Putra Kota Bangun yang Meniti Prestasi sebagai Joki Drag Bike

Joki Drug Bike asal Kota Bangun, Sandri Perdana Putra. (Narasumber)

BERITAALTERNATIF.COM — Prestasi dalam dunia balap motor tidak selalu lahir dari pembalap yang berasal dari kota-kota besar atau memiliki fasilitas latihan yang lengkap.

Di balik riuhnya suara mesin yang meraung di lintasan, ada sosok-sosok yang membangun kariernya secara perlahan, melewati berbagai keterbatasan hingga akhirnya mampu membuktikan diri di ajang resmi.

Salah satunya adalah Sandri Perdana Putra, putra asli Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang kini mulai dikenal sebagai salah satu joki drag bike di Kalimantan Timur.

Meski baru aktif menekuni drag bike sejak 2024, Sandri telah berhasil mencatatkan sejumlah podium di berbagai kejuaraan.

Perjalanan tersebut tentu tidak diraihnya secara instan. Sebelum berdiri di podium, dia terlebih dahulu merasakan pahit manis dunia road race, vakum karena pekerjaan, hingga akhirnya kembali ke lintasan dengan semangat baru.

Bagi Sandri, dunia balap bukan hanya sekadar hobi. Di balik helm yang dikenakannya, tersimpan perjalanan panjang tentang keberanian mengambil keputusan, ketekunan menghadapi keterbatasan, dan keinginan untuk terus berkembang sebagai seorang pembalap.

Sandri lahir di Desa Melintang pada 12 Desember 1994. Sejak kecil, dia tumbuh dan besar di Kecamatan Kota Bangun, wilayah yang hingga kini masih menjadi tempat tinggalnya.

Lingkungan tempatnya dibesarkan menjadi saksi perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecil hingga kini dikenal sebagai salah satu joki drag bike yang mulai diperhitungkan di berbagai kejuaraan di Kaltim.

Berbeda dengan banyak pembalap yang sejak usia dini telah bergabung dengan sekolah balap atau klub otomotif besar, Sandri justru memulai semuanya secara sederhana.

Ketertarikannya terhadap dunia balap tumbuh karena kecintaannya terhadap sepeda motor dan atmosfer kompetisi yang selalu memacu adrenalin.

Perjalanan Sandri sebagai pembalap dimulai pada 2014. Saat itu, ia memilih menekuni cabang road race, jauh sebelum mengenal drag bike seperti sekarang.

Selama kurang lebih tiga tahun, mulai 2014 hingga 2017, Sandri aktif mengikuti berbagai kejuaraan road race yang digelar di Tenggarong.

Meski belum pernah naik podium, pengalaman tersebut menjadi sekolah pertama yang membentuk mental balapnya.

Baginya, road race mengajarkan banyak hal, mulai dari teknik mengendalikan motor, membaca karakter lintasan, hingga mengelola rasa takut saat memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Sebagai pembalap yang berasal dari Kota Bangun, Sandri menghadapi berbagai keterbatasan yang cukup berat. Salah satunya adalah minimnya fasilitas latihan.

Menurutnya, lintasan latihan yang dulu tersedia di daerahnya kini sudah tidak lagi bisa digunakan. Akibatnya, ia harus berlatih dengan kondisi yang serba terbatas.

Belum lagi biaya mengikuti kompetisi road race yang tergolong tinggi. “Kesulitannya memang tempat latihan sudah tidak ada lagi. Selain itu, biaya mengikuti road race juga cukup besar,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif baru-baru ini.

Meski demikian, dia tetap berusaha mengikuti setiap kesempatan balapan. Hampir seluruh kompetisi road race yang pernah diikutinya berlangsung di Tenggarong, termasuk beberapa seri Kejuaraan Daerah (Jurda) yang kala itu menjadi ajang bergengsi bagi pembalap-pembalap lokal.

Walaupun belum mampu membawa pulang trofi, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang kelak sangat membantunya ketika beralih ke cabang balap lain.

Ketika karier balapnya mulai berkembang, Sandri justru dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah.

Pada 2017, ia memutuskan berhenti sementara dari dunia balap karena harus fokus bekerja di sebuah perusahaan. Keputusan tersebut membuat Sandri harus meninggalkan lintasan selama beberapa tahun. Meski demikian, kecintaannya terhadap dunia balap tidak pernah benar-benar hilang.

Di tengah kesibukan bekerja, keinginan untuk kembali mengenakan wearpack dan memacu motor di lintasan resmi selalu tersimpan dalam pikirannya. Kesempatan itu akhirnya datang pada 2024.

Setelah cukup lama vakum, Sandri memutuskan kembali ke dunia balap. Namun kali ini dia memilih jalur yang berbeda. Ia meninggalkan road race dan mulai serius menekuni drag bike. Keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan.

Kini Sandri telah berkeluarga dan memiliki anak. Faktor keselamatan menjadi alasan utama mengapa dirinya memilih drag bike.

Menurutnya, dibandingkan road race yang dipenuhi tikungan dan potensi insiden, drag bike menawarkan risiko yang relatif lebih kecil karena lintasannya lurus.

“Kalau road race risikonya memang lebih besar. Sekarang saya sudah punya keluarga dan anak, jadi memilih drag bike karena lebih mengurangi risiko,” katanya.

Keputusan itu ternyata menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya. Berpindah dari road race ke drag bike bukan berarti semua kemampuan yang dimiliki bisa langsung diterapkan. Sandri harus kembali belajar memahami karakter balapan yang berbeda.

Jika road race mengutamakan kemampuan menjaga racing line dan mengendalikan motor di tikungan, drag bike menuntut reaksi yang cepat, akselerasi sempurna, serta kemampuan mengendalikan motor berdaya tinggi dalam lintasan pendek.

Seorang joki drag bike juga harus mampu beradaptasi dengan berbagai jenis motor, mulai dari motor matic, motor sport, hingga motor bebek memiliki karakter yang berbeda.

“Insyaallah saya bisa mengendarai semuanya, baik matic, sport maupun bebek. Tetapi memang setiap motor punya karakter yang berbeda,” ujarnya.

Kemampuan beradaptasi itulah yang terus diasah Sandri setiap mengikuti latihan maupun kompetisi. Usahanya beradaptasi ternyata tidak membutuhkan waktu lama. Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, dia mulai menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.

Ia tercatat telah mengikuti sekitar enam hingga tujuh event drag bike sejak kembali aktif membalap. Sementara sepanjang 2026 hingga waktu wawancara dilakukan, ia sudah mengikuti tiga kejuaraan.

Beberapa event yang pernah diikutinya antara lain Jurnal Ica Sport di Samarinda, Sanata Fun Race, Venom Titanium Championship, hingga Drag Bike Bhayangkara Cup.

Dari sejumlah event tersebut, Sanata Fun Race 2025 menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Pada ajang itu, Sandri berhasil meraih Juara 1 Kelas Bracket 9 Detik, sekaligus finis di peringkat keempat kelas Sunmori 200 CC.

Performa Sandri terus meningkat pada event-event berikutnya. Dalam ajang Drag Bike Bhayangkara Cup 2026, ia kembali menunjukkan kemampuannya.

Menghadapi pembalap dari berbagai daerah, Sandri berhasil membawa pulang dua podium sekaligus.

Dia finis di peringkat ketiga Kelas Bracket 9,5 Lokal Kaltim dan kembali meraih podium ketiga pada Kelas Bracket 9,5 Open. Baginya, hasil tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan.

Sebab, menurut Sandri, persaingan drag bike di Kaltim kini semakin ketat. Hampir setiap bulan selalu ada kejuaraan yang digelar. Kelas-kelas seperti Bracket dan Sunmori bahkan menjadi kategori yang paling banyak diminati peserta.

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa perkembangan drag bike di Kaltim terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Kalau sekarang hampir setiap bulan ada event. Peminatnya juga semakin banyak,” tuturnya.

Meski merupakan putra asli Kota Bangun, Sandri beberapa kali dipercaya memperkuat tim asal Kutai Barat.

Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuannya mulai diperhitungkan oleh tim-tim balap di Kaltim.

Sementara di luar lintasan, ia tetap berlatih dan disponsori oleh Pulau Harapan Motor, bengkel di Kota Bangun yang selama ini menjadi rumahnya untuk terus berkembang.

Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari profesionalisme seorang joki. Meski membela tim dari daerah lain, Sandri tetap bangga menyandang identitas sebagai putra asli Kota Bangun.

“Saya asli Kukar. Waktu itu hanya dipercaya membawa nama tim Kutai Barat,” katanya.

Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa kemampuannya mulai mendapat perhatian dari berbagai tim di Kaltim.

Meski telah meraih sejumlah podium, Sandri merasa perjalanan kariernya masih cukup panjang. Dia mengaku masih memiliki banyak target yang ingin dicapai. Salah satunya adalah meningkatkan prestasi di kelas Sunmori, yang menurutnya memiliki tingkat persaingan cukup tinggi.

Selain itu, ia ingin mulai mengikuti lebih banyak kejuaraan di luar daerah apabila mendapatkan kesempatan bergabung bersama tim.

Dalam waktu dekat, Sandri berharap bisa tampil pada event drag bike yang rencananya digelar di Sangatta pada Sepetember ini. Semakin banyak mengikuti kompetisi, semakin besar pula pengalaman yang akan diperolehnya.

Setiap lintasan memberikan pelajaran yang berbeda. Di balik ambisinya mengejar prestasi, Sandri juga menyimpan sejumlah harapan lain, terutama bagi para pemuda di daerahnya.

Ia ingin semakin banyak anak muda di Kota Bangun menyalurkan hobi balap melalui jalur resmi. Menurutnya, potensi pembalap muda di daerahnya sangat besar.

Sayangnya, masih banyak yang memilih balap liar, selain melanggar peraturan, hal tersebut tidak berkembang secara maksimal.

Karena itu, Sandri berharap kehadiran pembalap-pembalap daerah yang mampu berprestasi di lintasan resmi dapat menjadi contoh bahwa hobi otomotif juga bisa diarahkan ke jalur yang positif.

“Saya ingin mengajak anak-anak di Kota Bangun ikut balap resmi. Daripada balap liar, lebih baik mengembangkan kemampuan lewat kompetisi yang benar,” ujarnya.

Dengan pengalaman yang terus bertambah, dukungan dari tim, serta tekad untuk terus belajar, putra Kota Bangun itu kini perlahan menapaki jalannya sendiri sebagai joki drag bike yang mulai diperhitungkan.

Bagi Sandri, setiap lampu start yang menyala bukan hanya penanda dimulainya sebuah balapan, melainkan juga simbol dari perjalanan panjang yang masih terus ia tempuh untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA