Oleh: Ustadz Muhammad Makhtum*
Sebelum memulai, sedikit kami mengawali dengan mengingatkan bahwa ratusan tahun yang lalu, di malam inilah awal mula Imam Husain bersama rombongannya memasuki tanah Karbala.
Tahun ini, Muharram adalah tahun yang berbeda. Muharram tahun ini kita tidak lagi bersama dengan pemimpin kita, Syahid Imam Ali Khamenei, sebagaimana sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita hadiahkan shalawat untuk mengenang sosok agung Imam Ali Khamenei.
Beliau mengingatkan bahwa manusia menghadapi berbagai tantangan. Musuh datang dengan berbagai cara, menciptakan kondisi agar umat manusia, khususnya umat Islam, terjebak dalam keburukan.
Mereka memikirkan berbagai strategi untuk merusak nilai-nilai Islam, terutama merusak generasi muda. Mereka berusaha menciptakan pandangan bahwa agama adalah sesuatu yang kuno, sesuatu yang tidak lagi relevan, dan sesuatu yang tidak menarik dalam kehidupan modern.
Padahal agama adalah cahaya yang membimbing manusia. Karena itu, kita membutuhkan kekuatan untuk menghadapi arus-arus negatif tersebut.
Yang mampu melawan berbagai arus kegelapan adalah Al-Qur’an. Yang mampu menghadapi berbagai upaya merusak nilai-nilai kebenaran adalah ajaran Ahlulbait, khususnya keteladanan Imam Husain.
Majelis-majelis seperti ini bukan hanya tempat untuk memperingati suatu peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi madrasah kehidupan. Tempat kita belajar, memperkuat ilmu, memperbaiki diri, dan membangkitkan semangat agar tidak melupakan tugas kita sebagai manusia.
Imam Ali Khamenei mengingatkan agar manusia senantiasa menjaga kebenaran, melawan kebatilan, memperbanyak amal saleh, dan menjauhkan diri dari kesombongan.
Semoga kita menjadi orang-orang yang membela kebenaran, melawan kezaliman, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Inilah logika dan semangat perjuangan Imam Husain.
Dunia hari ini membutuhkan nilai-nilai tersebut. Kita menyaksikan berbagai persoalan yang terjadi di dunia, dan pesan Imam Husain menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan keadilan serta menyelamatkan manusia dari kerusakan.
Benarlah apa yang disampaikan Imam Khamenei bahwa hari ini ada berbagai upaya yang berusaha melemahkan umat Islam dan merusak generasi muda.
Namun kita harus tetap berdiri dengan keyakinan, ilmu, dan akhlak. Kita harus terus memikirkan bagaimana cara menghadapi berbagai tantangan zaman dan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
Hal-hal seperti inilah yang kita dapatkan dari Madrasah Asyura. Madrasah Asyura adalah madrasah yang menghasilkan ilmu, madrasah yang menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan dalam membela kebenaran.
Pertanyaannya, apakah mereka berhasil menghilangkan nilai-nilai tersebut? Tidak. Mereka terus berusaha dengan berbagai cara.
Awalnya mereka ingin menghancurkan nilai-nilai ini secara langsung, tetapi mereka menyadari bahwa nilai-nilai tersebut tidak mudah untuk dihilangkan. Maka mereka mengubah strategi. Mereka tidak lagi berusaha menghancurkan secara terbuka, tetapi berusaha menjauhkan manusia dari makna dan semangat yang terkandung di dalamnya.
Mereka mencoba memisahkan peringatan Asyura dari kehidupan kita. Mereka berkata: jangan bawa Husain ke dalam rumah-rumah kita, jangan bawa Asyura ke dalam keluarga kita, jangan bawa semangat perjuangan Husain kepada anak-anak dan generasi kita.
Mereka ingin agar kita hanya mengenang Muharram sebagai sebuah peristiwa sejarah. Mereka ingin menjadikan Asyura hanya sebagai cerita masa lalu, hanya sebagai dongeng, tanpa mengambil pelajaran dan nilai yang ada di dalamnya.
Namun sejarah membuktikan bahwa perjuangan Imam Husain tidak berhenti sebagai cerita. Ia menjadi sumber inspirasi bagi manusia yang mencari kebenaran.
Banyak orang yang dekat dengan Imam Husain, orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, orang-orang yang beribadah dan berjuang sepanjang hidupnya, tetapi ketika tiba di Karbala sebagian dari mereka diuji.
Ada orang yang dahulu begitu dekat dengan Imam Husain, tetapi ketika harus memilih antara membela kebenaran atau mengikuti kepentingan dunia, mereka gagal dalam ujian tersebut.
Karena itu, kita yang hadir pada malam ini adalah orang-orang yang sedang belajar dari Madrasah Husain. Kita belajar tentang bagaimana mempertahankan nilai-nilai Islam, keadilan, dan kemanusiaan.
Pada malam-malam duka ini ada sebuah makna yang sangat besar. Kesedihan atas tragedi Karbala bukan hanya dirasakan oleh manusia, tetapi dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa seluruh alam turut berduka.
Ada banyak riwayat yang menjelaskan bahwa malam-malam ini memiliki suasana khusus. Hati yang bersih dan jiwa yang suci dapat merasakan kedalaman peristiwa ini.
Anak-anak yang masih memiliki hati yang bersih pun dapat merasakan suasana duka. Orang-orang saleh yang menjaga kebersihan hatinya dapat memahami bahwa peristiwa Karbala bukan sekadar sejarah, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
Ketika seseorang kehilangan orang yang sangat dicintainya, baik itu pasangan, orang tua, anak, maupun saudara, maka manusia akan merasakan kesedihan yang sama. Karena perasaan cinta dan kehilangan adalah bagian dari fitrah manusia.
Diriwayatkan bahwa ketika memasuki bulan Muharram, para ulama dan orang-orang yang memahami makna tragedi Karbala mulai merasakan perubahan suasana hati. Senyum berkurang, kesedihan semakin terasa, dan puncaknya mencapai hari Asyura.
Hal ini menunjukkan bahwa hari-hari Muharram bukan hari-hari biasa. Hari-hari ini adalah waktu untuk memperbaiki diri, memperbanyak renungan, memperkuat hubungan dengan Allah, dan mengambil pelajaran dari perjuangan Imam Husain.
Karena itu, kita memperingati hari-hari ini bukan hanya sebagai sebuah tradisi, tetapi sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebenaran, keberanian, dan pengorbanan.
Mengapa peringatan duka ini tidak hanya dilakukan satu hari, tetapi berlangsung dari malam pertama hingga malam kesepuluh? Mengapa kita memperingati Asyura selama sepuluh malam?
Ada beberapa alasan. Pertama, karena peristiwa Asyura melahirkan sebuah pelajaran besar yang tidak ada tandingannya dalam sejarah manusia. Karbala bukan hanya sebuah kejadian masa lalu, tetapi sebuah madrasah yang mengajarkan nilai-nilai pengorbanan, keberanian, kesetiaan, dan perjuangan melawan kezaliman.
Kedua, mengapa dilakukan selama sepuluh malam? Karena rangkaian peristiwa Karbala tidak terjadi hanya dalam satu waktu. Ada perjalanan panjang yang dimulai sejak hari-hari sebelum Asyura hingga mencapai puncaknya pada hari kesepuluh Muharram.
Dalam rentang waktu tersebut, kita mengenang perjalanan keluarga Rasulullah SAW, perjuangan Imam Husain, para sahabat beliau, serta pengorbanan mereka dalam mempertahankan kebenaran.
Peringatan Asyura bukan sekadar mengulang sejarah. Bukan hanya sekadar mengenang kesedihan, tetapi mengambil pelajaran dan menjadikan nilai-nilai Imam Husain hadir dalam kehidupan kita.
Kecintaan kepada Imam Husain bukanlah kecintaan yang terbatas kepada kelompok tertentu, pribadi tertentu, atau waktu tertentu. Kecintaan kepada Husain adalah nilai yang dihadirkan Allah SWT sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia.
Karena itu, kita harus bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah kita hanya datang, mendengar, menangis, lalu selesai? Ataukah kita menjadikan hari-hari ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri?
Jangan sampai peringatan Asyura hanya menjadi kebiasaan tahunan tanpa makna. Jangan sampai kita hanya mengenang nama Husain, tetapi tidak membawa semangat Husain dalam kehidupan.
Karena yang dibutuhkan dari kita bukan hanya air mata, tetapi juga perubahan. Tangisan kita harus melahirkan kesadaran. Kesedihan kita harus melahirkan tekad untuk membela kebenaran, melawan kezaliman, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Inilah makna besar dari Madrasah Asyura. Ia mengajarkan kepada kita bahwa manusia harus tetap berdiri bersama kebenaran, meskipun menghadapi ujian yang berat. (*Disampaikan dalam di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada 17 Juni 2026)












