Oleh: Ustadz Muhammad Makhtum*
Di malam sebelumnya kita sudah membicarakan bersama tentang Madrasah Asyura, yaitu sebuah madrasah yang bukan hanya kita hadiri kemudian datang untuk sekadar memperingatinya. Madrasah Asyura bukan hanya perayaan atau peringatan untuk memenuhi hari-hari dan malam-malam kita.
Seperti yang disampaikan oleh Maulana As-Syahid Sayyidina Ali Khamenei, beliau mengingatkan kepada kita bahwa Asyura adalah sebuah pesan, sebuah madrasah yang mampu membawa perubahan dalam kehidupan kita. Madrasah Asyura, pesan-pesan Al-Husain, adalah pesan yang dapat melawan segala arogansi yang ada di dunia saat ini.
Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk sama-sama menyadari kehadiran kita di malam-malam kajian ini. Bukan hanya datang dan sekadar mengikuti rangkaian acara kemudian selesai. Namun, bawalah pesan-pesan Muharram, bawalah pesan-pesan syahadah ke dalam rumah kita. Bawalah semangat Al-Husain kepada keluarga kita.
Jangan tinggalkan Al-Husain. Jangan tinggalkan tempat ini tanpa membawa nilai-nilai penting dari ajaran Madrasah Asyura.
Dan hal ini sudah kita bicarakan pada malam sebelumnya. Kita lanjutkan pembicaraan kita bahwa dalam kehidupan kita terdapat begitu banyak peristiwa, kejadian, dan fenomena yang datang kepada kita, hadir dalam ingatan kita, namun berlalu begitu saja dan terlupakan.
Banyak hal yang menjadi memori dalam ingatan kita, tetapi kemudian berlalu begitu saja.
Pada umumnya, para ulama menjelaskan bahwa kita melupakan sebuah kejadian minimal karena tiga hal.
Pertama, karena kejadian tersebut tidak memberikan kesan yang mendalam, sehingga tidak tertanam kuat dalam ingatan kita.
Kedua, kita melupakan sebuah kejadian karena tertumpuk dengan memori-memori baru. Peristiwa kemarin, kemudian kita mengalami kejadian-kejadian baru, akhirnya memori lama tersebut terlupakan.
Ketiga, kita bisa melupakan sebuah peristiwa karena datangnya memori yang lebih berkesan daripada peristiwa sebelumnya.
Namun, berkaitan dengan peristiwa Asyura, berkaitan dengan api perjuangan Al-Husain, kita bisa membayangkan: sebuah peristiwa yang sudah terjadi ribuan tahun yang lalu, hingga hari ini masih belum terlupakan.
Muharram telah berlalu 14 abad yang lalu, tetapi Muharram masih terus hidup, terus diperingati, dan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Walaupun selama ratusan tahun manusia telah mengalami banyak kejadian dan peristiwa, memori dan ingatan tentang Muharram selalu ada dalam benak manusia. Muharram selalu berada dalam posisi yang istimewa dalam ingatan manusia.
Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? Peristiwa ini telah berlalu begitu lama, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, tetapi posisinya selalu ada dalam kehidupan manusia. Mengapa peristiwa ini tidak dilupakan begitu saja?
Bahkan bukan hanya tidak dilupakan, Muharram datang menjadi inspirasi, menjadi semangat, dan menjadi nilai baru bagi orang-orang yang mengenal Al-Husain melalui Madrasah Asyura.
Sebenarnya, jika kita ingin membahas secara mendetail, ada banyak alasan mengapa Madrasah Asyura ini tidak dilupakan. Kita akan membahas beberapa di antaranya.
Yang paling umum adalah karena pribadi Al-Husain itu sendiri. Al-Husain menjadi pribadi yang membawa madrasah ini mampu bertahan hingga hari ini, bahkan kita yakini hingga hari kiamat, karena kemuliaan dan keagungan pribadi Abi Abdillah Al-Husain.
Namun, mengapa peristiwa ini sendiri masih selalu ada dan tidak terlupakan? Karena dalam perjalanan perjuangan Al-Husain menuju Karbala hingga syahidnya beliau, seluruh gerakan Abi Abdillah Al-Husain penuh dengan strategi, penuh dengan bashirah, dan penuh dengan kebijaksanaan.
Abi Abdillah Al-Husain melakukan perjalanan mulia dari Madinah ke Makkah pada 3 Sya’ban, kemudian menuju Kufah dan akhirnya bergeser ke Karbala, setiap langkah dan gerakannya penuh dengan perhitungan serta kepemimpinan yang tinggi.
Ketika Al-Husain keluar dari Madinah menuju Makkah, beliau keluar secara diam-diam, dalam keadaan sunyi. Al-Husain membawa keluarganya sedemikian rupa, kemudian keluar pada tengah malam agar tidak banyak yang mengetahui bahwa keturunan suci Rasulullah SAW telah meninggalkan Madinah.
Ketika Al-Husain keluar dari Madinah dalam keadaan sunyi senyap bersama seluruh keluarganya, hal ini menjadi perhatian besar masyarakat. Orang-orang mulai bertanya-tanya, mengapa keluarga Rasulullah tiba-tiba meninggalkan Madinah? Ada apa? Apa yang sedang terjadi?
Lagi-lagi Al-Husain, ketika keluar dari Madinah menuju Makkah, memikirkan bagaimana agar gerakannya ini dapat diingat oleh manusia pada saat itu.
Kemudian perjalanan Al-Husain berlanjut. Setelah beberapa waktu menetap di kota Makkah, sekitar dua sampai tiga bulan, dan setelah beliau berkomunikasi dengan masyarakat Kufah serta melihat adanya dukungan melalui surat-surat yang dikirimkan oleh masyarakat Kufah, Al-Husain akhirnya memutuskan untuk keluar dari Makkah menuju Kufah.
Karena Al-Husain mengetahui bahwa Yazid menginginkan satu hal besar yang tidak bisa ia dapatkan kecuali dari Al-Husain, yaitu legitimasi dan pengakuan.
Perjalanan Al-Husain keluar dari Makkah menuju Kufah memiliki suasana yang berbeda dibandingkan ketika beliau keluar dari Madinah menuju Makkah.
Ketika keluar dari Madinah, Al-Husain keluar secara diam-diam, pada malam hari, dalam keadaan sunyi sehingga masyarakat awalnya tidak mengetahui.
Namun ketika keluar dari Makkah menuju Karbala, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa beliau keluar pada tanggal 8 Dzulhijjah, dan riwayat lain menyebutkan tanggal 9 Dzulhijjah.
Waktu tersebut bertepatan dengan masa dekatnya pelaksanaan haji, khususnya menjelang wukuf di Arafah. Dalam ketentuan wukuf di Arafah, seseorang bahkan dilarang melakukan hal-hal yang tidak diperlukan, seperti memotong kuku dan berbagai aktivitas lainnya.
Namun Al-Husain justru keluar dari Makkah pada hari itu, pada siang hari, secara terbuka, bersama keluarga dan para sahabatnya.
Berbeda dengan ketika beliau keluar dari Madinah secara senyap, kali ini Al-Husain ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Beliau ingin agar masyarakat mengetahui dan bertanya: mengapa cucu Rasulullah keluar dari Makkah yang suci?
Seluruh masyarakat Makkah bertanya-tanya. Bahkan ada sebagian yang menyalahkan Al-Husain dan mempertanyakan mengapa beliau harus keluar dari Makkah. Akhirnya berita ini tersebar luas ke seluruh negeri Arab.
Gerakan Al-Husain penuh dengan strategi dan kebijaksanaan yang tinggi. Mengapa Al-Husain melakukan gerakannya sedemikian rupa? Mengapa penuh dengan perhitungan dan bashirah?
Karena Al-Husain memahami bahwa yang beliau hadapi saat itu bukan lagi kemungkaran yang sederhana, bukan lagi kerusakan yang biasa, dan bukan lagi keburukan yang bersifat pribadi atau hanya dilakukan oleh satu orang.
Al-Husain memahami bahwa kemungkaran yang akan beliau hadapi telah menjadi sebuah sistem.
Dalam sejarah, kita mengetahui bahwa Yazid adalah seorang yang melakukan kemungkaran. Namun jika Yazid hanya sebagai satu individu, hal tersebut mungkin belum menjadi masalah yang besar.
Tetapi ketika Yazid telah menjadi seorang pemimpin dan membawa kemungkarannya ke dalam sebuah sistem masyarakat, maka ini bukan lagi kemungkaran yang bersifat tunggal.
Kemungkaran tersebut telah disistematisasi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kita bisa membayangkan betapa gentingnya keadaan saat itu.
Oleh karenanya, Al-Husain bergerak sedemikian rupa. Beliau mengetahui betul bahwa perjuangan ini harus penuh dengan strategi, penuh dengan bashirah, penuh dengan perhitungan, dan penuh dengan kebijaksanaan.
Pada akhirnya kita mengetahui bahwa Al-Husain mengorbankan dirinya, keluarganya, dan para sahabatnya di Karbala. Kemudian peristiwa itu berlanjut hingga perjalanan para tawanan sampai ke Damaskus dan kembali ke Makkah.
Ini bukan gerakan sederhana. Ini bukan sesuatu yang berlalu begitu saja.
Karena itu kita dapat melihat hari ini, di berbagai tempat seperti Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Manado, Sri Lanka, dan berbagai penjuru dunia, masih ada majelis dan peringatan untuk mengenang Al-Husain.
Al-Husain memahami betul bahwa Yazid adalah orang yang ingin membawa kembali kemungkaran dengan menggunakan Islam sebagai alat untuk menjalankan kepentingannya.
Al-Husain mengetahui bahwa Yazid akan membawa Islam kepada kehancuran dan merusak agama ini. Buktinya tercatat dalam sejarah.
Ketika Yazid telah berkuasa, ketika peperangan telah usai, dan keluarga suci Rasulullah menjadi tawanan, kepala suci Abi Abdillah Al-Husain dibawa kepada Yazid.
Ketika kepala suci Al-Husain dibawa di hadapan Yazid, Yazid mengatakan sebuah kalimat: “Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan. Tidak ada wahyu yang turun dan tidak ada kabar dari langit.”
Perkataan ini menunjukkan bagaimana Yazid menolak nilai agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan menolak hakikat wahyu.
Ia ingin menggunakan Islam sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan dan membawa agama ini menuju kehancuran.
Inilah alasan mengapa Al-Husain harus bergerak dengan strategi yang tinggi.
Sampai akhirnya beliau mengorbankan dirinya, keluarganya, dan para pengikutnya.
Maka kita bisa meyakini sesuai dengan pesan yang sudah kita bicarakan malam sebelumnya, bahwa Muharram adalah sebuah madrasah yang dititipkan oleh Abi Abdillah Al-Husain kepada kita.
Dari sini, dari madrasah ini, kita melahirkan semangat-semangat perjuangan Al-Husain dalam kehidupan kita.
Pesan ini tidak sampai kepada kita tanpa alasan. Seperti yang juga kita bicarakan pada malam sebelumnya, Al-Mahdi menyampaikan sebuah harapan kepada kita.
Oleh karenanya, kita semua yang mendapatkan kesempatan dan keistimewaan untuk mengenal madrasah ini harus benar-benar menjadikan madrasah ini sebagai bagian dari kehidupan kita.
Sepuluh hari ini adalah momentum yang sangat baik bagi kita untuk membawa nilai-nilai Muharram ke dalam sebelas bulan yang akan datang.
Pada malam sebelumnya juga kita membicarakan bahwa kita sebagai orang yang mengatakan bahwa kita adalah pengikut Al-Husain, maka kita harus—sesuai dengan harapan Nabi dan para Imam—berada dalam satu kesepahaman dan satu barisan yang sama.
Jangan tinggalkan tempat ini, dan dengan segala hormat saya, Sayyid Thoriq Assegaff masih di sini. Jangan biarkan beliau berjalan sendirian. Jangan biarkan saudara-saudara kita berjalan sendirian dalam menjalankan apa yang ada di sini. Jangan biarkan Yayasan yang mulia ini berjalan hanya karena satu, dua, atau tiga orang.
Kita harus siap untuk berubah, dan membangun komunitas secara bersama, bukan secara pribadi-pribadi. Dan jalan paling mudah agar kita bisa siap secara komunitas adalah memulainya dari keluarga kita.
Kita perlu menyiapkan diri kita, ayah kita, ibu kita, anak-anak kita, dan saudara-saudara kita untuk menjadi bagian dari pesan-pesan Al-Husain ini.
Karena jika kita hanya berbicara tentang pribadi, sudah banyak manusia mulia yang mengorbankan dirinya dan menjadi agung karena ajaran ini. Tetapi mereka belum menjadi sebab datangnya pemerintahan Imam Mahdi.
Pribadi-pribadi mulia seperti Sayyid Ali Khamenei, Imam Khomeini, dan para ulama besar, mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki kemuliaan. Namun yang diharapkan bukan hanya pribadi yang baik, bukan hanya pribadi yang saleh, tetapi komunitas yang saleh dan komunitas yang kuat.
Madrasah Asyura adalah madrasah yang benar-benar harus kita manfaatkan. Dari titik awal ini, kita perlu mempersiapkan komunitas kita untuk menyambut kedatangan keturunan terakhir Al-Husain, Imam Mahdi as. (*Disampaikan dalam peringatan malam-malam duka Asyura di Yayasan Abu Dzar Al-Ghfari Kukar pada 18 Juni 2026)












