Search

Maulid, Ma‘rifah Muhammad, dan Makna Menjadi Umat Nabi

Sayyid Thoriq Assegaff saat menjadi penceramah di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar. (Humas Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)

Oleh: Sayyid Thoriq Assegaff

Menjadi umat Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Karunia tersebut semestinya menjadi sesuatu yang disyukuri. Sebab dalam banyak riwayat disebutkan bahwa para nabi dan rasul pernah memohon kepada Allah agar dijadikan sebagai umat Muhammad.

Artinya, kedudukan sebagai umat Muhammad merupakan sebuah kedudukan yang dirindukan oleh para anbiya dan diinginkan oleh para mursalin. Kedudukan para nabi yang begitu tinggi tidak membuat mereka merasa cukup dengan posisi spiritual yang mereka miliki. Justru terdapat kerinduan untuk menjadi bagian dari umat Muhammad.

Dari sini dapat dipahami bahwa menjadi umat Muhammad adalah sebuah karunia yang begitu agung. Sebuah kedudukan yang bahkan diharapkan oleh para nabi dan para wali. Karena itu, menjadi umat Muhammad bukan sesuatu yang seharusnya diterima begitu saja.

Ia adalah nikmat yang wajib disyukuri. Lalu, bagaimana cara mensyukurinya? Salah satunya adalah dengan berupaya mendekat kepada sumber rahmat Allah.

Dan untuk mendekat kepada Nabi Muhammad SAW, diperlukan ma‘rifah pengenalan yang lebih mendalam terhadap sosok Muhammad sebagai wujud teragung dan pimpinan para nabi dan rasul. Di titik inilah Maulid memiliki tempatnya.

Maulid sebagai Jalan Menuju Ma‘rifah Muhammad

Maulid dipandang sebagai salah satu sarana untuk memasuki pintu ma‘rifah Muhammad. Ketika seseorang memahami tingginya kedudukan sebagai umat Muhammad dan menyadari bahwa kedudukan tersebut merupakan karunia Allah yang wajib disyukuri, maka memperingati Maulid menjadi salah satu jalan untuk mendekat kepada Nabi.

Karena itu, muncul pertanyaan terhadap pandangan yang menganggap Maulid sebagai perbuatan bid’ah, pelakunya berdosa, bahkan terancam masuk neraka. Bagaimana mungkin orang yang hatinya hadir untuk mendekat kepada Muhammad justru dianggap sedang melakukan sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke dalam neraka?

Bagaimana mungkin seseorang yang hatinya dipenuhi cinta kepada Sirajul Munir, cahaya yang menerangi, justru dianggap sedang mendekat kepada dosa?

Jika Maulid menjadi sarana untuk mendekat kepada Muhammad, maka sulit dipahami jika upaya mendekat kepada Nabi tersebut justru dianggap sebagai jalan menuju keburukan.

Justru persoalan yang perlu direnungkan adalah sebaliknya. Ketika seseorang tidak memperdalam ma‘rifah kepada Muhammad, maka ia berpotensi tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Sebab nikmat terbesar yang diterima adalah nikmat menjadi umat Muhammad.

Kufur Nikmat dan Ma‘rifah Muhammad 

Kufur tidak selalu dimaknai dalam konteks kekufuran terhadap agama. Terdapat pula konsep kufur terhadap nikmat Allah. Kufur merupakan lawan dari syukur.

Ketika Allah memberikan nikmat, manusia diperintahkan untuk mensyukurinya. Namun ketika seseorang lalai dalam mensyukuri nikmat tersebut, ia dapat terjebak dalam kufur nikmat.

Dan salah satu nikmat terbesar itu adalah Muhammad SAW. Karena itu, memperdalam ma‘rifah kepada Nabi bukan sekadar persoalan mengenal sejarah kelahiran beliau. Lebih jauh dari itu, ma‘rifah merupakan bagian dari usaha memahami dan mensyukuri karunia terbesar yang telah diberikan Allah.

Ketika Manhaj Muhammad Kehilangan Rahmat

Terhadap kelompok-kelompok yang anti-Maulid. Tidak mengherankan apabila kelompok-kelompok anti-Maulid kemudian terlihat jauh dari manhaj Muhammad.

Sebab Muhammad adalah sosok yang oleh Allah disebut sebagai rahmat. Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Namun, sebagian orang yang anti-Maulid justru sering menampilkan wajah marah, wajah permusuhan, merasa paling benar, serta menganggap kelompok lain salah, sesat, bahkan kafir.

Di sinilah kita melihat adanya hubungan antara jauhnya seseorang dari Muhammad dengan sikap yang ditampilkannya.

Jika seseorang benar-benar dekat dengan Muhammad, semestinya nilai rahmat yang dibawa Nabi juga tercermin dalam kehidupannya. Namun yang terlihat justru sebaliknya. Ada orang yang mengaku mengikuti Nabi, tetapi mudah mengkafirkan orang lain.

Tugas Nabi adalah mengislamkan orang kafir. Sementara tugas sebagian orang yang anti-Maulid justru mengkafirkan orang Muslim. Di situlah terlihat pertentangan yang sangat jauh.

Nabi datang membawa rahmat, sedangkan sebagian pengikut yang mengatasnamakan pembelaan terhadap agama justru menampilkan kemarahan dan permusuhan.

Maulid sebagai Peringatan atas Eksistensi Semesta

Bagi Syiah, memperingati Maulid bukan sekadar mengenang hari kelahiran Nabi. Kelahiran Nabi Muhammad tidak dipandang hanya sebagai proses biologis.

Lebih dari itu, kelahiran Nabi dipahami sebagai proses kosmik, sebuah proses yang berkaitan dengan terciptanya semesta sebagai wadah rahmat dan kasih ilahi. Karena itu, memperingati kelahiran Nabi pada hakikatnya juga dipandang sebagai memperingati kelahiran semesta dan pancaran kasih Tuhan.

Jika pemahaman ini diterima, maka Maulid memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Maulid bukan sekadar mengenang tanggal kelahiran seorang manusia. Ia adalah peringatan atas hadirnya sosok yang dipandang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Muhammad dan Rahmat Allah

Dalam Bihar al-Anwar, yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far Shadiq, disebutkan bahwa seandainya bukan karena Muhammad, bumi dan langit tidak diciptakan. Allah menciptakan semesta agar kekuasaan-Nya diketahui dan rahmat-Nya dapat dinikmati.

Dalam kerangka tersebut, rahmat terbesar Allah dikaitkan dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW. Wujud Muhammad, baik dalam bentuk nur maupun dalam bentuk basyar, dipandang sebagai pancaran cinta kasih Allah sekaligus bukti kekuasaan-Nya kepada semesta.

Wujud Muhammad dipandang sebagai rahmat bagi setiap alam, mulai dari alam penciptaan, alam ruh, alam manusia, alam rahim, alam barzakh, hingga alam akhirat.

Dalam pemahaman tersebut, Muhammad menjadi sarana turunnya rahmat Allah kepada semesta.

Keistimewaan Menjelang Kelahiran Nabi

Nuansa spiritual tersebut, bahkan telah hadir sejak proses kehamilan Nabi Muhammad.

Dalam riwayat yang dikutip dari Bihar al-Anwar, disebutkan bahwa sejak awal kehamilan Sayyidah Aminah telah terjadi berbagai peristiwa yang berkaitan dengan unsur ilahi. Setiap bulan disebutkan ada makhluk bercahaya yang datang menemui Sayyidah Aminah. Mereka memperkenalkan diri dan memberikan kabar mengenai bayi yang sedang dikandungnya.

Dalam riwayat tersebut, para nabi terdahulu hadir untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Sayyidah Aminah karena ia mengandung pemimpin para nabi dan sosok yang dikasihi Tuhan semesta alam.

Kelahiran bayi tersebut disebut sebagai awal dari cahaya yang tidak pernah padam. Para nabi yang hadir juga disebut memberikan salam kepada bayi yang masih berada dalam kandungan Sayyidah Aminah.

Kelahiran pada 17 Rabiul Awal

Dalam riwayat Syiah, Nabi Muhammad SAW disebut lahir pada 17 Rabiul Awal, sekitar 50 hari setelah Allah menghancurkan pasukan bergajah Abraha.

Kelahiran tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai peristiwa besar yang menyertainya. Di antaranya adalah serangan Abraha dengan pasukan bergajah ke Makkah.

Kemudian terdapat kisah mengenai retaknya istana Kisra, kaisar Persia, serta runtuhnya sejumlah bagian istana tersebut. Api di kuil Majusi yang disebut telah menyala dalam waktu sangat lama juga dikisahkan tiba-tiba padam. Danau Sawah disebut mengering, berhala-berhala di Ka’bah juga dikisahkan runtuh.

Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian dipahami sebagai tanda bahwa tirani telah runtuh dan cahaya kebenaran mulai hadir. Seakan-akan alam memberikan pesan bahwa kekuatan-kekuatan selain Allah telah tumbang sejak kelahiran Muhammad SAW.

Peristiwa-peristiwa tersebut terdapat dalam sejumlah riwayat Sunni dan Syiah mengenai tanda-tanda kelahiran Nabi.

Cahaya saat Muhammad Dilahirkan

Kesaksian Sayyidah Aminah mengenai kelahiran Nabi juga menjadi bagian penting.

Ketika Muhammad lahir, disebutkan bahwa bayi tersebut disertai cahaya yang menerangi seluruh ruangan.

Cahaya itu bahkan digambarkan begitu terang sehingga Sayyidah Aminah dapat melihat istana-istana di Damaskus.

Dalam riwayat yang disampaikan, Nabi juga disebut langsung bersujud setelah dilahirkan.

Beliau mengangkat jarinya dan kemudian mengucapkan doa.

Sayyidah Aminah disebut mendengar suara dari mulut bayi tersebut.

Kata yang keluar adalah: “Ummati.” atau Umatku.

Kata tersebut kemudian dipandang sebagai salah satu gambaran paling kuat mengenai hakikat Muhammad.

Sejak kelahirannya, perhatian Nabi telah tertuju kepada umat.

Esensi Cinta Muhammad kepada Umat 

Kata “Ummati” kemudian dikaitkan dengan kisah mengenai hari terakhir kehidupan Nabi. Disebutkan bahwa kata yang keluar dari mulut Nabi pada penghujung hidupnya juga berkaitan dengan umat.

Di sanalah kita bisa menarik sebuah kesimpulan tentang esensi Muhammad. Esensi Muhammad adalah cinta dan kasih. Nabi adalah rahmat bagi semesta, terutama bagi umat manusia. Karena itu, Maulid seharusnya tidak berhenti pada aspek kegembiraannya saja.

Pada hakikatnya, Maulid menjadi momentum untuk kembali memahami cinta dan kasih yang menjadi bagian dari diri Muhammad SAW.

Tahun Penuh Berkah

Tahun kelahiran Nabi dikenal sebagai Tahun Gajah. Namun, dalam riwayat, masyarakat Makkah juga menyebutnya sebagai Al-Barakah, tahun yang penuh keberkahan.

Pada masa kehamilan Sayyidah Aminah hingga kelahiran Nabi, disebutkan hujan turun secara berkala di Makkah. Padahal Makkah dikenal sebagai wilayah yang kering. Udara panas yang sebelumnya menyelimuti kota disebut berubah menjadi lebih sejuk dan nyaman.

Bumi Makkah juga dikisahkan menjadi hijau. Keadaan tersebut kemudian dipandang sebagai bentuk keberkahan yang menyertai kelahiran Nabi.

Dalam riwayat yang disampaikan, bahkan disebutkan bahwa perempuan-perempuan yang hamil pada masa tersebut banyak melahirkan bayi laki-laki. Hal itu kemudian dikaitkan dengan kondisi masyarakat jahiliyah yang pada saat itu memandang kelahiran anak perempuan sebagai aib.

Bayi-bayi perempuan bahkan dikisahkan dibunuh ketika lahir. Namun, dalam kisah tersebut, pembunuhan terhadap bayi perempuan berhenti selama masa kelahiran Nabi. Karena itulah tahun tersebut digambarkan sebagai tahun yang penuh keberkahan.

Langit Makkah Dipenuhi Malaikat

Riwayat yang dikutip dari Bihar al-Anwar juga menyebutkan bahwa langit Makkah ketika kelahiran Nabi dipenuhi para malaikat.

Mereka disebut turun dan berbaris untuk memberikan salam dan doa kepada bayi yang kelak menjadi pembimbing manusia menuju tauhid.

Gambaran tersebut semakin memperkuat pandangan bahwa kelahiran Muhammad bukan sebuah peristiwa biasa.

Ia dipandang sebagai peristiwa yang membawa cahaya, rahmat, keberkahan, dan petunjuk bagi manusia.

Maulid bukan sekadar Mengenang Hari Lahir

Pada akhirnya, inti dari seluruh pembahasan tersebut kembali kepada makna Maulid.

Bagi Syiah, memperingati Maulid bukan sekadar mengenang hari kelahiran Nabi dan bergembira atas kelahiran beliau.

Maulid adalah sarana untuk mendekat kepada Muhammad. Sarana untuk memperdalam ma‘rifah sebagai sarana untuk mensyukuri karunia menjadi umat Muhammad.

Dan sarana untuk kembali mengingat bahwa Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu, perdebatan mengenai apakah Maulid pernah dilakukan Nabi, sahabat, atau generasi setelahnya tidak semestinya membuat kita kehilangan substansi dari peringatan tersebut.

Jika tujuan Maulid adalah mengenal Muhammad, mencintai Muhammad, dan mendekat kepada Muhammad, maka yang harus diperhatikan bukan hanya bentuk peringatannya.

Yang lebih penting adalah apa yang lahir dari kecintaan tersebut dalam diri kita. Sebab menjadi umat Muhammad adalah sebuah karunia.

Dan karunia sebesar itu semestinya tidak hanya dirayakan, tetapi juga dikenal, disyukuri, dan dihidupkan melalui cinta kepada sosok yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itulah makna Maulid: mengenal Muhammad sebagai jalan untuk mensyukuri nikmat menjadi umat Muhammad. (*Disampaikan dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada 5 September 2026)

Penulis: Ulwan Murtadho

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA