Search

DPW ABI Kaltim Buka Pendidikan Tingkat Menengah, Dorong Kader Perkuat SDM dan Khidmat dalam Organisasi

Sekretaris DPW ABI Kaltim, Ahmad Fauzi. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadha)

BERITAALTERNATIF.COM – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Provinsi Kalimantan Timur secara resmi membuka kegiatan Pendidikan Tingkat Menengah (PTM) di Yayasan Azzahra Balikpapan, Sabtu (15/8/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung pada 15-17 Agustus 2026 tersebut mengusung tema Mencetak Kader Mahdawi sebagai Pengkhidmat Organisasi. Pembukaan PTM dilakukan oleh Sekretaris DPW ABI Kaltim, Ahmad Fauzi, yang hadir mewakili Ketua DPW ABI Kaltim Sayyid Thoriq Assegaff.

Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda kaderisasi ABI di Kalimantan Timur untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), wawasan keislaman, pemahaman organisasi, serta kesiapan kader dalam menjalankan peran dan pengkhidmatan di tengah masyarakat.

Pembukaan PTM turut dihadiri jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal Arif Ambari, Ketua Departemen Kaderisasi Ustadz Muhammad Jawad, dan Wakil Departemen Kaderisasi Sayyid Muhammad Abbas Al-Hasny.

Selain itu, hadir pula perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah Muslimah ABI Kaltim, Dewan Pimpinan Wilayah Pandu ABI Kaltim, serta perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ABI dari sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

SDM Jadi Fondasi Utama Organisasi

Dalam sambutannya, Ahmad Fauzi menekankan bahwa SDM merupakan unsur paling penting dalam membangun dan membesarkan sebuah organisasi.

Menurutnya, sebuah organisasi, komunitas, maupun lembaga tidak semata-mata dinilai dari besarnya struktur atau jumlah anggotanya. Kekuatan utama organisasi justru terletak pada kualitas manusia yang berada di dalamnya.

Fauzi menjelaskan bahwa pemahaman terhadap Islam dalam perspektif Ahlulbait tidak hanya dibangun melalui sistem, konstruksi sejarah, tatanan politik, maupun regulasi, tetapi juga melalui keteladanan manusia yang menjadi sumber utama ajaran tersebut.

“Yang unsur utamanya itu adalah manusianya, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad Saw beserta Ahlulbaitnya,” ujar dia dalam sambutannya.

Ia kemudian mengajak para peserta PTM untuk menjadikan kegiatan kaderisasi sebagai momentum meningkatkan kualitas diri.

Fauzi menegaskan, keikutsertaan dalam pendidikan kader tidak akan memberikan hasil maksimal apabila peserta tak memiliki kemauan untuk menerima materi, memperluas wawasan, dan melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

“Kaderisasi itu adalah agar kita ter-upgrade. Agar kita mendapatkan wawasan yang sangat dalam, terutama keimanan, konsep keislaman, konsep gerakan, sehingga bisa kita aktualisasikan dalam diri kita,” katanya.

Dia menilai, proses kaderisasi harus dipandang sebagai kebutuhan internal setiap kader, bukan sekadar kewajiban karena adanya instruksi organisasi.

Ia berharap para peserta tidak hanya mengikuti kegiatan secara formal, tetapi benar-benar membawa pulang pengetahuan dan semangat baru untuk kemudian diterapkan dalam aktivitas organisasi di daerah masing-masing.

Kader Diminta Tidak Pasif

Dalam kesempatan tersebut, Fauzi juga mengingatkan kader ABI agar tidak bersikap pasif dalam menjalankan aktivitas organisasi.

Menurut dia, kegiatan pengembangan diri dan pengkhidmatan semestinya tidak hanya dilakukan ketika terdapat agenda resmi organisasi. Para kader diharapkan mampu berinisiatif menghidupkan kegiatan di lingkungan masing-masing.

Ia mencontohkan kegiatan di yayasan, komunitas, maupun agenda keagamaan rutin yang dapat menjadi ruang untuk membangun interaksi dan memperkuat keberadaan organisasi.

“Harusnya itu menjadi aktivitas kita sehari-hari. Kita harus menghidupkan yayasan-yayasan kita, malam Rabu, malam Jumat, kita harus menghidupkan itu semua. Kita harus menghidupkan organisasi ini tanpa ada instruksi,” imbuhnya.

Fauzi juga mengingatkan bahwa tantangan dalam kaderisasi tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Menurutnya, sikap malas belajar, enggan beraktivitas, dan menunggu instruksi juga dapat menjadi hambatan dalam pengembangan organisasi.

Karena itu, dia mendorong kader untuk membangun kesadaran bahwa peningkatan kapasitas diri merupakan tanggung jawab masing-masing individu.

Dorong Kader Keluar dari Sikap Insecure

Lebih jauh, ia mengajak para kader ABI untuk tidak terjebak dalam sikap defensif ketika berhadapan dengan masyarakat luas.

Fauzi menekankan bahwa kader ABI harus memiliki kepercayaan diri untuk berinteraksi dan menunjukkan kapasitas yang dimiliki, termasuk di tengah berbagai pandangan dan perdebatan mengenai keberadaan ABI.

Menurutnya, organisasi tidak boleh terus-menerus menghabiskan energi hanya untuk memberikan klarifikasi mengenai posisi kelompoknya. Sebaliknya, kader perlu meningkatkan kompetensi agar dapat berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat.

“Jangan dikira kita harus sibuk hanya untuk mengklarifikasi tentang posisi sesat atau tidak sesatnya kita ini. Sedangkan maunya musuh, kita harus sibuk di situ. Sehingga kita insecure kalau bertemu orang,” tuturnya.

Dia mengajak para peserta PTM mengubah pola pikir tersebut dengan meningkatkan kualifikasi dan kompetensi masing-masing.

Ia berpendapat, kader idealnya memiliki kemampuan yang membuat keberadaannya dibutuhkan oleh masyarakat.

“Bahkan apabila kita mempunyai kualifikasi tertentu, orang yang mencari kita,” katanya.

Dengan demikian, peran kader ABI diharapkan tidak berhenti pada upaya mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi berkembang menjadi kontribusi yang lebih luas di tengah masyarakat.

Belajar dari Pengelolaan Organisasi dan Negara

Dalam sambutannya, Fauzi juga menyinggung pentingnya kader ABI mempelajari berbagai model pengelolaan organisasi dan kehidupan sosial yang dapat menjadi inspirasi.

Dia menyebut Iran sebagai contoh yang menurutnya dapat dipelajari dari sisi pengelolaan berbagai sektor, termasuk manajemen, bisnis, energi, fiskal, dan pembangunan ketahanan spiritual.

Menurutnya, kekuatan suatu negara maupun organisasi tidak semata-mata diukur dari indikator material, tetapi juga dari kemampuan mengelola sumber daya dan mempertahankan kemandirian.

“Di bawah naungan Ahlulbait dan wilayatul faqih, mereka mampu mengelola berbagai macam manajemen. Manajemen keuangan, manajemen bisnis, dan hal-hal lain yang mungkin kita tidak tahu dalam lindungan syariat Islam,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa aspek ketahanan spiritual juga harus menjadi perhatian dalam membangun kualitas kader dan organisasi.

Bagi Fauzi, pengalaman dan perkembangan berbagai organisasi maupun negara perlu dipelajari untuk mendapatkan inspirasi, bukan sekadar dijadikan bahan perbandingan.

PTM Diproyeksikan Melahirkan Kader Tingkat Wilayah

Fauzi menyampaikan bahwa PTM bukanlah akhir dari proses kaderisasi. Para peserta yang mengikuti pendidikan tersebut justru diharapkan mampu melanjutkan proses pengembangan dirinya setelah kegiatan berakhir.

Dia mengatakan bahwa peserta PTM akan diproyeksikan untuk mengambil peran pengkhidmatan pada tingkat yang lebih tinggi, termasuk dalam lingkup provinsi atau wilayah.

“Ketika kita sudah mencapai level PTM, tingkat khidmat kita, kita proyeksikan untuk menjadi levelnya yaitu level provinsi, level wilayah. Jadi teman-teman diproyeksikan untuk itu,” katanya.

Karena itu, kader yang merasa masih tertinggal dalam hal pengetahuan maupun kemampuan diminta segera meningkatkan kualifikasinya.

Proses tersebut, lanjutnya, tidak boleh hanya bergantung pada forum pendidikan formal. Setelah PTM, kader diharapkan terus belajar melalui berbagai kegiatan, evaluasi, diskusi, seminar, dan aktivitas organisasi lainnya.

Ia juga mendorong para kader untuk proaktif menawarkan kemampuan yang dimiliki kepada struktur organisasi di daerah.

Menurutnya, setiap kader memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan komunitas. Karena itu, kader tidak perlu menunggu ditunjuk atau diperintah untuk mengambil peran.

“Silakan koordinasi, tawarkan kemampuan kita di mana untuk mengembangkan komunitas kita ini. Nanti pimpinan akan memfasilitasi dan hal-hal teknis lainnya,” ujarnya.

Fauzi berharap pola kerja tersebut dapat membangun budaya organisasi yang lebih dinamis, mandiri, dan berbasis inisiatif kader.

Dengan semakin banyak kader yang aktif dan memiliki kompetensi, organisasi diharapkan mampu memperluas pengkhidmatannya di tengah masyarakat.

Menutup sambutannya, dia berharap PTM 2026 dapat menjadi momentum penting bagi para peserta untuk melakukan refleksi sekaligus menyusun langkah baru dalam pengkhidmatan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan organisasi sangat bergantung pada kualitas manusia yang menggerakkannya.

Karena itu, kegiatan kaderisasi diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi selama tiga hari, tetapi berlanjut dalam bentuk aktivitas nyata di daerah masing-masing.

“Hal ini yang saya rasa perlu kita renungkan bersama dan setelah ini menjadi harapan kita menjadi titik balik agar organisasi kita ini menjadi besar dengan SDM-SDM di dalamnya,” pungkasnya.

Dengan tema Mencetak Kader Mahdawi sebagai Pengkhidmat Organisasi, PTM ABI Kaltim diharapkan mampu menjadi ruang pembinaan yang memperkuat kapasitas intelektual, spiritual, organisatoris, sekaligus semangat pengabdian para kader ABI di Kalimantan Timur. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA