BERITAALTERNATIF.COM – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Kalimantan Timur (Kaltim) bersilaturahmi dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kaltim, Senin (24/8/2026) pukul 14.00 Wita.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kesekretariatan PWNU Kaltim tersebut berlangsung dalam suasana hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan.
Silaturahmi menjadi momentum bagi kedua organisasi untuk memperkuat ukhuwah islamiyah sekaligus membuka peluang sinergi dalam berbagai kegiatan keumatan dan kebangsaan.
Rombongan DPW ABI Kaltim dipimpin Ketua DPW ABI Kaltim, Sayyid Thoriq Assegaff, bersama jajaran pengurus dari sejumlah departemen. Rombongan disambut langsung Ketua PWNU Kaltim, H. M. Fauzi A. Bahtar, S.H., bersama jajaran pengurus PWNU Kaltim.
Meneguhkan Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Dalam sambutannya, Sayyid Thoriq Assegaff menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan PWNU Kaltim.
Menurutnya, pertemuan tersebut penting untuk memperkuat komunikasi sekaligus menemukan ruang-ruang kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dia menyoroti adanya sejumlah kedekatan kultur dan tradisi keislaman antara NU dan ABI.
Dalam konteks tersebut, ia mengutip pernyataan almarhum K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menggambarkan “NU adalah Syiah minus Imamah dan Syiah sebagai NU plus Imamah”.
Sayyid Thoriq berpendapat, dinamika yang berkembang di tengah umat Islam maupun situasi geopolitik global saat ini semakin memperlihatkan pentingnya persatuan dan persaudaraan.
Dia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah terjebak dalam berbagai upaya yang mempertentangkan kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah tradisi keagamaan yang berkembang di lingkungan NU, seperti kegiatan maulidan, yang dalam situasi tertentu mendapat tudingan sesat dari kelompok tertentu.
Menurutnya, pengalaman semacam itu menjadi salah satu titik yang dapat mempertemukan pengalaman ABI dan NU dalam menghadapi dinamika keberagamaan di tengah masyarakat.
Sayyid Thoriq menggambarkan NU sebagai sosok “ayah” dalam kehidupan umat Islam Indonesia, mengingat perjalanan sejarah dan kontribusinya yang panjang bagi bangsa. Sementara ABI, kata dia, merupakan organisasi yang relatif lebih muda.
“Harapan kami, silaturahmi ini tidak berhenti pada pertemuan, tetapi dapat dilanjutkan dalam bentuk kerja sama dan kegiatan nyata untuk umat dan bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menegaskan bahwa ABI merupakan organisasi yang mandiri dan tidak berada di bawah pengaruh organisasi maupun negara lain.
Menurutnya, kesamaan ideologi atau adanya kedekatan pandangan dengan pihak tertentu tidak berarti menghilangkan kemandirian ABI dalam menentukan sikap dan kebijakan organisasi.
PWNU Kaltim Sambut Baik Kunjungan ABI
Ketua PWNU Kaltim, H. M. Fauzi A. Bahtar, S.H., menyampaikan apresiasi atas kunjungan jajaran DPW ABI Kaltim.
Dia menyambut baik inisiatif silaturahmi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ukhuwah dan membangun kebersamaan antarelemen umat Islam di Kaltim.
Fauzi berpendapat, komunikasi dan silaturahmi antarlembaga keagamaan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
PWNU Kaltim, lanjutnya, terbuka untuk bersama-sama mengambil bagian dalam berbagai ikhtiar menyebarkan nilai-nilai keislaman serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
Sementara itu, Sekretaris PWNU Kaltim, Dr. Abubakar Madani, memaparkan perjalanan sejarah dan peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dia juga menjelaskan struktur kepengurusan PWNU Kaltim beserta sejumlah program dan kegiatan yang dijalankan organisasi tersebut.
Abubakar berharap keberadaan ABI dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga dan merawat umat, sekaligus memperkuat kontribusi organisasi keagamaan dalam kehidupan kebangsaan.
Tiga Ukhuwah sebagai Landasan Kebersamaan
Wakil Sekretaris PWNU Kaltim, Asman Azis, M.A., turut menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman umat Islam.
Dia mengutip pesan Sayyid Ali Khamenei mengenai hubungan Sunni dan Syiah sebagai saudara serta pentingnya mewaspadai berbagai upaya yang berusaha mempertentangkan kedua kelompok tersebut.
Asman juga mengisahkan sejumlah pengalaman NU dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk perjuangan mempertahankan semangat kemerdekaan pada masa kolonial.
Pemaparan tersebut berlangsung dalam suasana cair. Beberapa bagian bahkan diselingi canda sehingga suasana pertemuan semakin akrab.
Asman kemudian mengingatkan pentingnya tiga prinsip ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama umat Islam; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama warga bangsa Indonesia; serta ukhuwah basyariah, persaudaraan sesama manusia.
Menurutnya, tiga konsep tersebut dapat menjadi landasan dalam membangun kehidupan sosial yang damai dan saling menghormati.
Dalam konteks ukhuwah basyariah, ia mengutip pesan Imam Ali as yang menekankan bahwa manusia memiliki hubungan persaudaraan, baik karena kesamaan agama maupun karena kesamaan sebagai sesama manusia.
Membuka Ruang Sinergi Keumatan dan Kebangsaan
Pertemuan antara DPW ABI Kaltim dan PWNU Kaltim tidak hanya menjadi ajang perkenalan antarpengurus, tetapi juga membuka ruang komunikasi untuk kemungkinan kolaborasi di masa mendatang.
Kedua pihak memiliki perhatian terhadap penguatan kehidupan keagamaan, pendidikan, sosial, kemanusiaan, serta kontribusi organisasi Islam terhadap kehidupan kebangsaan.
Silaturahmi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Kerja sama konkret di berbagai bidang dinilai dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman umat Islam.
Buku dan Plakat Simbol Persaudaraan
Di penghujung pertemuan, DPW ABI Kaltim menyerahkan buku Manifesto ABI dan sejumlah buku lainnya kepada PWNU Kaltim.
Selain buku, DPW ABI Kaltim juga menyerahkan plakat sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan antara kedua organisasi.
Penyerahan tersebut menjadi penanda berakhirnya pertemuan sekaligus simbol harapan agar komunikasi yang telah terbangun dapat terus berkembang.
Kedua pihak berharap silaturahmi tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi sinergi konkret dalam berbagai kegiatan keumatan dan kebangsaan di Kaltim. (*)
Penulis: Muhammad Saleng
Editor: Ufqil Mubin











