Search

Pramuka PUI dan Kapolri: Menyatukan Semangat Keislaman dan Kebangsaan

Penulis bersama Kapolri. (Dok. Penulis)

Oleh: H. Nur Ihsan Zaidi*

Ada sebuah pesan penting dari Selabintana, Sukabumi, pada September 2026. Ketika Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo hadir di tengah peserta Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional Pramuka PUI, yang bertemu sesungguhnya bukan sekadar seorang pejabat negara dengan peserta perkemahan. Yang bertemu adalah negara, agama, pendidikan karakter, dan generasi muda dalam satu ruang kebangsaan.

Di tengah kegaduhan ruang digital, polarisasi sosial, krisis keteladanan, dan tantangan moral generasi muda, perjumpaan semacam ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada seremoni. Kita sedang diingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia masa depan membutuhkan manusia yang mampu memimpin dirinya, menghormati sesama, mencintai bangsanya, dan memiliki fondasi moral yang kokoh.

Karena itu, kehadiran Kapolri dalam Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional Pramuka PUI 2026 patut dibaca sebagai momentum untuk memperkuat satu gagasan penting: keislaman dan kebangsaan bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi energi bersama untuk melahirkan generasi Indonesia yang berkarakter.

Ketika Keislaman Bertemu Kebangsaan

Dalam diskursus publik, agama dan kebangsaan terkadang masih ditempatkan secara berhadap-hadapan. Seolah-olah menjadi Muslim yang taat berarti harus mengambil jarak dari identitas kebangsaan, atau sebaliknya, menjadi nasionalis berarti harus mengurangi ekspresi keberagamaan. Cara pandang tersebut terlalu menyederhanakan realitas Indonesia.

Islam memiliki ajaran yang kuat tentang persatuan, persaudaraan, keadilan, tanggung jawab sosial, dan kemaslahatan. Nilai-nilai tersebut justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa.

Allah Swt berfirman: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa persatuan bukan sekadar kebutuhan politik, tetapi juga bagian dari nilai agama.

Dalam konteks Indonesia, persatuan umat harus berjalan seiring dengan persatuan bangsa. Perbedaan suku, bahasa, budaya, organisasi, dan pilihan sosial-politik tidak boleh menghilangkan kesadaran bahwa kita berada dalam satu rumah kebangsaan.

Maka, seorang Muslim Indonesia dapat sekaligus menjadi pribadi yang taat beragama dan warga negara yang bertanggung jawab. Bahkan semestinya demikian. Keimanan yang kuat harus melahirkan kepedulian terhadap bangsa.

Pramuka bukan sekadar Kemah

Di sinilah posisi strategis Pramuka PUI menjadi penting. Kemah Nasional jangan dilihat hanya sebagai kegiatan mendirikan tenda, membuat api unggun, mengikuti apel, atau menyelesaikan berbagai perlombaan. Semua itu hanyalah medium. Substansinya adalah pendidikan karakter.

Pramuka mengajarkan disiplin, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan keberanian menghadapi tantangan. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam.

Rasulullah Saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut seharusnya menjadi filosofi dasar pendidikan kepemimpinan generasi muda. Kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan. Kepemimpinan dimulai ketika seseorang mampu memimpin dirinya sendiri.

Mampu bangun tepat waktu adalah kepemimpinan. Mampu menaati aturan adalah kepemimpinan. Mampu mengakui kesalahan adalah kepemimpinan. Mampu menghormati orang lain adalah kepemimpinan. Dan mampu menahan diri ketika memiliki kekuasaan adalah kepemimpinan.

Karena itu, tema Kemah Nasional PUI 2026, Generasi Muda PUI Tumbuh Menjadi Generasi yang Bisa Memimpin Dirinya dan Memimpin Lingkungannya, sesungguhnya merupakan jawaban terhadap kebutuhan bangsa.

Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya bertanya,  “Siapa yang akan memimpin saya?”, tetapi juga berani bertanya,  “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki lingkungan saya?”

Belajar dari Madinah

Sejarah Islam memberikan contoh yang sangat kuat tentang bagaimana agama dapat menjadi kekuatan pembangun masyarakat.

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, beliau tidak membangun masyarakat hanya berdasarkan kesamaan asal-usul. Rasulullah membangun persaudaraan, tata kehidupan bersama, dan tanggung jawab sosial.

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar menjadi salah satu contoh monumental. Alquran menggambarkan sikap kaum Anshar: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Inilah karakter yang sedang dibutuhkan Indonesia. Kita terlalu sering bertanya tentang hak, tetapi kurang berbicara tentang kewajiban. Kita mudah menuntut negara, tetapi kadang lupa bertanya apa yang dapat kita kontribusikan. Kita ingin dihargai, tetapi belum tentu siap menghargai. Kita ingin didengar, tetapi belum tentu bersedia mendengarkan.

Karena itu, pendidikan karakter harus mengubah orientasi generasi muda dari “apa yang saya dapatkan?” menjadi “apa yang dapat saya berikan?”

Rasulullah Saw juga mengajarkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Inilah semangat yang seharusnya menjadi jiwa Pramuka PUI.

Mengapa Kehadiran Kapolri Penting?

Kehadiran Kapolri di tengah generasi muda PUI mengandung pesan bahwa pembinaan generasi bukan hanya urusan keluarga atau sekolah.

Negara memiliki kepentingan besar terhadap lahirnya generasi yang berkarakter.

Polri memiliki mandat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Tetapi keamanan jangka panjang tidak hanya dibangun dengan pendekatan penegakan hukum.

Keamanan juga dibangun melalui pendidikan. Anak muda yang memiliki karakter kuat akan lebih mampu menolak kekerasan, tidak mudah terprovokasi, bijak menggunakan media sosial, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara dewasa.

Dengan kata lain, investasi terbesar dalam menjaga masa depan bangsa bukan hanya membangun infrastruktur keamanan, tetapi membangun manusia yang memiliki kesadaran untuk menjaga keamanan bersama.

Di sinilah sinergi Polri dengan organisasi kepemudaan dan keagamaan menjadi penting.

Generasi Digital Memerlukan Kompas Moral

Generasi muda hari ini menghadapi dunia yang berbeda. Informasi berada di ujung jari. Teknologi kecerdasan buatan berkembang cepat. Media sosial mampu membuat seseorang terkenal dalam hitungan jam.

Namun, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap karakter. Generasi muda harus memiliki literasi digital, tetapi juga harus memiliki kompas moral.

Tidak semua yang viral layak dipercaya. Tidak semua yang benar layak disampaikan tanpa mempertimbangkan cara dan konteks. Tidak semua yang dapat dilakukan dengan teknologi berarti baik untuk dilakukan.

Islam memberikan prinsip yang sangat jelas tentang pentingnya menjaga ucapan dan perilaku. Allah Swt berfirman: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Prinsip ini relevan bukan hanya untuk ucapan, tetapi juga untuk tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai aktivitas di ruang digital. Jempol kita di media sosial juga harus memiliki akhlak.

PUI dan Indonesia Emas 2045

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai prioritas.

Indonesia Emas bukan hanya tentang gedung pencakar langit, jalan tol, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi.

Indonesia Emas adalah tentang manusia Indonesia. Manusia yang beriman. Manusia yang berilmu. Manusia yang produktif. Manusia yang toleran. Manusia yang disiplin. Manusia yang mampu bekerja sama. Dan yang paling penting, manusia yang memiliki integritas.

PUI mempunyai modal sosial untuk ikut mengambil bagian dalam agenda besar tersebut melalui lembaga pendidikan, dakwah, pesantren, madrasah, sekolah, kaderisasi, dan gerakan kepemudaan.

Pramuka PUI harus menjadi salah satu laboratorium untuk melahirkan kader seperti itu.

Kader yang memiliki iman sebagai fondasi, ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai karakter, kebangsaan sebagai kesadaran, dan pengabdian sebagai orientasi.

Dari Selabintana untuk Indonesia

Pada akhirnya, keberhasilan Kemah Nasional PUI 2026 tidak boleh diukur hanya dari meriahnya acara. Ukuran keberhasilannya sederhana: apakah setelah pulang dari perkemahan, para peserta menjadi manusia yang lebih baik?

Apakah mereka menjadi lebih disiplin? Lebih bertanggung jawab? Lebih rajin beribadah? Lebih peduli kepada sesama? Lebih bijak menggunakan teknologi? Lebih siap memimpin? Dan yang tidak kalah penting: lebih mencintai Indonesia?

Jika jawabannya ya, maka Kemah Nasional telah melampaui batas sebuah kegiatan organisasi. Ia telah menjadi investasi kebangsaan.

Kehadiran Kapolri di tengah Pramuka PUI hendaknya menjadi awal dari penguatan sinergi yang lebih konkret antara Polri, PUI, Gerakan Pramuka, lembaga pendidikan, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun karakter generasi muda.

Sebab Indonesia tidak boleh hanya memiliki generasi yang cerdas, tetapi harus memiliki generasi yang cerdas dan berintegritas.

Tidak cukup generasi yang berani, tetapi harus berani dalam kebenaran. Tidak cukup generasi yang religius, tetapi harus menghadirkan agama dalam bentuk akhlak dan kemanfaatan. Tidak cukup generasi yang nasionalis, tetapi harus menerjemahkan kecintaan kepada bangsa dalam kerja nyata.

Di sinilah keislaman dan kebangsaan menemukan titik temu. Islam memberi nilai. Pramuka membentuk karakter. Negara menyediakan ruang pengabdian. Generasi muda menjadi pelaku perubahan.

Dari Selabintana, pesan itu semestinya menggema jauh melampaui batas perkemahan: Jadilah Muslim yang membawa rahmat. Jadilah Pramuka yang berkarakter. Jadilah warga negara yang bertanggung jawab. Dan jadilah generasi yang mampu memimpin diri, memimpin lingkungan, serta berkhidmat untuk Indonesia.

Sebab Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dengan sendirinya. Ia harus dipersiapkan hari ini—dengan membangun manusianya. (*Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PUI)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA