Search

Muhammad SAW dalam Pandangan Ali AS

Penulis. (Alqurba TV)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Siapakah yang lebih berhak menggambarkan Muhammad selain orang yang hidup bersamanya sejak kanak-kanak, yang tumbuh dalam asuhannya, yang mengenalnya sebelum dunia mengenalnya sebagai Rasul, dan yang menyaksikan kehidupannya dari jarak yang tidak dimiliki orang lain detik demi detik, menyaksikan cahaya wahyu dan menghirup semerbak ayat suci? Siapakah yang lebih berhak berbicara tentang Muhammad selain orang yang diasuhnya, dididiknya, dipercayainya, didampinginya, dijadikannya penjaga, juru bicara, pembawa amanah, panglima, dan andalan di medan-medan paling genting?

Ali mengenal Muhammad sebelum kenabian menjadi sejarah dunia. Muhammad mengasuhnya sejak kecil, mendekapnya, memberinya makan, membaringkannya di sisinya, dan membentuknya dengan teladan akhlaknya. Ali sendiri mengatakan bahwa ia mengikuti Muhammad seperti anak unta mengikuti jejak induknya. Ia menyertai Muhammad ketika beliau menyendiri di Gua Hira, menyaksikan permulaan wahyu, dan hidup begitu dekat dengan Rasulullah sehingga Muhammad berkata kepadanya bahwa Ali mendengar apa yang beliau dengar dan melihat apa yang beliau lihat, meskipun Ali bukan seorang nabi.

Ketika risalah memasuki medan perjuangan, kedekatan itu berubah menjadi kepercayaan. Ali menjadi penjaga Rasulullah, pembawa amanahnya, juru bicaranya dalam berbagai tugas, panglima pasukannya, dan orang yang diandalkan ketika pertempuran menuntut keberanian yang tidak mengenal gentar. Ia adalah orang yang dikedepankan ketika keadaan paling berbahaya. Dalam duel-duel yang menentukan, Ali menjadi tangan yang diandalkan Muhammad. Dalam peperangan, ia menjadi pedang yang berdiri di garis terdepan. Dalam urusan yang memerlukan kepercayaan, ia menerima amanah yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Dalam ilmu, ia dikenal sebagai pintu ilmu Nabi.

Semua itu membuat hubungan Ali dengan Muhammad bukan sekadar hubungan seorang sepupu, menantu, sahabat, atau pengikut. Itu adalah hubungan antara seorang manusia yang sejak kecil dibentuk oleh Muhammad dan seorang Rasul yang sepanjang hidupnya mempercayakan kepadanya tugas-tugas besar. Dan ketika Muhammad wafat, kedekatan itu mencapai titik terakhirnya: Ali menerima kepala Rasulullah di dadanya, mengurus jenazahnya, dan mengantarkannya ke liang lahad.

Kedekatan itu menjadi semakin bermakna karena Ali bukan hanya orang yang paling dekat dengan Muhammad, tetapi juga salah satu manusia yang paling mampu mengartikulasikan apa yang dilihatnya. Kefasihan Ali menjadi salah satu puncak bahasa Arab. Pada dirinya bertemu kedekatan yang nyaris tanpa jarak dengan kemampuan bahasa yang sanggup mengubah pengalaman menjadi ungkapan yang tajam, padat, dan mendalam. Ia mengenal Muhammad dari dalam kehidupan, menyaksikan akhlaknya, mendengar perkataannya, mengikuti geraknya, dan hidup bersama perjalanan risalahnya.

Karena itu, ketika Ali menggambarkan Muhammad, yang hadir bukan gambaran seseorang yang berdiri di luar kehidupan Rasulullah. Yang hadir adalah kesaksian orang yang sejak kanak-kanak berada di sisinya, menyaksikan kesendiriannya sebelum wahyu, mendampinginya setelah wahyu, berdiri bersamanya ketika dunia memusuhinya, menjadi andalannya ketika bahaya datang, dan berada di sisinya hingga saat terakhir.

“Ketika aku masih kanak-kanak, Rasulullah mengasuhku. Beliau mendekapku ke dada, membaringkanku di tempat tidurnya, mendekatkan tubuhnya kepadaku, dan membiarkanku mencium keharumannya. Beliau mengunyahkan makanan lalu menyuapkannya kepadaku. Beliau tidak pernah menemukan kebohongan dalam perkataanku dan tidak pernah menemukan kelemahan dalam perbuatanku. Aku mengikutinya seperti anak unta mengikuti jejak induknya. Setiap hari beliau memperlihatkan kepadaku satu demi satu akhlaknya yang luhur dan memerintahkanku untuk mengikutinya.

Setiap tahun beliau menyendiri di Gua Hira, dan aku melihatnya, sementara tidak ada seorang pun selain aku yang melihatnya. Pada masa itu belum ada satu rumah pun yang menghimpun Islam selain rumah Rasulullah dan Khadijah, dan aku adalah orang ketiga di antara mereka.

Allah mengutus Muhammad sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Ia adalah sebaik-baik manusia ketika masih kanak-kanak, yang paling luhur ketika dewasa, yang paling suci perangainya di antara orang-orang yang disucikan, dan yang paling dermawan di antara mereka yang diharapkan kemurahannya.” (Nahj al-Balaghah, Khutbah 105)

“Ketika Allah memilih Muhammad untuk menghadap kepada-Nya, Allah meridai apa yang ada di sisi-Nya bagi Muhammad, memuliakannya dengan mengeluarkannya dari dunia, menjauhkannya dari tempat ujian, lalu mengambilnya kepada-Nya dalam keadaan mulia.” (Nahj al-Balaghah, Khutbah 1)

Seseorang bertanya kepada Ali AS: “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau seorang nabi?”

Ali AS menjawab: “Celakalah engkau! Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba dari hamba-hamba Muhammad.” (Al-Kafi jilid 1, hlm. 89–90. At-Tawhid hlm. 174 dari sanad Ja‘far ash-Shadiq AS) (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA