Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Terpilihnya kembali Donald Trump pada 2024 bukan sekadar kemenangan elektoral, melainkan pengakuan telanjang atas watak imperial Amerika Serikat. Peristiwa ini menandai titik ketika topeng moralisme, diplomasi halus, dan retorika “penyebaran demokrasi” akhirnya dilepas tanpa sisa. Apa yang selama ini disamarkan di balik jargon hak asasi manusia dan stabilitas global kini diucapkan apa adanya: dominasi mutlak, kepentingan sepihak, dan superioritas tanpa rasa bersalah.
Trump tidak menciptakan imperialisme Amerika. Ia hanya membuang sopan santunnya. Selama puluhan tahun, invasi militer, sanksi ekonomi brutal, intervensi rahasia, dan manipulasi geopolitik dibungkus dengan narasi mulia. Di era Trump, pembungkus itu dibuang. Dunia tidak lagi dibujuk dengan bahasa niat baik; dunia diminta tunduk. America First bukan sekadar slogan kebijakan luar negeri, melainkan deklarasi terang-terangan terhadap runtuhnya multilateralisme: sekutu diperas sebagai vassal, lawan diperlakukan sebagai target eliminasi.
Yang kerap luput dibaca adalah posisi para pemilihnya. Sekitar 77 juta orang yang memberikan suara bagi Trump—yang mengantarkannya menang Electoral College 312–226—tidak selalu merasa sedang mendukung imperialisme telanjang. Banyak di antara mereka merasa sedang bertahan hidup. Mereka adalah korban deindustrialisasi, globalisasi yang timpang, kehilangan pekerjaan, rasa terpinggirkan oleh elite kosmopolitan, serta kecemasan identitas kultural. Namun justru di titik inilah persoalan menjadi lebih gelap. Kecemasan domestik itu disalurkan ke dalam dukungan atas proyeksi kekuasaan global. Imperialisme berpindah bentuk: dari proyek elit negara menjadi obat penenang psikologis massa. Dominasi luar negeri berfungsi sebagai kompensasi atas kerapuhan dalam negeri.
Demokrasi Amerika menyediakan mekanisme yang nyaris sempurna untuk proses ini. Prosedur elektoral yang rapi memberikan legitimasi formal pada kebijakan agresif. Kemenangan suara populer berfungsi sebagai stempel moral, seolah apa pun yang dipilih rakyat otomatis sah secara etis. Demokrasi tidak runtuh; ia justru bekerja maksimal, sambil menanggalkan kewajiban reflektifnya. Kekuasaan tidak lagi perlu membenarkan diri—cukup menunjuk hasil pemilu.
Ironinya, banyak pendukung Trump adalah korban langsung dari imperialisme global yang sama. Buruh pabrik kehilangan pekerjaan karena relokasi industri ke negara berupah murah. Komunitas rust belt ditinggalkan kapital. Veteran perang pulang membawa trauma, bukan kesejahteraan. Namun penderitaan tidak otomatis melahirkan kesadaran kritis atau solidaritas lintas batas. Lebih sering, penderitaan memicu kebutuhan untuk merasa unggul atas pihak lain, meski hanya secara simbolik. Dalam konteks ini, menghancurkan yang lebih lemah di luar negeri menjadi pengganti martabat yang tak pernah hadir di dalam negeri.
Trump berfungsi sebagai akselerator utama normalisasi tersebut. Ia mengucapkan dengan lantang apa yang sebelumnya hanya dibicarakan di ruang tertutup. Sekutu diperlakukan sebagai aset tawar-menawar, musuh sebagai gangguan yang harus disingkirkan, dan dunia sebagai arena zero-sum. Imperialisme tidak lagi memerlukan teori pembelaan. Ia tampil sebagai insting, sebagai realisme kasar yang dianggap masuk akal dan tak perlu dipersoalkan.
Ketika gaya kekuasaan semacam ini tidak hanya diterima, tetapi juga dirayakan oleh puluhan juta orang, yang dinormalisasi bukan sekadar satu figur politik. Yang dilembagakan adalah pandangan dunia: kekuatan memberi hak mutlak, kepentingan sendiri lebih sah daripada penderitaan global, dan dunia hanya bermakna sejauh ia menguntungkan pusat imperium.
Trump mungkin suatu hari akan berlalu. Namun pertanyaan yang tertinggal jauh lebih mengganggu: mengapa ekspresi kekuasaan yang paling telanjang dan brutal terasa begitu wajar untuk dipilih? Di situlah normalisasi bekerja paling efektif—bukan melalui teror, melainkan melalui persetujuan massal. Ketika itu terjadi, imperialisme berhenti dipandang sebagai masalah moral dan berubah menjadi sekadar “pilihan realistis”.
Kemenangan Trump 2024 dengan demikian bukan anomali. Ia adalah cermin. Dan cermin itu memantulkan kenyataan ironis bahwa di Amerika, terdapat puluhan juta orang yang mendukung fasisme, rasisme, dan imperialisme—bukan sebagai penyimpangan, melainkan sebagai preferensi politik yang dianggap sah. (*Cendekiawan Muslim)












