Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Ada hukuman yang tidak pernah tertulis dalam kitab hukum mana pun, tetapi berlaku dengan konsistensi yang mengerikan di dalam banyak sistem kekuasaan: hukuman atas kebaikan yang berlebihan. Atas kejujuran yang tidak tahu kapan harus berhenti. Atas ketulusan yang tidak memiliki agenda cadangan. Atas kecerdasan yang tidak mau berpura-pura terbatas demi kenyamanan orang-orang di sekitarnya.
Bayangkan seseorang yang sebenarnya tidak perlu ada di sana. Seseorang yang sudah memiliki segalanya sebelum ia memutuskan masuk—kekayaan yang tidak perlu ditambah, pengaruh yang tidak perlu diperluas, nama yang sudah dikenal jauh melampaui batas negeri ini. Seseorang yang membangun sesuatu dari nol, yang mengubah cara jutaan orang bergerak dan bekerja, yang dibicarakan di forum-forum global bukan sebagai wakil negaranya melainkan sebagai pemikir yang berdiri atas kapasitasnya sendiri. Seseorang seperti itu, ketika memilih turun ke birokrasi—meninggalkan semua itu, menukar kebebasan korporasi dengan ruang rapat yang pengap dan pertarungan anggaran yang tidak ada habisnya—sedang membuat keputusan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika kepentingan pribadi.
Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal: ia percaya. Percaya bahwa ada sesuatu yang bisa diubah. Bahwa pendidikan jutaan anak di negeri ini adalah persoalan yang cukup besar untuk dikorbankan kenyamanan demi itu. Bahwa negara ini layak mendapatkan yang terbaik, bukan yang paling aman secara politik.
Dan kepercayaan itulah yang pertama kali digunakan untuk melukainya.
Hukuman itu tidak datang sekaligus. Ia datang perlahan, dalam bentuk yang selalu bisa disangkal—sebuah rapat yang tidak ada undangannya, sebuah keputusan yang diambil tanpa konsultasinya, sebuah narasi yang beredar tanpa sumber yang jelas namun entah bagaimana selalu menemukan telinganya. Tidak ada yang bisa dituduh. Tidak ada yang meninggalkan sidik jari. Namun hasilnya selalu sama: seseorang yang masuk dengan semangat penuh perlahan-lahan mendapati dirinya berdiri di ruangan yang semakin mengecil.
Program-program yang ia rancang dengan serius—yang mengubah cara guru dievaluasi, cara siswa belajar, cara universitas mempertanggungjawabkan dirinya—tidak dibaca sebagai bukti komitmen. Ia dibaca sebagai ancaman. Digitalisasi yang ia dorong bukan dilihat sebagai modernisasi—ia dilihat sebagai penghilangan lahan yang selama ini digarap oleh tangan-tangan yang sudah sangat terbiasa menggarapnya. Efisiensi yang ia tawarkan bukan disambut sebagai kemajuan—ia disambut sebagai penghinaan terhadap cara lama yang selama ini dianggap cukup oleh mereka yang diuntungkan oleh ketidakefisienannya.
Begitulah sistem yang bertahan di atas kompromi bekerja: ia tidak hanya tidak menyukai orang yang terlalu korup—karena orang yang terlalu korup masih bisa dikendalikan, masih bisa dijadikan sekutu, masih memiliki kepentingan yang bisa dipersekutukan. Yang benar-benar mengancam sistem seperti ini adalah orang yang terlalu bersih. Orang yang terlalu bersih tidak memiliki hutang budi yang bisa ditagih. Tidak memiliki rahasia yang bisa dijadikan pegangan. Tidak membutuhkan perlindungan yang bisa dijadikan tali. Keberadaannya, semata-mata karena keberadaannya, mengajukan pertanyaan yang tidak ingin dijawab oleh siapa pun di dalam ruangan: jika ia bisa bekerja dengan cara seperti ini, mengapa selama ini kita tidak?
Pertanyaan itu tidak pernah diucapkan. Tetapi ia menggantung. Dan karena ia menggantung, orang yang memunculkannya—tanpa berniat, tanpa sadar—menjadi sumber kecemasan kolektif yang harus dikelola.
Cara mengelolanya tidak perlu kasar. Cukup dengan narasi yang dibangun secara bertahap: ia terlalu idealis, tidak memahami realitas, tidak tahu cara bekerja dalam sistem, terlalu arogan untuk berkompromi. Integritas yang tidak bisa dibeli dibaca sebagai kesombongan. Standar yang lebih tinggi dibaca sebagai penghinaan terhadap mereka yang telah lama menetap di bawahnya.
Kecerdasan yang terlalu nyata dibaca sebagai ancaman terhadap hierarki yang bertahan justru karena tidak ada yang berani mengukurnya secara objektif.
Kecerdasan, dalam konteks ini, adalah dosa yang paling sulit diampuni. Bukan karena tidak ada yang mengaku menghargainya—secara retorik, semua orang selalu mengaku menghargai kecerdasan. Tetapi kecerdasan yang fungsional, yang menghasilkan keputusan lebih cepat, solusi lebih tepat, dan evaluasi lebih jernih, secara otomatis mengekspos keterbatasan orang-orang di sekitarnya yang posisinya tidak dibangun di atas kompetensi melainkan di atas lamanya bertahan. Kecerdasan seperti itu tidak hanya menyaingi—ia mendelegitimasi. Dan sistem yang bertahan di atas senioritas, loyalitas, dan jaringan tidak bisa membiarkan delegitimasi itu berjalan terlalu jauh.
Namun yang paling mematikan bukanlah kecerdasan atau kebersihan itu sendiri. Yang paling mematikan adalah kombinasinya dengan ketulusan.
Ketulusan menciptakan kerentanan yang unik—kerentanan yang tidak dimiliki oleh mereka yang masuk ke sistem dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang bermain. Orang yang tulus tidak membangun benteng. Orang yang sungguh-sungguh percaya pada pekerjaannya tidak menyimpan dokumen untuk perlindungan diri. Orang yang benar-benar ingin sistemnya berhasil tidak mempertimbangkan bahwa suatu hari ia mungkin perlu membuktikan bahwa kegagalan itu bukan miliknya. Keterbukaan itu—ketiadaan kalkulasi defensif itu—adalah celah yang sangat mudah dibaca oleh mereka yang sejak awal masuk dengan peta yang berbeda.
Maka ketulusan, di dalam ekosistem yang predatorik, tidak berfungsi sebagai modal. Ia berfungsi sebagai sasaran. Seseorang yang terlalu peduli pada keberhasilan programnya lebih mudah ditekan—ancaman terhadap program adalah ancaman yang ia rasakan secara personal. Seseorang yang terlalu percaya pada institusinya lebih mudah dibungkam—reputasi institusi adalah hal yang ia jaga bahkan ketika institusi itu tidak menjaganya. Seseorang yang tidak memiliki agenda pribadi untuk dilindungi justru lebih mudah dijadikan perisai—karena ketika sesuatu salah, ia tidak akan membalas dengan cara yang kotor, tidak akan memproduksi skandal tandingan, tidak akan turun ke kedalaman permainan yang sejak awal bukan dunianya.
Dan ketidakmampuan untuk bermain kotor itu, dalam sistem yang bertahan justru melalui permainan kotor, menjadi kelemahan yang paling mematikan.
Inilah paradoks yang tidak pernah diajarkan di mana pun: semakin tulus seseorang, semakin besar risikonya. Semakin ia percaya pada apa yang sedang ia kerjakan, semakin dalam ia bisa dilukai oleh sistem yang tidak berbagi keyakinan itu. Semakin ia membuka diri demi pengabdian, semakin banyak titik masuk yang tersedia bagi mereka yang berniat menggunakannya.
Ini bukan untuk pertama kalinya negeri ini memperlakukan manusia terbaiknya dengan cara seperti ini. Habibie adalah cermin yang sudah lebih dulu retak—seorang insinyur yang dihormati di Jerman sebelum Indonesia tahu harus berbuat apa dengannya, seorang visioner yang membangun industri pesawat terbang di negeri yang sebagian elitenya lebih nyaman membeli daripada membuat, seorang pemimpin yang naik ke puncak kekuasaan bukan melalui jaringan patronase melainkan melalui kapasitas yang tidak bisa dipalsukan. Di dalam negeri, ia dipuji sekaligus dicurigai. Dibutuhkan sekaligus dihentikan. Proyeknya diperdebatkan bukan dengan argumen teknis yang setara, melainkan dengan kecemasan politik yang tidak pernah mau mengakui dirinya sebagai kecemasan. Dan ketika kekuasaan akhirnya ada di tangannya, sistem yang sama yang pernah membutuhkannya segera bekerja untuk memastikan ia tidak bertahan terlalu lama.
Yang menyatukan mereka—yang dipisahkan oleh generasi dan bidang yang berbeda—bukan hanya kecerdasan atau pengabdian.
Yang menyatukan mereka adalah pola yang diterima oleh keduanya: bahwa di negeri ini, manusia yang terlalu jauh melampaui batas yang dianggap aman oleh sistem akan selalu menghadapi pertanyaan yang sama, diajukan dengan nada yang berbeda tetapi dengan tujuan yang identik—pertanyaan yang bukan tentang kapasitas atau kontribusi, melainkan tentang kepatuhan: apakah kamu bisa dikendalikan? Apakah kamu bisa diprediksi? Apakah kamu bisa diam ketika diminta diam?
Jawaban mereka, dalam berbagai bentuk dan waktu yang berbeda, selalu sama. Dan itulah sebabnya keduanya tidak pernah dibiarkan sepenuhnya nyaman di dalam sistem yang mereka pilih untuk layani.
Sistem yang sakit tidak dikalahkan oleh orang-orang baik yang masuk ke dalamnya.
Lebih sering, sistem yang sakit mengonsumsi orang-orang baik itu—menggunakan energi mereka, mengambil kredibilitas mereka, lalu memuntahkan mereka keluar dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari saat mereka masuk, sebagai bukti bahwa idealisme memang tidak pernah cocok dengan kenyataan.
Dan mungkin di situlah ironi paling gelap dari seluruh cerita ini: mereka yang membangun sesuatu yang diakui dunia—yang membuktikan bahwa negeri ini bisa melahirkan manusia sekelas itu—memilih turun dari puncak untuk mengurus hal-hal yang tidak akan pernah memberi mereka penghargaan yang setara dengan yang sudah mereka miliki. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Justru karena ada terlalu banyak pilihan lain—dan mereka memilih yang paling sulit, yang paling tidak menguntungkan, yang paling membuka diri terhadap serangan.
Sistem tidak perlu mengakui bahwa ia menghancurkan orang-orang terbaiknya. Ia cukup membiarkan kehancuran itu tampak sebagai konsekuensi alamiah dari ketidakcocokan. Seolah yang salah bukan sistemnya—melainkan mereka yang terlalu naif untuk percaya bahwa sistem bisa diperbaiki dari dalam.
Kebaikan bukan perisai. Di dalam lingkungan yang salah, kebaikan adalah target. Dan target yang tidak tahu dirinya adalah target—yang masuk dengan kepercayaan penuh bahwa niat baik akan dilindungi oleh niat baiknya sendiri—adalah target yang paling mudah, dan paling menyedihkan, untuk dijatuhkan. (*Cendekiawan Muslim)












