Search

“Iran Membantai Sunni di Suriah”

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Mengapa sebuah kalimat yang lemah secara faktual dapat bertahan lama dalam kesadaran publik? Jawabannya terletak pada pengulangan yang menggantikan verifikasi, serta identitas yang menggantikan analisis. Kalimat “Iran membantai Sunni di Suriah” tidak lahir dari pembacaan realitas yang jernih, melainkan dari konstruksi persepsi yang terus diulang sampai terasa benar.

Konflik di Syria tidak pernah tunggal dan tidak pernah sederhana. Ia melibatkan negara, kelompok oposisi, milisi, dan jaringan ekstrem lintas negara. Reduksi konflik menjadi “Sunni versus Syiah” bukan penjelasan; itu distorsi. Dalam konstruksi seperti itu, setiap tindakan militer terhadap kelompok yang mengaku Sunni segera dibaca sebagai serangan terhadap seluruh Sunni. Di titik ini, logika berhenti berlaku.

Keberadaan ISIS menjadi fakta yang tidak bisa disisihkan. Kelompok ini mengklaim identitas Sunni, tetapi praktiknya melakukan kekerasan sistematis terhadap berbagai pihak, termasuk sesama Muslim Sunni yang tidak tunduk kepada mereka. Fakta ini terang dan terdokumentasi, namun kerap dihapus dari narasi yang ingin disederhanakan.

Masalah logika muncul ketika identitas formal dijadikan ukuran representasi. Jika sebuah kelompok menyebut diri Sunni, itu tidak otomatis berarti seluruh Sunni terwakili olehnya. Dengan logika yang sama, ketika kelompok tersebut dilawan karena tindakan kekerasannya, itu tidak dapat disebut sebagai pembantaian terhadap Sunni. Konsistensi berpikir menuntut garis lurus, bukan standar ganda yang berubah sesuai kepentingan emosi.

Narasi tersebut runtuh ketika diuji dengan pertanyaan paling dasar. Jika Iran memang memusuhi Sunni sebagai identitas, mengapa justru mendukung perjuangan di Gaza yang didominasi kelompok Sunni? Jika tujuan utamanya membantai Sunni, mengapa tidak terjadi di dalam wilayah Iran sendiri yang juga memiliki populasi Sunni? Jika kebencian sektarian menjadi motif, mengapa harus jauh ke Syria, dan bukan pada ruang yang paling dekat dan paling mungkin?

Pertanyaan itu bergerak lebih jauh: andaikan penduduk Gaza adalah Syiah, adakah negara lain yang berbeda mazhab yang akan membela mereka secara konsisten, menanggung biaya politik, ekonomi, dan militer sebagaimana yang dilakukan Iran?

Kontradiksi ini tidak dapat dijawab oleh propaganda, karena propaganda tidak dibangun untuk menjawab, melainkan untuk mengulang.

Fakta lain tidak bisa dihapus: ketika Iran berada dalam tekanan, tidak ada koalisi negara-negara Muslim yang berdiri membelanya. Dunia Islam tidak bersatu. Sebagian diam, sebagian menjauh, sebagian justru berpihak kepada lawannya. Inilah hasil konkret dari propaganda yang terus-menerus menanamkan persepsi negatif.

Sementara itu, fakta empiris menunjukkan arah yang berlawanan. Komunitas Syiah justru berulang kali menjadi target kekerasan. Di Pakistan dan Afghanistan, dalam rentang sekitar 2001 hingga pertengahan 2020-an, ratusan serangan terhadap masjid Syiah terjadi, banyak di antaranya pada salat Jumat, dengan korban tewas mencapai ribuan. Ini bukan kejadian tunggal, melainkan pola sistematis.

Di Afghanistan, komunitas Hazara mengalami pengusiran dan pembantaian berulang oleh Al-Qaeda, ISIS, dan faksi-faksi ekstrem dalam Taliban pada berbagai fase. Kekejaman yang terjadi tidak terbatas pada pembunuhan, tetapi juga penyiksaan brutal terhadap warga sipil, termasuk perempuan. Gelombang pengungsian besar terjadi karena mereka memang menjadi sasaran.

Perkembangan terakhir menunjukkan adanya perubahan setelah Taliban menjalin hubungan dengan Iran dan mulai memahami bahwa Iran tidak bergerak atas dasar kebencian mazhab. Namun fakta historis penargetan terhadap Syiah tidak bisa dihapus.

Dalam konflik Balkan pada 1990-an—di Bosnia and Herzegovina, Serbia, dan Croatia—umat Islam Sunni mengalami pembantaian. Dalam kondisi embargo dan keterbatasan bantuan, dukungan dari Iran hadir. Kesaksian Alija Izetbegović mencatat bahwa ketika banyak pihak tidak bertindak, bantuan nyata datang dari Iran, termasuk dalam bentuk yang tidak selalu terbuka.

Rangkaian fakta ini membentuk satu garis yang tidak bisa dipatahkan: Iran tidak bertindak atas dasar kebencian mazhab.

Meski demikian, komunitas Syiah tidak pernah menyimpulkan bahwa pelaku kekerasan tersebut mewakili Sunni. Mereka tidak menyebut Sunni sebagai pelaku. Mereka memandang kelompok-kelompok ekstrem itu sebagai penyimpangan—sebagai “Sunni palsu”, yang kemunculannya terkait dengan konfigurasi politik global, termasuk kebijakan AS yang membuka ruang bagi lahirnya kelompok seperti ISIS, sebagaimana diakui dalam berbagai pernyataan pejabatnya, termasuk Hillary Clinton.

Inilah pembalikan realitas. Yang berulang kali menjadi korban justru dituduh sebagai pelaku. Karena itulah, Iran harus diposisikan buruk. Syiah harus dibenci agar terisolasi dari umat seagamanya.

Hasilnya sekarang terlihat jelas: ketika Iran diserang, tidak ada koalisi yang membelanya. Dunia Islam diam. Sebagian bahkan mendukung lawannya—secara terbuka atau diam-diam.

Itulah hasil dari propaganda “Iran membantai Sunni di Suriah” yang terus diulang hingga imajinasi itu diyakini sebagai fakta. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA