Search

Pendidikan yang Terjebak Administrasi

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Gusliana*

Pendidikan seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi manusia. Tempat di mana peserta didik belajar memahami kehidupan, membangun empati, menemukan potensi diri, hingga membentuk karakter. Namun perlahan, banyak sekolah justru berubah menjadi ruang yang terlalu sibuk mengurus angka, laporan, dan dokumen administratif.

Guru dikejar target pengisian data, sekolah sibuk mengejar akreditasi, sementara relasi antarmanusia di lingkungan pendidikan mulai kehilangan kehangatan. Pendidikan akhirnya berjalan seperti mesin birokrasi yang rapi di atas kertas, tetapi sering terasa jauh dari nilai kemanusiaan itu sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia mengalami peningkatan beban administrasi yang cukup besar seiring berkembangnya digitalisasi tata kelola sekolah. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus mengisi berbagai platform data pendidikan, mulai dari perangkat pembelajaran, laporan evaluasi, administrasi kurikulum, hingga sistem pendataan nasional yang terus berubah. Di satu sisi digitalisasi memang penting, tetapi di sisi lain, birokrasi pendidikan yang terlalu administratif perlahan menggerus esensi utama pendidikan.

Kondisi tersebut bahkan sering menjadi keluhan tenaga pendidik. Hasil survei Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan sebagian besar guru merasa pekerjaan administratif mengurangi fokus mereka terhadap proses pembelajaran.

Banyak guru menghabiskan waktu lebih lama di depan layar komputer dibanding membangun interaksi yang mendalam dengan peserta didik. Situasi ini memperlihatkan bagaimana pendidikan mulai bergerak menjauh dari relasi manusia dan semakin dekat pada budaya administrasi.

Akar masalahnya terletak pada cara keberhasilan pendidikan diukur. Sekolah hari ini terlalu sering dinilai berdasarkan dokumen, ranking, nilai statistik, dan capaian administratif. Akreditasi menjadi target utama, laporan harus selalu lengkap, sementara kualitas hubungan sosial di sekolah sulit diukur sehingga sering diabaikan. Akibatnya, banyak institusi pendidikan lebih sibuk memastikan map administrasi tersusun rapi dibanding memastikan peserta didik merasa aman dan didengar.

Sekolah akhirnya berkembang menjadi ruang birokratis. Guru harus mengikuti ritme administrasi yang padat, kepala sekolah disibukkan target laporan institusi, dan peserta didik perlahan hanya diposisikan sebagai angka dalam sistem penilaian. Pendidikan kehilangan ruang dialog karena semua berjalan dalam tekanan target dan prosedur.

Padahal, persoalan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan hanya soal rendahnya capaian akademik, tetapi juga melemahnya hubungan sosial di lingkungan sekolah. Kasus perundungan (bullying), kekerasan verbal, tekanan mental peserta didik, hingga rendahnya empati sosial semakin sering muncul.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan terus mengalami perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sekolah belum sepenuhnya berhasil menjadi ruang aman bagi pertumbuhan emosional peserta didik.

Ironisnya, di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial tersebut, sekolah justru semakin tenggelam dalam urusan administratif. Guru sering tidak memiliki cukup waktu untuk memahami kondisi psikologis siswa karena energi mereka habis pada pekerjaan birokrasi. Hubungan guru dan peserta didik yang dulu terasa dekat perlahan berubah menjadi hubungan formal yang kering interaksi emosional.

Situasi ini semakin terasa di era digital. Kehadiran teknologi memang membantu efisiensi sistem pendidikan, tetapi juga menghadirkan paradoks baru. Banyak sekolah lebih cepat mengadopsi aplikasi administrasi dibanding membangun ruang komunikasi sehat antara guru dan siswa. Pendidikan menjadi sibuk mengurus sistem, tetapi lupa menjaga hubungan manusia di dalamnya.

Dalam banyak kasus, peserta didik akhirnya tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang minim kedekatan emosional. Mereka hadir di kelas, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, tetapi tidak benar-benar merasa memiliki ruang untuk didengar. Sekolah menjadi tempat belajar yang formal, bukan rumah pertumbuhan manusia.

Dari sinilah pentingnya membangun kembali orientasi manajemen pendidikan yang lebih manusiawi. Administrasi memang penting untuk menjaga tata kelola pendidikan tetap berjalan, tetapi administrasi tidak boleh menjadi pusat utama pendidikan. Sekolah perlu mengembalikan fokus bahwa inti pendidikan tetaplah manusia.

Manajemen pendidikan seharusnya tidak hanya berbicara tentang efektivitas dokumen atau keberhasilan program, tetapi juga bagaimana menciptakan budaya sekolah yang sehat. Guru perlu diberi ruang untuk lebih fokus membangun kualitas pembelajaran dan hubungan sosial dengan peserta didik. Kepala sekolah juga perlu menjadi pemimpin budaya, bukan sekadar pengelola administrasi institusi.

Selain itu, evaluasi keberhasilan pendidikan juga perlu berubah. Selama ini, sekolah terlalu sering diukur dari nilai akademik dan laporan formal. Padahal keberhasilan pendidikan juga terlihat dari kemampuan siswa membangun empati, rasa aman di lingkungan sekolah, hingga kualitas hubungan sosial yang tumbuh di dalamnya.

Model pembelajaran pun perlu bergerak lebih dialogis dan partisipatif. Sekolah harus kembali menjadi ruang interaksi, bukan sekadar tempat transfer materi. Ketika guru memiliki waktu dan energi untuk memahami peserta didik secara lebih mendalam, maka proses pendidikan akan menjadi lebih hidup dan bermakna.

Pendidikan pada akhirnya bukan industri dokumen. Pendidikan adalah proses membangun manusia. Jika sekolah terlalu sibuk mengejar administrasi, maka yang lahir hanyalah sistem yang tertata tetapi kehilangan jiwa. Peserta didik mungkin berhasil secara akademik, tetapi tumbuh dalam lingkungan yang minim kedekatan sosial dan empati.

Sekolah ibarat rumah pertumbuhan. Namun rumah itu akan terasa dingin ketika seluruh penghuninya hanya sibuk mengurus berkas tanpa membangun hubungan satu sama lain. Pendidikan membutuhkan sistem yang tertib, tetapi juga membutuhkan ruang manusia yang hangat.

Dalam konteks itulah, pendidikan Indonesia perlu mulai keluar dari jebakan administrasi. Sebab kualitas pendidikan sejatinya tidak hanya ditentukan oleh seberapa lengkap laporan sekolah, tetapi oleh seberapa kuat hubungan manusia yang tumbuh di dalamnya. (*Tulisan ini disusun oleh Gusliana, S.Pd dalam mata kuliah Manajemen Berbasis Sekolah & Networking Pendidikan Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang kelas 02MPDM003 bersama dosen pengampu Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H sebagai refleksi sederhana tentang dunia pendidikan yang semakin sibuk dengan administrasi, tetapi perlahan mulai jauh dari nilai-nilai kemanusiaan di sekolah)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA