Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Berdasarkan pengalaman langsung berada di Iran dan interaksi yang terus berlangsung hingga kini, ada satu kesan yang sulit diabaikan ketika mengamati masyarakatnya. Kesan itu tidak lahir dari pembacaan ideologis semata, melainkan dari interaksi sehari-hari, dari cara orang menyapa, merespon, menjaga jarak, lalu perlahan membuka diri. Ia tampak sebagai lapisan karakter yang telah terbentuk lama, diwariskan dari abad ke abad, lalu hadir dalam bentuk perilaku, sikap, dan cara berinteraksi dengan dunia luar.
Dalam pengamatan yang relatif objektif, masyarakat Iran memiliki kecenderungan agresivitas yang khas. Dalam situasi yang tidak genting, sifat ini kadang terasa berlebihan. Ia muncul sebagai ketegasan yang nyaris tanpa kompromi, kebanggaan yang kuat terhadap jati diri dan sejarah, serta dorongan untuk mempertahankan posisi dengan intensitas tinggi. Bersamaan dengan itu, ada pula kecenderungan untuk tidak mudah percaya kepada pihak di luar lingkarannya. Pada awal pertemuan, jarak dijaga. Kehati-hatian tampak jelas. Bahkan ada nuansa mencurigai bahkan kadang gesturnya terkesan meremehkan sebelum benar-benar mengenal. Ini bukan semata penolakan, melainkan mekanisme sosial yang bekerja sebagai penyaring, hasil dari pengalaman panjang yang membentuk kewaspadaan.
Jika dilihat dari perspektif masyarakat Indonesia, karakter seperti ini jelas terasa tidak sepenuhnya selaras. Indonesia dibentuk oleh lanskap yang berbeda, iklim yang lebih ramah, sejarah sosial yang tidak identik, serta budaya interaksi yang cenderung lebih cair dan terbuka. Apa yang di satu tempat dianggap sebagai kewaspadaan yang wajar, di tempat lain bisa terasa sebagai kekakuan. Apa yang di satu masyarakat menjadi bentuk keteguhan, di masyarakat lain bisa terbaca sebagai ketegangan. Karena itu, tidak semua karakter bisa dipindahkan begitu saja dari satu bangsa ke bangsa lain tanpa kehilangan konteksnya.
Namun penilaian itu menjadi tidak utuh jika dilepaskan dari lanskap sosiologis dan historis Iran sendiri. Iran bukan sekadar negara modern, melainkan kelanjutan dari peradaban panjang yang telah melewati fase dominasi, tekanan, dan transformasi. Lingkungan alamnya yang keras, suhu yang ekstrem, dan bentang geografis yang menantang membentuk watak yang tidak mudah runtuh. Ketangguhan di sana bukan sesuatu yang dipilih, melainkan sesuatu yang ditempa.
Sejak Revolusi Iran 1979, tekanan terhadap Iran tidak pernah berhenti, dan harus disebut dengan jelas bahwa tekanan itu terutama datang dari Amerika dalam berbagai bentuk yang terus berubah. Ia dimulai dari perang proksi melalui Perang Iran-Irak, berlanjut dalam bentuk sanksi ekonomi yang berkepanjangan, pembekuan aset, isolasi finansial, serta upaya sistematis untuk menciptakan instabilitas politik dan keamanan di dalam negeri. Dalam fase mutakhir, tekanan itu meningkat menjadi agresi militer yang lebih terbuka bersama Israel, namun tidak menghasilkan keruntuhan yang diharapkan.
Di titik inilah kiasan tentang kawanan ikan piranha di Sungai Amazon menemukan relevansinya. Dalam hitungan menit, kawanan itu mampu melumat mangsa besar karena bergerak serentak, rapat, tanpa celah. Namun di Iran, intensitas seperti itu tidak lahir dari naluri semata. Ia lahir dari kesadaran yang terbentuk oleh puluhan tahun tekanan yang terus-menerus.
Menariknya, karakter dominan yang pernah menjadi bagian dari peradaban Persia tidak kembali sebagai ambisi untuk menguasai. Setelah menerima Islam, ada kecenderungan untuk menahan dorongan dominasi itu. Namun ketika tekanan datang secara terus-menerus, karakter tersebut muncul kembali sebagai respon. Ia bukan ekspansi, melainkan refleks mempertahankan diri. Ia bukan dorongan untuk menjadi penguasa, melainkan penolakan untuk tunduk.
Maka situasi kritis yang dihadapi Iran hari ini bukan sekadar konflik sesaat, melainkan akumulasi dari puluhan tahun tekanan berlapis. Dalam kondisi seperti ini, karakter yang pada masa damai tampak berlebihan justru menjadi tepat. Agresivitas berubah menjadi keteguhan. Kecurigaan berubah menjadi kewaspadaan kolektif. Konsolidasi berubah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Jika dilihat dari luar, ini bisa tampak sebagai intensitas yang tidak biasa. Namun dalam medan geopolitik yang keras, justru di situlah letak ketepatannya. Dunia menekan, menguji, dan memaksa setiap bangsa untuk menemukan bentuk paling kokoh dari dirinya sendiri.
Dan di situlah Iran berdiri sebagai bangsa yang telah lama menghadapi tekanan dan menolak untuk runtuh, bukan sebagai kekuatan yang mencari dominasi. Konsolidasi adalah refleks yang hidup, bukan lagi pilihan yang dipikirkan. Ia mengeras ketika disentuh, menyatu ketika ditekan, dan bertahan karena memang telah terbentuk untuk bertahan.
Dalam pandangan sebagian yang punya pengalaman hidup lama, orang Iran secara umum tak mudah adaptif dalam kerja sama interpersonal bisnis dengan orang Asia Tenggara atau lainnya, tapi justru sangat adaptif dalam konfrontasi. Alhasil, Amerika salah memilih lawan. Rasain! (*Cendekiawan Muslim)











