Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Fenomena yang semakin sering kita saksikan dalam lanskap media televisi dewasa ini adalah pergeseran orientasi yang cukup mencolok: dari upaya menghadirkan kedalaman informasi menuju kecenderungan menjual sensasi. Perubahan ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan reaksi defensif terhadap tekanan zaman—khususnya sejak televisi harus berhadapan dengan arus deras media sosial dan platform video seperti YouTube, serta berbagai kanal digital lain seperti Instagram dan TikTok, yang secara drastis mengubah pola konsumsi informasi publik.
Ketika perhatian publik berpindah ke ruang digital yang serba cepat, televisi—yang dulu berdiri dengan wibawa sebagai salah satu sumber utama informasi—sebagian di antaranya tampak memilih strategi yang paling mudah dikenali: memperkeras sensasi. Program diskusi yang dahulu diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan kini sering kali berubah menjadi panggung dramatik. Talkshow tidak lagi disusun sebagai forum pemikiran, melainkan sebagai arena pertunjukan. Percakapan digantikan oleh perdebatan yang sengaja dipanaskan, dan argumentasi sering kali kalah oleh kalimat yang paling provokatif.
Dalam logika baru ini, kriteria narasumber mengalami mutasi yang cukup menarik. Yang dicari bukan lagi orang yang paling memahami persoalan, bukan pula mereka yang memiliki integritas intelektual atau kedalaman moral. Yang dicari adalah mereka yang “menarik perhatian”. Semakin kontroversial, semakin dianggap relevan. Jika seseorang mampu memancing kemarahan publik, memantik kegaduhan, atau mengucapkan kalimat yang cukup provokatif untuk dipotong menjadi klip viral, maka ia dianggap memenuhi syarat sebagai bintang diskusi.
Akibatnya, tidak mengherankan jika yang kerap hadir di layar bukan figur yang memperkaya diskursus, melainkan sosok yang reputasinya dibangun dari kontroversi ke kontroversi. Ia berpindah dari satu posisi ke posisi lain dengan keluwesan yang mengagumkan, mengikuti arah angin yang paling menjanjikan perhatian. Pada suatu masa ia tampil sebagai aktivis dengan tema tertentu—misalnya membawa narasi anti-intoleransi—namun kemudian narasi itu berkembang menjadi sikap yang secara terbuka memusuhi simbol, aspirasi, bahkan perjuangan umat tertentu. Dari kritik sosial ia bergeser menjadi sinisme ideologis; dari aktivisme ia bertransformasi menjadi polemik yang hampir selalu berhasil memancing keributan.
Fenomena semacam ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dalam setiap zaman selalu ada orang yang menemukan bahwa kontroversi adalah mata uang yang sangat menguntungkan. Dengan sedikit keberanian untuk berkata apa saja, seseorang dapat memperoleh panggung yang luas. Tidak diperlukan kedalaman analisis, tidak pula ketekunan intelektual. Cukup keberanian untuk melontarkan pernyataan yang memancing emosi, dan selebihnya publik akan melakukan pekerjaan penyebarannya.
Namun yang lebih menarik untuk diperhatikan adalah pihak yang menyediakan panggung tersebut. Televisi, sebagai institusi yang selama puluhan tahun menikmati kepercayaan publik, tentu memiliki kemampuan untuk menghadirkan narasumber yang benar-benar memahami persoalan. Akademisi, peneliti, pemikir, atau praktisi yang berpengalaman tidak pernah benar-benar langka. Tetapi dalam praktiknya, yang sering kali dipilih justru figur yang paling mampu menciptakan kegaduhan.
Mungkin ini dapat dipahami sebagai strategi menghadapi zaman. Persaingan dengan algoritma media sosial memang tidak mudah. Di ruang digital, perhatian publik bergerak dengan sangat cepat, dan kegaduhan sering kali lebih efektif menarik mata daripada ketenangan berpikir. Tetapi ada ironi yang sulit diabaikan: televisi yang dahulu menganggap dirinya sebagai penyeimbang keramaian kini tampak semakin piawai menirunya.
Akibatnya, ruang publik perlahan dipenuhi oleh percakapan yang semakin keras tetapi semakin dangkal. Kedalaman dianggap membosankan, kehati-hatian dianggap kurang menarik, dan integritas sering kali kalah oleh keberanian untuk berbicara tanpa beban. Diskusi berubah menjadi kompetisi siapa yang paling mampu memancing reaksi.
Jika kecenderungan ini terus dipelihara, televisi mungkin masih dapat memperoleh perhatian sesaat melalui kontroversi yang diproduksinya. Tetapi perhatian tidak selalu identik dengan kepercayaan. Ketika publik mulai menyadari bahwa yang disajikan lebih menyerupai pertunjukan daripada percakapan yang sungguh-sungguh, maka perlahan wibawa media itu sendiri akan terkikis.
Pada akhirnya, sebuah talkshow dapat tetap disebut diskusi. Lampu studio tetap menyala, kamera tetap berputar, dan para narasumber tetap berbicara dengan penuh semangat. Hanya saja, di balik semua itu, yang berlangsung sering kali bukan lagi pertukaran gagasan, melainkan sebuah pertunjukan yang sangat ramai—dan sangat ringan. (*Cendekiawan Muslim)












