Search

Saat Nalar Jalan, tapi Nurani Ditinggal

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Riyawan*

Pagi itu gerimis turun pelan. Bukan hujan deras, tapi cukup untuk bikin tanah basah dan udara terasa lebih dalam. Di warung kopi pinggir kampung, obrolan biasa berubah jadi sesuatu yang lebih berat dari sekadar harga gabah atau video lucu di TikTok.

Semuanya bermula dari satu kabar yang viral, kasus pelecehan seksual di salah satu fakultas hukum paling bergengsi di Indonesia. Bukan cuma soal kejahatannya yang bikin geram, tapi reaksi di sekitarnya yang jauh lebih mengusik.

Dua mahasiswa berani maju jadi saksi. Empat belas lainnya? Ditahan orang tua mereka. Bukan secara hukum, tapi secara moral. Dilarang bicara. Diminta diam. Disuruh fokus kuliah.

Kalimat sederhana, tapi dampaknya dalam “Jangan ikut-ikutan, nanti repot.” Di sinilah masalah sebenarnya muncul. Yang ditahan bukan cuma langkah mereka, tapi nuraninya.

Bayangkan seorang mahasiswa, usia 19 atau 20 tahun. Ia tahu apa yang benar. Ia melihat langsung ketidakadilan. Hatinya ingin bicara. Tapi satu telepon dari rumah cukup untuk membungkam semuanya.

Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena dia takut, takut masa depannya rusak, takut dianggap pembuat masalah. Dan tanpa sadar, kita sedang menciptakan generasi yang pintar secara akademik, tapi lumpuh secara moral.

Ketika Keadilan Tergantung Koneksi

Masalahnya tidak berhenti di situ. Di tengah diskusi mahasiswa, muncul pertanyaan yang terlalu familiar di negeri ini: “Orang tuanya siapa?”

Bukan siapa yang salah. Tapi siapa yang punya kekuasaan. Ini realita yang sulit ditolak. Di banyak kasus, keadilan sering kali tidak berdiri di atas fakta, tapi di atas relasi. Siapa kenal siapa. Siapa anak siapa. Siapa punya akses ke siapa.

Ketika pertanyaan utama bergeser dari “apa yang benar?” menjadi “siapa yang kuat?”, maka keadilan sudah kalah bahkan sebelum dimulai. Budaya ini berbahaya. Karena secara tidak langsung, ia mengajarkan bahwa kebenaran bisa dinegosiasikan. Bahwa pelaku bisa selamat selama punya “backup”. Dan korban? Hanya jadi angka dalam statistik.

Lebih parah lagi, ini membentuk pola pikir generasi muda, bahwa untuk bertahan, mereka harus punya koneksi, bukan karakter. Padahal, kalau hukum bisa dilenturkan oleh kekuasaan, maka yang lemah tidak akan pernah punya ruang untuk bersuara. Dan yang kuat? Akan semakin berani melanggar.

Sibuk Mengejar Sukses

Ada satu kalimat yang sering dikutip dari Albert Einstein: “Jangan berusaha menjadi orang sukses, tapi jadilah orang yang bernilai.”

Sayangnya, realita kita justru sebaliknya. Sejak kecil, anak-anak didorong untuk berprestasi. Ranking tinggi. Masuk universitas favorit. Dapat kerja bagus. Gaji besar. Hidup mapan. Semua itu penting, tapi ada satu hal yang sering terlewat yakni nilai.

Kapan terakhir kita mengajarkan bahwa jujur itu lebih penting daripada menang? Kapan kita bilang ke anak-anak bahwa membela yang benar itu lebih penting daripada sekadar aman? Atau yang paling sederhana,  bahwa tubuh orang lain bukan bahan bercandaan?

Kita terlalu fokus mencetak anak-anak pintar, sampai lupa membentuk mereka jadi manusia yang berani. Akibatnya? Kita punya generasi yang cerdas dalam teori, tapi ragu dalam praktik. Mereka tahu mana yang salah, tapi memilih diam karena risiko terlalu besar.

Padahal, nilai tidak diuji di ruang kelas. Nilai diuji di momen-momen kecil, ketika tidak ada yang melihat, ketika harus memilih antara aman atau benar. Dan di situlah karakter sebenarnya terbentuk.

Gunung Es Pelecehan

Kasus ini bukan kejadian tunggal. Ia seperti puncak gunung es—kecil di permukaan, tapi besar di bawah.

Banyak laporan menyebutkan bahwa pelecehan seksual di lingkungan kampus sering kali berawal dari hal yang dianggap “sepele”. Candaan seksis di kelas. Komentar tubuh di grup chat. Pesan pribadi yang tidak pantas.

Masalahnya, semua itu sering dianggap normal. Yang protes dibilang baper. Yang menolak dianggap terlalu sensitif. Dan akhirnya, semua orang memilih diam. Di titik ini, pelecehan tidak lagi terlihat sebagai masalah, tapi sebagai budaya.

Apalagi di era digital. Cyber sexual harassment berkembang pesat. Pelaku merasa aman di balik layar. Korban merasa terjebak, bahkan di ruang pribadinya sendiri.

Komentar vulgar, penyebaran foto tanpa izin, hingga ancaman digital menjadi hal yang semakin sering terjadi. Dan yang paling berbahaya, banyak orang melihat, tapi tidak bertindak. Karena dianggap bukan urusan mereka. Karena takut ikut terseret. Karena tidak ingin ribet. Padahal, diam adalah bentuk persetujuan paling sunyi.

Peta Jalan Perubahan

Kalau kita sepakat bahwa ini masalah serius, maka kita juga harus sepakat bahwa perubahan harus dimulai sekarang. Bukan nanti. Bukan oleh orang lain. Ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan.

Pertama, mulai dari rumah. Orang tua perlu berhenti overprotective. Melindungi anak itu penting, tapi membungkam keberanian mereka adalah kesalahan besar. Anak perlu diajarkan cara berpikir, bukan hanya cara menghindar dari masalah.

Kedua, kampus harus serius. Bukan sekadar seminar formalitas. Harus ada sistem pelaporan yang aman, pendampingan korban, dan sanksi tegas untuk pelaku, tanpa pandang latar belakang.

Ketiga, sebagai pengguna media sosial, kita harus lebih aktif. Kalau lihat komentar tidak pantas, tegur. Kalau dapat pesan pelecehan, dokumentasikan dan laporkan. Jangan biarkan ruang digital jadi tempat aman bagi pelaku.

Keempat, ubah budaya dari hal kecil. Dari grup WhatsApp, dari tongkrongan, dari cara kita bercanda. Berani bilang, “Itu tidak lucu.”

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Bukan Kebetulan

Hujan akhirnya reda. Warung kopi kembali sepi. Obrolan berakhir, tapi pikirannya tidak. Kita hidup di zaman di mana informasi mudah diakses, tapi keberanian justru langka. Kita tahu banyak hal, tapi sering kali tidak melakukan apa-apa.

Padahal, menjadi baik itu bukan soal besar atau kecil. Tapi soal pilihan. Pilihan untuk bicara saat yang lain diam. Pilihan untuk berdiri saat yang lain mundur. Pilihan untuk membela, meskipun sendirian.

Mungkin tidak semua orang akan berani. Tapi selalu ada satu atau dua yang memilih untuk tidak diam. Dan harapannya, jumlah itu akan terus bertambah. Karena pada akhirnya, yang akan diingat bukan seberapa pintar kita, tapi seberapa berani kita menjaga nilai.

Bukan tentang jabatan. Bukan tentang kekayaan. Tapi tentang satu pertanyaan sederhana di akhir hidup, “Apakah kita hanya pintar, atau benar-benar jadi manusia yang baik?”

Pilihan itu ada di tangan kita. (*Pengamat sosial)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA