Search

Tabela Dar: Kearifan Petani Danau Semayang yang Jadi Bahan Bully karena Tak Dikenal

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Muhammad Amin Badali*

Awal September lalu, video Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menebar benih padi di Danau Semayang, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, tiba-tiba ramai di lini masa. Reaksinya macam-macam. Ada yang bertanya serius, ada yang mengkritik, tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya bahan tertawaan: masa iya padi ditanam dengan cara ditebar begitu saja ke danau?

Jujur saja, pertanyaan itu wajar. Saya pun, kalau belum pernah dengar praktik semacam ini, mungkin akan bereaksi serupa. Yang jadi masalah bukan rasa penasarannya, melainkan kecepatan kita menyimpulkan sesuatu itu konyol padahal belum tahu apa-apa soal cara kerjanya.

Dan ternyata, yang kelihatan “aneh” di layar HP itu punya nama sendiri. Warga setempat menyebutnya Tabela Dar, singkatan dari Tanam Tebar Benih Langsung di Air, cara yang juga sudah lama dipakai di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Logikanya sebenarnya sederhana. Benih ditebar selagi danau masih berair. Yang kosong akan mengapung, yang berisi dan bagus akan tenggelam lalu mengendap di dasar danau. Begitu air surut beberapa hari kemudian, benih yang sudah mengendap itu tumbuh sendiri di tanah bekas dasar danau, yang memang subur. Ada untungnya pula: benih yang terendam relatif aman dari serangan burung dan hama darat, dibanding kalau ditebar di lahan kering biasa. Dan ini bukan cara yang baru dicoba-coba. Tahun 1996 dan 2015, warga Semayang pernah panen dengan cara serupa, hasilnya memuaskan.

Satu hal yang menurut saya penting digarisbawahi: ini bukan proyek dadakan pemerintah daerah. Sebagian besar dari ratusan hektare yang sudah ditanami dikerjakan warga sendiri, jauh sebelum sang Bupati datang. Bantuan benih dari pemerintah cuma tambahan kecil di atas praktik yang memang sudah berjalan turun-temurun. Kalau begitu, tuduhan bahwa ini cuma pencitraan pejabat rasanya kurang tepat sasaran. Yang terjadi justru sebaliknya: pejabat ikut turun dan belajar dari cara warganya sendiri bertahan hidup.

Nah, di titik inilah saya melihat persoalan yang lebih besar daripada sekadar video tiga puluh detik itu. Mungkin bukan masyarakat Semayang yang bertindak aneh. Mungkin kitalah yang belum cukup kenal dengan pengetahuan mereka. Indonesia ini luas dan kondisi geografisnya jauh dari seragam, jadi cara bertani pun tidak bisa dipukul rata. Yang berlaku di sawah beririgasi belum tentu cocok diterapkan di rawa, di kawasan pasang surut, atau di danau musiman seperti Semayang. Cara menebar benih ke air itu bukan ide yang muncul begitu saja semalam. Ia lahir dari pengalaman panjang membaca kondisi alam, sesuatu yang jauh lebih rumit ketimbang sekadar “cara aneh menanam padi” seperti yang beredar di komentar-komentar media sosial.

Saya justru melihat kejadian ini erat kaitannya dengan dua hal yang diajarkan agama saya, dan barangkali mulai kita lupakan di ruang digital. Pertama, soal tabayyun, atau kebiasaan mencari kejelasan sebelum menilai sesuatu. Alquran surat Al-Hujurat ayat 6 mengingatkan agar setiap kabar yang sampai kepada kita diperiksa dulu kebenarannya, supaya kita tidak menjatuhkan penilaian yang keliru lalu menyesalinya belakangan. Video Bupati menebar benih itu, kalau dipikir-pikir, adalah ujian kecil untuk kebiasaan tabayyun ini. Sayangnya banyak yang lebih memilih tertawa lebih dulu daripada bertanya lebih dulu.

Kedua, soal larangan mengolok-olok. Masih di surat yang sama, ayat 11, Allah menegur mereka yang merendahkan kelompok lain, sebab bisa jadi yang direndahkan itu justru lebih baik di sisi-Nya. Prinsip ini pas sekali dipakai membaca fenomena warga Semayang yang dijadikan bahan bully hanya karena cara bertani mereka tidak lazim di mata orang kota. Padahal yang sedang mereka lakukan adalah bentuk ikhtiar menjaga hidup di tengah kondisi alam yang tidak mudah, sesuatu yang sebetulnya layak dihormati, bukan ditertawakan.

Kalau dipikir-pikir lagi, kejadian ini sebenarnya menyingkap kesenjangan literasi kita: bukan cuma soal pertanian, tapi juga literasi budaya, geografi, sekaligus adab bermedia sosial yang semestinya juga dibentuk oleh nilai-nilai agama. Media sosial punya kekuatan membuat satu peristiwa kecil di daerah terpencil dilihat jutaan orang dalam hitungan jam, tapi sayangnya konteks di baliknya jarang ikut menyebar.

Orang cuma lihat potongan video pendek, tanpa tahu sejarah praktiknya, tanpa tabayyun, lalu langsung menghakimi. Padahal berbeda bukan berarti salah, dan asing di mata kita belum tentu keliru di tempat asalnya. Bahkan dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 22 disebutkan bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit manusia adalah tanda kebesaran Allah yang patut direnungkan, bukan diejek. Saya kira semangat yang sama berlaku untuk perbedaan cara hidup dan cara bertani sekalipun.

Bukan berarti saya menolak semua kritik terhadap praktik ini. Kritik tetap penting, dan pertanyaan kritis soal metode bertani itu sehat-sehat saja, selama disampaikan untuk mencari jawaban, bukan buat bahan candaan. Islam sendiri tidak melarang kritik, yang dilarang adalah cara menyampaikannya kalau sampai menyakiti dan merendahkan martabat orang lain. Ada perbedaan besar antara bertanya “kok bisa begitu caranya?” dengan menertawakan tanpa niat mencari tahu sama sekali.

Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa kearifan lokal kita masih punya banyak pekerjaan rumah supaya benar-benar dikenal secara nasional. Selama ini kalau bicara kearifan lokal, yang terbayang biasanya kesenian, pakaian adat, rumah panggung, kuliner, atau upacara adat. Padahal pengetahuan warga dalam membaca alam dan menyesuaikan hidup dengan kondisi geografis, seperti yang dilakukan warga Semayang yang sebagian besar dulunya nelayan dan kini ikut bertani mengikuti musim danau, itu juga kekayaan pengetahuan lokal. Menjaga dan memahami pengetahuan semacam ini juga bagian dari menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi, yaitu mengelola alam dengan bijak, bukan sekadar mengeksploitasinya, apalagi menertawakan cara orang lain mengelolanya.

Momentum viral ini semestinya bisa dimanfaatkan Kukar untuk memperkenalkan sisi lain daerahnya. Bukan sekadar bilang daerahnya kaya budaya, tapi benar-benar menunjukkan pengetahuan apa yang dimiliki warganya dan dari mana pengetahuan itu lahir. Kearifan lokal tidak akan ada artinya kalau hanya dijadikan kebanggaan seremonial belaka. Ia harus diperlakukan sebagai pengetahuan yang bisa dipelajari, diuji, bahkan mungkin diterapkan di daerah lain dengan kondisi geografis serupa.

Untuk itu, cara kita memperkenalkan budaya daerah barangkali perlu diubah. Jangan sampai kita menunggu sebuah praktik lokal viral dulu, baru sibuk menjelaskan “sebenarnya cara itu sudah dilakukan sejak dulu kok.” Dokumentasi dan edukasi harusnya datang lebih awal, bukan jadi klarifikasi belakangan setelah ramai reda. Bisa saja lewat penelitian kampus yang secara khusus mengkaji kearifan agraris seperti Tabela Dar dan mempublikasikannya, lewat konten edukasi dinas pertanian yang menjelaskan logika di balik praktik ini sebelum jadi viral, atau lewat liputan media yang lebih berani menggali konteks ketimbang sekadar mengejar sensasi. Pemerintah daerah, kampus, media, dan masyarakat sama-sama punya peran, dan tidak bisa saling menunggu siapa yang bergerak duluan. Kalau tidak ada yang mulai, saya khawatir banyak pengetahuan lokal lain bakal bernasib sama: dianggap aneh hanya karena tidak dikenal, lalu dilupakan lagi begitu ramainya reda.

Sebagai mahasiswa yang besar dan belajar di Kukar, sekaligus menempuh pendidikan agama Islam, saya melihat kejadian ini sebagai pengingat ganda: bahwa daerah kita masih menyimpan banyak cerita yang belum selesai kita sampaikan ke dunia luar, dan bahwa adab mencari tahu sebelum menilai adalah pelajaran agama yang sederhana namun sering kita lupakan begitu jari sudah memegang gawai. Saya sendiri baru betul-betul paham logika di balik metode ini setelah menelusurinya lebih jauh, dan rasanya itu semestinya tidak perlu menunggu video viral dulu untuk terjadi. Jadi, daripada sibuk membalas ejekan dengan ejekan, lebih baik kita jawab dengan pengetahuan saja, sembari membiasakan tabayyun sebelum berkomentar.

Jelaskan bagaimana masyarakat melakukannya. Jelaskan mengapa cara itu digunakan. Jelaskan bagaimana kondisi geografis memengaruhinya. Dan biarkan masyarakat luas menilai setelah mereka memahami konteksnya.

Sebab pada akhirnya, literasi bukan hanya soal seberapa banyak yang kita tahu, tapi juga kesediaan mengakui masih banyak hal yang belum kita ketahui, dan kesediaan itu, dalam Islam, disebut sebagai bagian dari kerendahan hati mencari ilmu. Jangan sampai sesuatu yang sudah jadi pengetahuan masyarakat bertahun-tahun, kita anggap keliru hanya karena baru sekali ini kita melihatnya. Dan semoga saja, kearifan lokal tidak perlu viral dulu supaya kita mau belajar mengenalinya, dan tidak perlu diolok-olok dulu supaya kita mau ber-tabayyun. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA