Oleh: Zahratun Halimah*
Perkembangan teknologi saat ini semakin cepat dan membawa perubahan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Salah satu teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah Artificial Intelligence atau AI. Saat ini, AI dapat digunakan untuk membantu mencari ide, menjelaskan materi, membuat rangkuman, memperbaiki tulisan, hingga membantu menemukan informasi yang dibutuhkan dalam mengerjakan tugas. Kehadiran teknologi ini tentu memberikan kemudahan. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul persoalan yang menurut saya perlu diperhatikan: apakah AI benar-benar membantu mahasiswa dalam belajar atau justru membuat mahasiswa semakin bergantung dan malas berpikir?
AI pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk bagi pendidikan. Justru jika digunakan dengan tepat, AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat. Dalam perkuliahan, mahasiswa tidak selalu langsung memahami semua materi yang diberikan dosen. Ada materi tertentu yang membutuhkan penjelasan berulang atau contoh yang lebih sederhana. Dalam kondisi seperti ini, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami materi dari sudut pandang yang berbeda. Mahasiswa juga dapat menggunakannya untuk berdiskusi, mencari gambaran awal suatu topik, atau mengetahui hal-hal yang masih belum dipahaminya.
Sebagai mahasiswa, saya sendiri melihat bahwa penggunaan AI sudah cukup dekat dengan kegiatan perkuliahan. Ketika mendapatkan tugas yang sulit, AI dapat membantu memberikan gambaran mengenai apa yang harus dibahas. Misalnya, ketika ingin membuat opini atau makalah tetapi masih bingung menentukan arah pembahasannya, AI bisa digunakan untuk mencari beberapa alternatif ide. Namun, setelah mendapatkan gambaran tersebut mahasiswa tetap harus membaca, memilah, dan mengembangkan jawabannya sendiri. Dengan cara itu, AI menjadi alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Permasalahan mulai muncul ketika kemudahan AI digunakan sebagai jalan pintas. Ada kemungkinan mahasiswa langsung memasukkan soal atau tugas ke AI, kemudian menyalin seluruh jawaban tanpa membaca dan memahami isinya. Kebiasaan seperti ini memang dapat membuat tugas selesai lebih cepat, tetapi tujuan dari tugas tersebut menjadi tidak tercapai. Tugas yang seharusnya melatih kemampuan berpikir, membaca, menganalisis, dan menyampaikan pendapat akhirnya hanya menjadi kegiatan menyalin jawaban.
Hal tersebut cukup berbahaya jika menjadi kebiasaan. Pendidikan di perguruan tinggi bukan hanya tentang mendapatkan nilai atau menyelesaikan tugas tepat waktu. Mahasiswa juga dipersiapkan untuk mampu menghadapi berbagai persoalan setelah lulus. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah tetap sangat diperlukan. Jika setiap kali menemukan kesulitan mahasiswa langsung menyerahkan semuanya kepada AI, kemampuan tersebut bisa kurang terlatih.
Contohnya sederhana. Ketika seorang mahasiswa mendapat tugas membuat opini, ia bisa saja meminta AI membuat tulisan sampai selesai. Setelah itu, tulisan langsung dikumpulkan. Dari luar tugas tersebut terlihat baik, tetapi belum tentu mahasiswa memahami isi tulisannya. Ketika dosen memberikan pertanyaan atau meminta mahasiswa menjelaskan pendapatnya, mahasiswa tersebut bisa mengalami kesulitan. Berbeda jika AI hanya digunakan untuk mencari ide awal, sedangkan isi dan pendapat dikembangkan berdasarkan pemahaman mahasiswa sendiri. Hasilnya mungkin tidak sempurna, tetapi mahasiswa benar-benar belajar dari proses tersebut.
Selain itu, mahasiswa juga perlu menyadari bahwa AI tidak selalu memberikan informasi yang benar. Jawaban AI tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya. Jika mahasiswa menerima semua informasi dari AI begitu saja, kesalahan informasi juga dapat ikut masuk ke dalam tugas. Karena itu, kemampuan mencari dan menilai informasi tetap penting meskipun teknologi sudah semakin canggih.
Penggunaan AI juga membuat peran dosen menjadi semakin penting. Dosen tidak harus selalu melarang mahasiswa menggunakan AI, karena teknologi merupakan bagian dari perkembangan zaman. Yang lebih penting adalah memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. Bentuk tugas juga dapat dibuat lebih mendorong mahasiswa untuk berpikir, misalnya meminta pendapat berdasarkan pengalaman, hasil pengamatan, diskusi, atau kondisi yang benar-benar terjadi di lingkungan sekitar. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mencari jawaban dari AI, tetapi juga belajar menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.
Mahasiswa juga tidak perlu merasa harus menghindari AI sepenuhnya agar dianggap mampu belajar. Justru mahasiswa perlu belajar menggunakan teknologi tersebut secara bijak. AI dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang belum dipahami, memberikan ide awal, membantu memperbaiki struktur tulisan, atau menjadi teman berdiskusi. Namun, mahasiswa tetap harus menjadi pihak yang menentukan, mengolah, dan bertanggung jawab terhadap hasil akhirnya.
Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada ada atau tidaknya AI dalam pendidikan, tetapi pada cara manusia menggunakannya. AI bisa menjadi alat yang sangat membantu apabila digunakan untuk mendukung proses belajar. Sebaliknya, AI dapat menjadi masalah apabila digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir mahasiswa. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki batas dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai karena ingin mendapatkan hasil yang cepat, kita justru kehilangan proses belajar yang sebenarnya jauh lebih penting.
Mahasiswa yang mampu mengikuti perkembangan teknologi bukan berarti mahasiswa yang menyerahkan semua pekerjaannya kepada AI. Mahasiswa yang siap menghadapi perkembangan zaman adalah mahasiswa yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri. AI seharusnya membuat mahasiswa menjadi lebih mudah belajar dan berkembang, bukan membuat mahasiswa berhenti berpikir. (*Mahasiswi Fakultas Agama Islam Unikarta)










