Search

MBG dan Tantangan Pendidikan Karakter: Apakah Makanan Bergizi Cukup untuk Membentuk Generasi Berakhlak?

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Chusnul Chotimah*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program pemerintah yang saat ini banyak diperbincangkan masyarakat. Program ini hadir dengan tujuan yang baik, yaitu membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik agar mereka dapat tumbuh lebih sehat dan memiliki energi yang cukup untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Bagi siswa, makanan yang cukup dan bergizi tentu menjadi salah satu faktor yang mendukung kesiapan mereka dalam belajar. Namun, di balik tujuan tersebut, ada hal yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Apakah makanan bergizi saja sudah cukup untuk membentuk generasi yang sehat sekaligus memiliki akhlak yang baik?

Program MBG bukanlah program kecil. Sejak mulai dilaksanakan pada awal 2025, program ini terus mengalami perluasan dan menjangkau semakin banyak peserta didik. Besarnya jumlah penerima manfaat menunjukkan bahwa MBG memiliki peran yang cukup besar dalam kehidupan siswa. Karena itu, keberhasilannya tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan atau jumlah penerima manfaat. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah apakah makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi, halal, dan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perkembangan siswa.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), persoalan makanan memiliki perhatian tersendiri. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang dapat menghilangkan rasa lapar, tetapi juga makanan yang halal dan baik atau thayyib. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 168: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…”

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa makanan yang dikonsumsi seorang muslim harus memperhatikan dua hal, yaitu halal dan thayyib. Halal berkaitan dengan diperbolehkan atau tidaknya makanan menurut syariat Islam, sedangkan thayyib berkaitan dengan kualitas dan kebaikan makanan, seperti bersih, aman, sehat, dan memberikan manfaat bagi tubuh. Jika dikaitkan dengan MBG, maka makanan yang diberikan kepada siswa seharusnya tidak hanya memiliki kandungan gizi yang baik, tetapi juga memperhatikan bahan, proses pengolahan, kebersihan, keamanan, dan kehalalannya.

Hal ini menjadi semakin penting karena pelaksanaan MBG juga tidak terlepas dari berbagai persoalan. Salah satu isu yang sempat menjadi perhatian masyarakat adalah adanya kasus gangguan kesehatan dan keracunan yang dikaitkan dengan MBG. Pada November 2025, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan bahwa dari 441 kejadian keracunan pangan yang tercatat saat itu, 211 kejadian atau sekitar 48 persen berkaitan dengan MBG, dengan 11.640 penerima manfaat terdampak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa program dengan jumlah penerima yang sangat besar membutuhkan sistem pengawasan makanan yang ketat.

Adanya persoalan tersebut tidak berarti MBG harus dianggap sebagai program yang buruk atau gagal. Justru, hal tersebut menjadi pengingat bahwa program sebesar MBG membutuhkan standar keamanan dan pengawasan yang serius. Anak-anak merupakan kelompok yang harus mendapatkan perhatian khusus karena makanan yang tidak aman dapat memberikan dampak yang besar terhadap kesehatan mereka. Oleh sebab itu, proses penyediaan makanan mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga makanan sampai kepada siswa harus benar-benar diperhatikan.

Selain keamanan, aspek kehalalan juga penting untuk diperhatikan. Bagi peserta didik muslim, makanan yang dikonsumsi bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi juga berkaitan dengan ajaran agama. Konsep halalan thayyiban seharusnya dapat menjadi salah satu dasar dalam memastikan MBG. Makanan yang bergizi tetapi tidak jelas kehalalannya tentu menimbulkan persoalan tersendiri. Begitu juga makanan yang halal tetapi tidak bersih atau tidak aman untuk dikonsumsi juga belum sepenuhnya memenuhi prinsip thayyib. Oleh karena itu, gizi, kehalalan, kebersihan, dan keamanan seharusnya berjalan bersama.

Persoalan MBG juga tidak seharusnya hanya berhenti pada pembahasan makanan. Program ini justru memiliki peluang untuk dikaitkan dengan pendidikan karakter di sekolah. Kegiatan makan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi bagian dari proses pembiasaan yang sederhana tetapi memiliki nilai pendidikan. Siswa dapat diajarkan untuk berdoa sebelum makan, mencuci tangan, mengantre dengan tertib, mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan, tidak membuang makanan, dan mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menyiapkan makanan.

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan terus-menerus dapat membantu membentuk karakter siswa. Misalnya, ketika siswa tidak membuang makanan, mereka belajar untuk menghargai rezeki dan bersyukur. Ketika mereka mengantre, mereka belajar disiplin dan menghargai hak orang lain. Ketika mereka tidak mengambil makanan secara berlebihan, mereka belajar untuk tidak bersikap berlebihan. Ketika mereka mau berbagi dengan teman, mereka belajar tentang kepedulian dan sikap saling membantu.

Hal tersebut sangat berkaitan dengan PAI. PAI seharusnya tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai ajaran agama, tetapi juga membantu siswa menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti syukur, tanggung jawab, kebersihan, kepedulian, kedisiplinan, kesederhanaan, dan menghargai sesama merupakan nilai yang dapat ditanamkan melalui kegiatan MBG.

Guru PAI dapat mengambil peran dalam menghubungkan kegiatan MBG dengan ajaran Islam. Misalnya, guru dapat menjelaskan kepada siswa mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib. Guru juga dapat mengajarkan bahwa makanan yang diterima merupakan nikmat dari Allah Swt sehingga harus disyukuri dan tidak boleh disia-siakan. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengetahui bahwa makanan tersebut bergizi, tetapi juga memahami nilai agama yang terdapat di balik kebiasaan makan yang baik.

Pendekatan seperti ini akan membuat MBG memiliki manfaat yang lebih luas. Siswa tidak hanya mendapatkan makanan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk belajar tentang sikap dan perilaku yang baik. Pendidikan karakter tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah atau pembelajaran di dalam kelas. Terkadang, kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari justru lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh siswa.

Namun, pembentukan karakter tidak dapat hanya dibebankan kepada guru PAI. Guru mata pelajaran lain, wali kelas, orang tua, pengelola MBG, dan lingkungan sekolah juga memiliki peran yang penting. Jika sekolah mengajarkan siswa untuk tidak membuang makanan, tetapi di rumah kebiasaan tersebut tidak diterapkan, maka hasilnya mungkin tidak maksimal. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara sekolah dan keluarga agar pembiasaan karakter dapat dilakukan secara konsisten.

Di sisi lain, pengelola MBG juga memiliki tanggung jawab besar. Mereka tidak hanya bertugas menyediakan makanan dalam jumlah banyak, tetapi juga memastikan makanan tersebut memenuhi standar gizi, keamanan, kebersihan, dan kehalalan. Dalam hal ini, pengawasan dari pemerintah juga sangat penting. Program yang menyangkut jutaan anak membutuhkan sistem yang mampu mencegah terjadinya masalah, bukan hanya bertindak setelah masalah muncul.

MBG seharusnya dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk menggabungkan dua kebutuhan penting dalam pendidikan, yaitu kesehatan fisik dan pembentukan karakter. Tubuh yang sehat memang diperlukan agar siswa dapat belajar dengan baik. Namun, kesehatan fisik tanpa akhlak yang baik belum cukup untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Begitu pula pendidikan karakter tanpa memperhatikan kesehatan siswa juga belum lengkap.

Oleh karena itu, pertanyaan dalam judul opini ini, “Apakah makanan bergizi cukup untuk membentuk generasi berakhlak?”, jawabannya adalah tidak. Makanan bergizi merupakan salah satu kebutuhan penting, tetapi pembentukan akhlak membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Siswa membutuhkan pendidikan agama, keteladanan dari guru dan orang tua, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

MBG dapat menjadi bagian dari proses tersebut jika pelaksanaannya tidak hanya berorientasi pada jumlah makanan yang dibagikan. Makanan yang diberikan harus bergizi, halal, thayyib, bersih, aman, dan layak dikonsumsi. Pada saat yang sama, kegiatan MBG dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai seperti rasa syukur, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kebersihan, dan tidak berlebihan.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menciptakan siswa yang pintar dan sehat, tetapi juga manusia yang memiliki karakter dan akhlak yang baik. Karena itu, MBG dan PAI seharusnya dapat berjalan beriringan. Tubuh membutuhkan makanan yang bergizi dan halal, sedangkan akhlak membutuhkan pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan. Jika keduanya dapat berjalan bersama, maka MBG tidak hanya menjadi program untuk mengisi perut siswa, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang sehat, cerdas, peduli, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA