Search

Solusi Dua Negara di Tanah Palestina Mengingkari Amanat Konstitusi Indonesia

Ketua DPW ABI Kaltim Sayyid Thariq Assegaff menyampaikan orasi dalam kegiatan Peringatan Dua Tahun Badai Al-Aqsa di Samarinda pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Berita Alternatif/Ufqil Mubin)

Oleh: Sayyid Thariq Assegaff*

Saya sebagai orator terakhir dalam acara ini mendapat sedikit kemudahan karena semua hal telah disampaikan oleh para orator yang lain. Jadi, tugas saya hanya menyimpulkan apa yang terjadi, apa yang menjadi keinginan kita, apa yang menjadi aspirasi kita, apa yang menjadi keinginan kita untuk kita sampaikan kepada masyarakat Kota Samarinda yang kita cintai ini.

Pertama, kita berdiri di tempat ini, menunjukkan komitmen kita, konsistensi kita, serta menegaskan kesetiaan kita terhadap pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Dalam alinea pertama UUD 1945 disebutkan bahwa negara ini berdasarnya UUD-nya menggarisbawahi bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

Kita berdiri di sini mengemban amanat konstitusi. Dalam alinea keempat UUD 1945 disebutkan bahwa bangsa Indonesia ikut serta dalam upaya perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Namun, hari ini kita menyaksikan di Gaza bahwa di dunia modern masih terjadi bentuk penjajahan yang paling primitif—sebuah penjajahan yang dilakukan secara terang-terangan di hadapan seluruh umat manusia. Penjajahan atas Palestina adalah bentuk pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan, serta mencederai martabat bangsa-bangsa yang beradab, termasuk kita sebagai bangsa yang bermartabat dan berdaulat.

Kedua, kita berdiri di sini dengan semangat melaksanakan amanat konstitusi, yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang berkeadilan. Apa yang terjadi saat ini menunjukkan penistaan terhadap kemerdekaan, keadilan, dan nilai-nilai perdamaian itu sendiri.

Israel telah menjadi simbol dari kebrutalan dan kebiadaban modern. Dunia kini menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kemanusiaan direndahkan. Dua tahun terakhir menjadi momen di mana topeng rezim Israel mulai tersingkap, dan dunia melihat hakikat sesungguhnya dari penjajahan yang mereka lakukan.

Kita berdiri di sini bukan karena kebencian, tetapi karena cinta terhadap kemanusiaan dan keadilan. Hanya mereka yang kehilangan nurani dan kemanusiaanlah yang masih berusaha membenarkan atau mengakui entitas terlarang bernama Israel.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, bangsa yang berdaulat dan bermartabat tidak akan tinggal diam terhadap tindakan yang menodai nilai kemanusiaan dan konstitusi. Oleh sebab itu, gagasan “solusi dua negara” sejatinya adalah bentuk pengingkaran terhadap amanat konstitusi kita—karena penjajahan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan di muka bumi.

Janganlah kita menilai sesuatu hanya dari besarnya sebuah negara, lalu merasa tidak memiliki dasar atau kedudukan hukum (legal standing) untuk menyampaikan pendapat terhadap apa yang disampaikan oleh Yang Mulia Presiden Prabowo Subianto.

Kita menyampaikan pandangan ini justru sebagai bentuk cinta kita kepada pemimpin kita, kepada Presiden kita. Karena sesuatu yang kita cintai harus kita jaga, harus kita pelihara kehormatannya, serta kita arahkan agar tetap berada di jalan yang benar.

Presiden adalah sosok yang kita hormati, seorang yang berintegritas dan bermartabat. Namun, sebagai rakyat yang mencintainya, kita juga memiliki kewajiban untuk mengingatkan beliau apabila langkah yang diambil tidak sejalan dengan nilai dan amanat konstitusi bangsa.

Kedua, kita melihat bahwa pernyataan Presiden yang menganggap solusi dua negara sebagai jalan penyelesaian konflik di Timur Tengah justru bertentangan dengan sejarah perjuangan dan kemerdekaan bangsa kita sendiri.

Kita pernah mengalami hal serupa di masa lalu, tepatnya pada akhir tahun 1946, ketika bangsa Indonesia menghadapi Perjanjian Linggarjati. Dalam perjanjian itu, wilayah Indonesia hanya diakui meliputi tiga daerah: Sumatera, Jawa, dan Madura. Selebihnya dianggap masih berada di bawah kekuasaan penjajah.

Jika kita mengatakan bahwa solusi dua negara adalah bentuk keadilan, maka hal yang sama dapat dikatakan terhadap Perjanjian Linggarjati. Namun pada saat itu, para pendiri bangsa menolak dengan tegas pembagian wilayah tersebut. Mereka menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati.

Oleh karena itu, semangat yang sama seharusnya kita tunjukkan hari ini. Kemerdekaan Palestina adalah harga mati. Satu-satunya solusi adalah berdirinya satu negara yang merdeka dan berdaulat, tempat seluruh entitas—Yahudi, Muslim, Kristen, dan lainnya—dapat hidup berdampingan secara damai di tanah Palestina yang bersejarah. Inilah semangat dan komitmen kita hari ini.

Peristiwa yang terjadi pada 7 Oktober 2023 di Al-Aqsa memiliki kemiripan dengan peristiwa heroik bangsa kita di masa lalu, tetapi dengan skala yang lebih besar dan fenomenal, yakni serangan umum 1 Maret 1949 ke ibu kota Jogjakarta; serangan yang membuktikan bahwa Republik Indonesia masih eksis, walau hanya mampu menguasai kota selama 6 jam, tetapi sudah cukup untuk tetap menyalakan semangat perlawanan dan kemerdekaan.

Demikian pula dengan rakyat Palestina. Ketika dunia menganggap mereka telah habis, mereka justru bangkit mempertahankan kehormatan dan keberadaannya. Hingga kini, perlawanan itu terus bertahan dan membuktikan bahwa kekuatan militer yang begitu besar tidak mampu memadamkan semangat dan keyakinan akan kemerdekaan.

Padahal, hampir seluruh wilayah Gaza telah hancur. Namun semangat perjuangan rakyat Palestina tidak pernah padam. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajahan tidak bisa dihapuskan oleh siapa pun.

Oleh karena itu, perjuangan rakyat Palestina harus menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa Arab dan Muslim di seluruh dunia untuk meneguhkan kembali semangat kemerdekaan dan persatuan.

Kita harus terus berdiri di mana pun kita berada untuk menyuarakan dukungan kepada Palestina—sampai Palestina benar-benar merdeka, atau sampai kita sendiri tidak lagi mampu bersuara.

Akhir kata, terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjaga keamanan dan ketertiban acara ini. Terima kasih juga kepada seluruh peserta yang hadir hari ini. Kehadiran kita di sini adalah bentuk nyata dari posisi kita: kita bersama Palestina. Kita menghubungkan semangat dan cinta kita kepada bangsa sendiri dengan semangat kemerdekaan Palestina. (*Disampaikan dalam Peringatan Dua Tahun Badai Al-Aqsa di Samarinda pada 7 Oktober 2025)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA