BERITAALTERNATIF.COM – Puluhan tahun pengusiran tidak mematahkan tekad rakyat Palestina, melainkan memperdalam perjuangan yang terus berlangsung di Gaza, al-Quds, dan diaspora.
Menjelang peringatan Nakba ke-78, bangsa dan rakyat Palestina berdiri tegak—tidak terkalahkan, tidak tunduk—dengan generasi baru yang siap menuntut hak kelahiran mereka. Ya, harga yang mereka bayar sangat mahal, tetapi hal itu juga sepenuhnya membongkar kebohongan tentang “ketakterkalahkan” Zionis dan Amerika Serikat. Dari Gaza hingga al-Quds, hingga komunitas diaspora di seluruh dunia, rakyat Palestina bangga atas perlawanan dan eksistensi mereka—dan memang seharusnya demikian.
Selama 78 tahun terakhir (terutama saat Nakba awal dan 30 bulan terakhir), mereka telah melalui penderitaan luar biasa. Namun, terlepas dari berbagai prediksi dan upaya pemusnahan, mereka tetap berpegang pada martabat dan prinsip. Mereka telah dikhianati oleh banyak pihak—mulai dari rezim Arab reaksioner hingga sebagian pemimpin mereka sendiri, serta pemerintah Barat—namun itu tidak menghentikan mereka untuk menuntut hak mereka.
Ayah dan ibu mertua penulis merupakan contoh generasi yang tiba-tiba dihadapkan pada realitas pengusiran paksa dan pendudukan yang mengubah hidup mereka selamanya. Tinggal dan bekerja di Yafa pada 1948 (yang saat itu disebut berada di bawah “perlindungan Mandat Inggris”), mereka terpaksa melarikan diri ketika milisi Zionis menyerang. Ibu mertua penulis yang sedang hamil hanya mengingat peluru yang melintas di atas kepala mereka.
Bagi rakyat Palestina, 7 Oktober 2023 dapat dianggap sebagai padanan abad ini dari Pertempuran Karameh (Pertempuran Martabat); keduanya menantang mitos “ketakterkalahkan” Israel. Karameh (Yordania) adalah pertempuran penting pada Maret 1968 setelah kekalahan besar tahun 1967. Itu merupakan agresi besar pertama Israel setelah perang tersebut, dengan tujuan menghancurkan unit Fedayeen Palestina yang sedang berkembang.
Agresor Zionis mengandalkan keunggulan udara—taktik yang sudah lama digunakan—dan meskipun mereka menghancurkan sebagian besar kota, mereka juga mengalami kerugian besar yang tak terduga dan mundur setelah satu hari tanpa mencapai tujuan. Berita tentang Karameh menyebar cepat, dan gambaran para pejuang Fedayeen yang bersenjata ringan tetapi tetap bertahan dan melawan, menginspirasi rakyat Palestina dan Arab di seluruh kawasan.
Jika dibandingkan dengan perlawanan Hamas di Gaza dalam dua tahun terakhir—gambar Yahya Sinwar melempar tongkat ke arah drone musuh, serta para pejuang bersandal yang menghadapi tentara Israel dengan teknologi canggih—kita dapat memahami perbandingan tersebut.
Jangan berpura-pura terkejut bahwa rakyat Palestina tidak tertarik pada upaya “rekonsiliasi” apa pun, terlepas dari klaim Otoritas Palestina. Setelah lebih dari seperempat abad kegagalan Perjanjian Oslo dan pelanggaran terus-menerus terhadap gencatan senjata di Gaza dan wilayah lain, hidup berdampingan dengan pelaku genosida Zionis bukanlah—dan tidak akan pernah menjadi—pilihan.
Seperti yang ditulis oleh penyair nasional Palestina, Mahmoud Darwish, pada September 1988 dalam puisi “Those Who Pass Between Fleeting Words”:
“Kami memiliki masa lalu di sini
Kami memiliki tangisan pertama kehidupan
Kami memiliki masa kini, masa kini dan masa depan
Kami memiliki dunia ini, dan akhirat
Maka tinggalkan negeri kami
Tanah kami, laut kami
Gandum kami, garam kami, luka kami
Dari segalanya—dan pergilah”
Kita perlu mempelajari pelajaran dari beberapa tahun terakhir untuk menavigasi realitas baru dari kemunduran hegemoni AS-Israel di Asia Barat. Nubuat mendiang Sayyid Hassan Nasrallah terbukti benar: Israel memang “lebih rapuh dari sarang laba-laba.”
Di pusat kekuatan imperialis, tugas kita adalah membantu gerakan solidaritas memahami bahwa Palestina bukan sekadar kasus amal, bahwa perlawanan bersenjata adalah bagian dari perjuangan, dan bahwa isu Palestina bukan sesuatu yang bisa diangkat lalu ditinggalkan demi kepentingan politik sesaat. Berapa kali kita melihat selebritas atau politisi yang mengaku progresif mendukung Palestina, hanya untuk kemudian meninggalkannya saat tidak lagi menguntungkan?
Kemunafikan dan standar ganda terkait perlawanan Palestina (dan perlawanan lainnya) terhadap ambisi dominasi regional AS-Israel sangat tertanam dalam narasi Barat. Kita lelah mendokumentasikan berbagai tindakan pemerintah, media, dan institusi lain yang meremehkan kekejaman dan kejahatan perang Zionis. Kita juga muak dengan kecurigaan terus-menerus dan pencemaran terhadap aspirasi rakyat Palestina untuk hidup bebas dari kolonialisme pemukim, sambil pada saat yang sama merayakan klaim-klaim palsu Zionis.
Nakba 78 harus menjadi penegasan kembali hak-hak rakyat Palestina—hak atas tanah mereka, hak untuk melawan, dan hak untuk kembali! (*)
Penulis: Marion Kawas
Sumber: Al Mayadeen











