Search

SMPN 2 Tenggarong: Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Ganggu Rutinitas Disiplin Siswa

oplus_0

BERITAALTERNATIF.COM – Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi perhatian sejumlah sekolah, termasuk SMP Negeri 2 Tenggarong.

Pemerintah Kabupaten Kukar memberlakukan PJJ bagi jenjang PAUD, SD, dan SMP mulai 3 hingga 8 September 2026 sebagai respons terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, serta kekeringan.

Kepala SMP Negeri 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan pihak sekolah tetap mengikuti kebijakan pemerintah.

Namun, secara pribadi ia menilai kondisi di lingkungan SMPN 2 Tenggarong belum menunjukkan keadaan yang menurutnya mendesak untuk mengubah pembelajaran tatap muka menjadi PJJ.

Menurutnya, kondisi setiap wilayah tidak selalu sama sehingga penerapan kebijakan pembelajaran perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah.

“Kalau kelembagaan kita harus mengikuti pemerintah. Tapi kalau secara pribadi, menurut saya SMP 2 Tenggarong ini belum menuju syarat kalau diberlakukan PJJ,” ujar Yunus.

Ia menyebut salah satu pertimbangan yang diperhatikan sekolah adalah kondisi lingkungan dan suhu di sekitar sekolah.

Yunus mengatakan pihak sekolah juga melakukan pemantauan terhadap kondisi tersebut melalui informasi yang diberikan Dinas Pendidikan.

Namun, bagi Yunus, persoalan PJJ tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan. Ada aspek lain yang menurutnya perlu diperhatikan, yakni keberlangsungan pendidikan karakter dan pembiasaan siswa yang selama ini dibangun di sekolah.

Yunus menjelaskan, SMPN 2 Tenggarong saat ini menerapkan sejumlah pembiasaan untuk membentuk kedisiplinan siswa.

Salah satunya berkaitan dengan ketepatan waktu datang ke sekolah.

Sebelumnya, kata dia, masih ditemukan siswa yang datang setelah jam masuk sekolah. Karena itu, sekolah membuat pola pembiasaan agar siswa terbiasa sudah berada di lingkungan sekolah sesuai waktu yang ditentukan.

“Misalnya ketika anak itu lambat sehari, kalau yang Islam saya berlakukan salat Duha dua rakaat,” jelasnya.

Menurut Yunus, pembiasaan tersebut kemudian diberikan secara bertahap berdasarkan frekuensi keterlambatan siswa.

Jika keterlambatan terjadi dua hari, jumlah rakaat salat Duha ditambah menjadi empat rakaat. Tiga hari menjadi enam rakaat, sedangkan keterlambatan selama empat hari disertai pemanggilan orang tua.

“Empat hari itu sudah kita panggil orang tuanya. Ini pembelajaran baru yang kami terapkan untuk mengurangi tingkat ketidakdisiplinan anak,” katanya.

Sementara bagi siswa non-Muslim, sekolah memberikan pendampingan melalui kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing.

Yunus mengatakan pola tersebut bukan semata-mata untuk memberikan konsekuensi kepada siswa, melainkan membentuk kebiasaan agar mereka memahami pentingnya disiplin.

Ia khawatir apabila proses tersebut terlalu lama dilakukan dari rumah, pembiasaan yang sudah dibangun akan kembali harus dimulai dari awal.

“Kalau dihalangi dengan PJJ ini, nanti kita mulai lagi dari nol,” ujarnya.

Selain disiplin waktu, SMPN 2 Tenggarong juga membangun karakter siswa melalui pembiasaan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Hal tersebut mencakup cara siswa memberi salam ketika bertemu guru, cara berbicara kepada guru, serta etika berinteraksi antara siswa kelas VII, VIII, dan IX.

Menurut Yunus, hal-hal semacam itu sulit dibangun hanya melalui pembelajaran akademik. Pembiasaan harus dilakukan secara langsung dan terus-menerus dalam kehidupan sekolah.

“Pendidikan karakter dan pembiasaan yang kita lakukan di sekolah ini terkait dengan bagaimana adatnya. Salim ketika ketemu guru, cara ngomong dengan kakak-kakaknya, kelas tujuh, kelas delapan, kelas sembilan. Ini kita lakukan pembiasaan,” tuturnya.

Selain karakter, sekolah juga masih menghadapi tantangan dalam kemampuan dasar sejumlah siswa.

Yunus menyebut SMPN 2 Tenggarong masih memiliki lebih dari 10 siswa berkebutuhan khusus (ABK). Sebagian di antaranya masih mengalami kesulitan membaca serta kemampuan dasar berhitung seperti menjumlah dan mengurangi.

Karena itu, sekolah memberikan pembiasaan yang dilakukan secara bertahap, salah satunya melalui latihan perkalian.

Menurutnya, latihan tersebut bukan dimaksudkan untuk memaksa siswa menghafal, tetapi membangun kemampuan dasar agar mereka tidak selalu bergantung pada proses menghitung ketika menghadapi persoalan matematika.

“Bukan berarti kami memaksa menghafal. Tapi bagaimana memancing anak-anak ini, perkalian itu tidak perlu dihitung lagi,” katanya.

Pembiasaan tersebut, kata Yunus, dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari aktivitas sekolah.

Ia menilai pembelajaran tatap muka memberikan ruang yang lebih besar bagi guru untuk melihat langsung perkembangan siswa, terutama dalam hal kemampuan komunikasi, keberanian berbicara, membaca, serta memahami materi.

Pengalaman pembelajaran dari rumah saat pandemi Covid-19 menjadi salah satu alasan Yunus memiliki kekhawatiran tersebut.

Menurutnya, pengalaman sekolah menunjukkan terdapat perbedaan antara kemampuan siswa ketika menjawab pertanyaan secara daring dengan kemampuan mereka ketika harus menyampaikan jawaban secara langsung di depan kelas.

“Ketika kita mengajukan pertanyaan secara daring, jawaban anak itu luar biasa. Begitu masuk, kita suruh ngomong di depan, mereka tidak bisa ngapa-ngapain,” ujarnya.

Kondisi itu menjadi perhatian sekolah karena pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk membuat siswa mampu menjawab soal, tetapi juga membangun kemampuan memahami informasi dan menyampaikan kembali pemahamannya.

Hal tersebut juga berkaitan dengan transformasi digital yang sudah berlangsung di SMPN 2 Tenggarong.

Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang menerapkan konsep Google Reference School, dengan fasilitas satu siswa satu Chromebook dan satu ruang satu papan digital. Sertifikasi bagi guru dan siswa juga telah dilakukan.

Yunus mengatakan pemanfaatan teknologi justru memperlihatkan persoalan lain.

 

sekolah menemukan siswa masih memiliki kelemahan dalam membaca secara mendalam dan memahami isi bacaan.

 

“Di tahun pertama evaluasi sekolah rujukan Google tadi, kelemahannya adalah anak-anak tidak membaca. Anak-anak tidak paham dengan bacaannya,” katanya.

 

Karena itu, sekolah kemudian mendorong kegiatan menulis sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan membaca dan memahami informasi.

 

Menurut Yunus, ketika siswa diminta menulis, mereka tidak cukup hanya mencari atau mengisi jawaban.

 

Mereka harus membaca, memahami informasi, kemudian menyusun kembali gagasan tersebut menggunakan bahasa sendiri.

 

“Dengan menulis itu, satu atau dua problem bisa terselesaikan. Mereka tidak hanya dilatih untuk menulis, merangkai kata, tapi juga membaca kata-kata yang kemudian dia paham,” jelasnya.

 

Bagi Yunus, perkembangan teknologi tetap penting dalam proses pendidikan. Namun, teknologi tidak boleh membuat kemampuan dasar siswa seperti membaca, memahami, berkomunikasi, dan membangun karakter justru terabaikan.

 

Karena itu, sejak ditempatkan sebagai kepala sekolah pada 2024, Yunus bersama jajaran guru terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap persoalan dan potensi SMPN 2 Tenggarong.

 

Ia mengidentifikasi sumber daya sekolah, mulai dari kemampuan guru, fasilitas, kondisi lingkungan, hingga potensi siswa.

“Kita mencoba dengan teman-teman di sini. Langkah awal saya adalah mengidentifikasi apa masalah utama yang dihadapi sekolah. Yang kedua, saya juga mengidentifikasi apa potensi yang dimiliki sekolah, terutama sumber dayanya,” ungkapnya.

Menurut Yunus, pembentukan karakter menjadi salah satu bagian penting karena sekolah tidak hanya bertugas meningkatkan nilai akademik, tetapi juga membentuk kebiasaan yang akan dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai PJJ tetap dapat menjadi solusi ketika kondisi lingkungan memang tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka.

Namun, selama pembelajaran dari rumah diberlakukan, sekolah harus tetap memastikan pembiasaan, interaksi, dan perkembangan karakter siswa tidak terputus.

Sebab, menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana siswa tetap menerima materi pelajaran dari rumah, tetapi bagaimana proses pendidikan tetap mampu membentuk perilaku dan kemampuan siswa secara utuh.

“Walau seperti apa keaktifan anak ketika belajar dari rumah, pengalaman kita di Covid menunjukkan penurunan yang sangat drastis,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho 

Editor: Ufqil Mubin

Tags :

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA