Search

Kantin SMPN 2 Tenggarong Tetap Produktif Saat Program MBG Berjalan?

oplus_0

BERITAALTERNATIF.COM – SMP Negeri 2 Tenggarong tetap mempertahankan keberadaan kantin sekolah meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan bagi para siswa.

Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan keberadaan kantin tetap diperlukan karena selera dan kebutuhan makanan setiap siswa tidak selalu sama dengan menu yang disediakan melalui program MBG.

Menurutnya, kantin juga menjadi salah satu sarana bagi sekolah untuk mengetahui makanan dan minuman yang diminati siswa.

“Anak-anak ini kan seleranya berbeda-beda. Tidak semua makanan yang disediakan MBG sesuai dengan selera mereka,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (07/09/2026)

Karena itu, sekolah tetap memberikan ruang bagi kantin untuk beroperasi dengan sejumlah aturan yang harus dipatuhi pengelola.

Salah satu aturan utama ialah larangan menjual makanan dan minuman dengan kemasan plastik sekali pakai.

Sekolah juga mewajibkan siswa membawa tumbler atau botol minum sendiri. Pengelola kantin tidak menyediakan gelas plastik untuk minuman yang dijual.

“Kalau tidak bawa tumbler, tidak dilayani. Kantin tidak menyediakan gelas,” jelas Yunus.

Kebijakan tersebut tidak langsung diterapkan secara penuh. Sekolah membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan untuk membiasakan para pengelola kantin mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya sekolah mengurangi penggunaan plastik sekaligus membangun kebiasaan siswa dalam mengelola sampah.

Yunus menyebut kebijakan tersebut berdampak terhadap volume sampah plastik di lingkungan sekolah. Sebelum aturan diterapkan, sampah plastik diperkirakan mencapai sekitar 8–10 persen dari total sampah harian.

Setelah kebijakan berjalan, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 3 persen dan pada kondisi tertentu bahkan tidak ditemukan sampah plastik dari aktivitas kantin.

Pengelolaan kantin juga disesuaikan dengan komitmen SMPN 2 Tenggarong sebagai sekolah yang mengembangkan budaya lingkungan. Karena itu, makanan yang dijual di kantin diarahkan menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Untuk makanan seperti kue atau jajanan, sekolah mendorong penggunaan daun sebagai pembungkus sehingga limbahnya lebih mudah dikelola.

Di sisi lain, keberadaan kantin tidak diposisikan sebagai pesaing program MBG. Sekolah justru memanfaatkan aktivitas kantin untuk melihat respons siswa terhadap makanan yang tersedia.

Makanan yang banyak tersisa atau kurang diminati siswa menjadi bahan evaluasi sekolah untuk mengetahui pola selera siswa.

“Dari situ kita bisa tahu anak-anak sukanya apa, yang tidak disukai apa. Itu bisa menjadi masukan juga,” katanya.

Dengan pola tersebut, sekolah berupaya menjaga dua hal sekaligus, yakni pemenuhan kebutuhan makanan siswa dan pengurangan sampah plastik di lingkungan sekolah.

Pengelolaan kantin pun menjadi bagian dari pembiasaan siswa agar tidak hanya menerima makanan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas mereka di sekolah. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho 

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA