BERITAALTERNATIF.COM – SMP Negeri 2 Tenggarong mengembangkan tiga inovasi pengelolaan limbah sebagai bagian dari program sekolah berbudaya lingkungan.
Sampah daun, sisa buah, hingga batang dan ranting pohon dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki kegunaan.
Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan ketiga inovasi tersebut dikembangkan untuk mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai tambah dari sampah yang dihasilkan di lingkungan sekolah.
Sampah daun diolah menjadi pupuk kompos padat. Sementara sisa buah dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos cair.
“Jadi sampah daun itu pupuk kompos padat, sampah buahnya kompos cair,” kata Yunus.
Pengolahan pupuk cair dilakukan dengan mengumpulkan sisa buah pada tempat khusus. Setelah jumlahnya cukup, limbah tersebut diberi bahan pengurai berupa EM4 dan gula merah.
Campuran tersebut kemudian digunakan untuk membantu mengurai sisa buah hingga menghasilkan kompos cair. Sisa atau ampas dari proses tersebut dapat dimanfaatkan menjadi kompos padat.
Bahan yang digunakan tidak hanya berasal dari sisa konsumsi siswa. Sekolah juga memanfaatkan buah yang dihasilkan dari tanaman di lingkungan sekolah, seperti jambu dan belimbing.
Yunus mengatakan inovasi pupuk cair tersebut berbeda dengan pengolahan kompos padat yang sebelumnya sudah dilakukan sekolah.
“Kalau sebelumnya itu hanya pupuk kompos padat yang diproduksi SMP 2. Sebelum saya ke sini sudah ada mereka buat kompos. Tapi bukan yang ini. Ini baru sama sekali,” ujarnya.
Kompos padat yang dihasilkan sekolah juga telah dimanfaatkan di luar lingkungan sekolah. Yunus menyebut terdapat pihak yang secara rutin mengambil kompos tersebut untuk kebutuhan usaha tanaman dan pupuk.
Sekolah menjual kompos dalam kondisi polos tanpa merek. Penamaan dan pengemasan kemudian dilakukan oleh pihak pembeli sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Selain limbah daun dan buah, sekolah mengembangkan pemanfaatan batang serta ranting pohon yang sudah tua.
Batang pohon yang biasanya dibuang atau dibakar direncanakan dicacah menggunakan mesin hingga menjadi serbuk. Serbuk tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam jamur tiram.
Untuk mendukung program tersebut, sekolah telah membuat rumah jamur berukuran sekitar 4×7 meter di bagian belakang sekolah.
“Awalnya saya bilang, bagaimana kalau batang-batang pohon yang tua ini kita beli mesin untuk mencacah batang tadi menjadi serbuk,” jelas Yunus.
Menurutnya, tiga program tersebut menjadi bagian dari inovasi yang ditonjolkan SMPN 2 Tenggarong dalam pengembangan sekolah berbudaya lingkungan.
Ketiga inovasi itu juga didokumentasikan dalam bentuk buku. Sekolah membuat dokumentasi masing-masing program sebagai rekam jejak proses, mulai dari bahan yang digunakan hingga hasil yang diperoleh.
Yunus menyebut inovasi tersebut turut mendukung SMPN 2 Tenggarong meraih predikat Adiwiyata Mandiri. Dalam proses penilaian, tim dari kementerian turun langsung ke sekolah sebanyak dua kali.
“Kalau tidak ada inovasi begitu berat, karena kementerian yang nilai dua kali turun ke sini,” katanya.
Pada penilaian kedua, proses tersebut juga didampingi Bupati Kukar
Bagi sekolah, pengelolaan limbah tidak berhenti pada kegiatan kebersihan. Program tersebut juga diintegrasikan dengan materi pembelajaran sehingga siswa dapat melihat secara langsung bagaimana limbah diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











