BERITAALTERNATIF.COM – SMP Negeri 2 Tenggarong terus memperkuat pendidikan karakter religius sebagai salah satu bagian dari visi sekolah.
Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan visi tersebut tidak hanya diterjemahkan dalam pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui berbagai pembiasaan yang dilakukan secara rutin oleh siswa dan guru.
Menurutnya, sekolah terlebih dahulu menerjemahkan visi religius tersebut ke dalam dua bentuk utama, yakni mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses pembelajaran serta membangun pembiasaan keagamaan di lingkungan sekolah.
“Bagaimana visi ini untuk mengukur pelaksanaannya di sekolah itu lewat apa. Satu, kami lakukan lewat mengintegrasikan pembelajaran ke dalam nilai-nilai religius. Yang kedua melalui pembiasaan,” ujar Yunus.
Pembiasaan tersebut dilakukan dalam berbagai bentuk, baik secara spontan, terjadwal maupun terstruktur.
Salah satu kegiatan yang menjadi rutinitas adalah salat Duha dan salat Zuhur secara berjamaah.
Yunus menjelaskan, pada awalnya salat Duha dilaksanakan di lingkungan sekolah, termasuk di halaman dan lapangan upacara.
Namun, setelah adanya pergantian pengurus Yayasan Masjid Besar Darul Mutmainah, pihak sekolah mendapatkan kesempatan untuk menggunakan masjid tersebut sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan.
“Dengan adanya pergantian pengurus Masjid Besar Darul Mutmainah, kita dipersilakan. Akhirnya salat Duha di sana, salat Zuhur juga di sana,” katanya.
Kerja sama tersebut kemudian tidak hanya digunakan untuk kegiatan salat.
Yunus mengatakan pihak pengurus masjid juga memberikan ruang kepada SMPN 2 Tenggarong untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah yang berkaitan dengan pembinaan keagamaan.
Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun lingkungan pendidikan yang tidak memisahkan pembelajaran akademik dengan pembentukan karakter.
Program tersebut kemudian dikembangkan melalui Gerakan Etam Mengaji di lingkungan sekolah.
Menurut Yunus, Gerakan Etam Mengaji yang telah berkembang di daerah tersebut kemudian diterapkan dan diperkuat di lingkungan SMPN 2 Tenggarong.
“Gerakan Etam Mengaji itu kami tambah Gerakan Etam Mengaji di sekolah,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, siswa Muslim mengikuti salat Duha dan salat Zuhur secara berjamaah. Sementara siswa yang beragama non-Muslim tidak dibiarkan tanpa kegiatan ketika teman-temannya menjalankan ibadah.
Dari sekitar 890 siswa SMPN 2 Tenggarong, Yunus menyebut jumlah siswa non-Muslim berada di kisaran 30 orang lebih dan belum mencapai 40 siswa.
Sekolah menyiapkan empat guru untuk memberikan pendampingan kepada siswa non-Muslim ketika siswa Muslim melaksanakan salat.
“Yang bukan Islam itu ada didampingi sendiri, dikumpulkan. Dari 890 itu tidak sampai 40, 30 lebih itu yang beragama non-Islam. Itu ada empat guru yang mendampinginya ketika yang Islam salat,” jelasnya.
Pendampingan juga diberikan kepada siswa yang sedang berhalangan melaksanakan salat.
Guru yang bertugas mendampingi mereka memberikan kegiatan selama siswa Muslim menjalankan ibadah.
Dengan demikian, seluruh siswa tetap berada dalam pengawasan dan mengikuti aktivitas yang telah disiapkan sekolah.
“Tidak ada anak yang nganggur. Ketika teman-temannya salat, dia main sendirian,” tegas Yunus.
Selain kegiatan keagamaan di sekolah, pembinaan juga dilanjutkan setelah siswa pulang.
Bagi siswa Muslim, sekolah melakukan Gerakan Etam Mengaji, sedangkan siswa non-Muslim diarahkan untuk membaca Alkitab dengan pendampingan yang sesuai.
Khusus pembelajaran Al-Qur’an, SMPN 2 Tenggarong menerapkan pemetaan kemampuan siswa sejak awal tahun pelajaran.
Yunus mengatakan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa tidak disamaratakan.
Sekolah terlebih dahulu mengidentifikasi kemampuan masing-masing siswa untuk mengetahui siapa yang sudah mampu membaca dan siapa yang masih membutuhkan pembinaan dasar.
“Di awal tahun pelajaran itu kita identifikasi mana yang sudah bisa Iqra, mana yang belum. Yang belum itu mulai dari Iqra berapa,” katanya.
Menurutnya, pemetaan tersebut penting karena kemampuan siswa ketika masuk SMP sangat beragam.
Bahkan, terdapat siswa yang ketika masuk sekolah belum mengenal huruf-huruf hijaiyah secara baik.
Karena itu, siswa kemudian dikelompokkan berdasarkan kemampuan masing-masing.
Ada siswa yang masih berada pada tahap awal Iqra, sementara siswa lainnya sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Pembelajaran tersebut dilakukan dengan pendampingan guru di masing-masing kelompok atau kelas.
Setelah siswa menyelesaikan pembelajaran Iqra, mereka kemudian diarahkan ke tingkat berikutnya, yakni pembelajaran tajwid.
“Yang sudah selesai Iqra, level yang di atasnya adalah tajwid. Jadi didampingi tajwid,” ungkapnya.
Sekolah kemudian berupaya mengembangkan kemampuan siswa ke tahap yang lebih tinggi, khususnya dalam bidang tilawah.
Untuk mendukung program tersebut, SMPN 2 Tenggarong menggandeng pihak luar sebagai fasilitator dalam persiapan tilawah.
Yunus menyebut pihak sekolah bekerja sama dengan QORI Internasional yang dalam keterangannya disebut meraih juara pertama di Malaysia pada 2025.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memberikan pembinaan kepada siswa yang memiliki kemampuan dan minat lebih dalam bidang tilawah.
“Level yang ketiga adalah kami membuat program dengan menggandeng pihak luar menjadi fasilitator untuk persiapan lagu tilawah,” jelas Yunus.
Program pembinaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari misi sekolah untuk menjadikan kemampuan keagamaan sebagai salah satu jalur prestasi siswa.
Yunus mengatakan sekolah tidak hanya ingin siswa memahami agama dalam bentuk pembiasaan sehari-hari, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka melalui berbagai kompetisi.
“Di visi religius itu salah satu misi kami adalah bagaimana anak-anak itu bisa berprestasi lewat Al-Qur’an,” katanya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada tahun pelajaran 2024–2025, SMPN 2 Tenggarong mengikuti sebuah kegiatan yang diperuntukkan bagi siswa jenjang SMP di Kukar yang diselenggarakan Komunitas Belajar Kepintar Idaman.
Sekolah mengirimkan tiga siswa untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Dari tiga siswa yang dikirim, dua di antaranya berhasil lolos dan memperoleh predikat juara harapan.
“Di 2024–2025 ada event siswa jenjang SMP di kabupaten yang dilaksanakan oleh Komunitas Belajar Kepintar Idaman. Kita mengirimkan tiga, kemudian dua yang lolos menjadi juara harapan,” tutur Yunus.
Bagi sekolah, capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembinaan religius yang dilakukan tidak berhenti pada rutinitas.
Program keagamaan diarahkan agar dapat membangun kebiasaan sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
Yunus mengatakan pembentukan karakter religius juga tidak dimaksudkan hanya untuk siswa Muslim.
Sekolah tetap memberikan ruang bagi siswa dengan keyakinan berbeda untuk menjalankan pembinaan keagamaan masing-masing.
Karena itu, ketika kegiatan salat berlangsung, siswa non-Muslim mendapatkan pendampingan tersendiri. Begitu pula dengan siswa yang sedang berhalangan.
Menurut Yunus, prinsipnya adalah setiap siswa harus tetap mendapatkan pembinaan dan tidak kehilangan aktivitas pendidikan hanya karena perbedaan agama maupun kondisi tertentu.
Dengan pola tersebut, SMPN 2 Tenggarong berupaya menjadikan aktivitas keagamaan sebagai bagian dari kehidupan sekolah sehari-hari.
Mulai dari salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, pembelajaran Iqra, tajwid, tilawah hingga pendampingan siswa non-Muslim menjadi rangkaian program yang terus dijalankan.
Yunus menilai pembiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa.
Sebab, menurutnya, pendidikan religius tidak cukup hanya diberikan melalui teori di ruang kelas, tetapi harus dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Program tersebut sekaligus menjadi cara SMPN 2 Tenggarong menerjemahkan visi sekolah untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











