Search

Siklus Kejayaan dan Keruntuhan

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Kejayaan, kebesaran, dan keagungan—yang kerap dibarengi arogansi, klaim superioritas, serta intoleransi—pada hakikatnya tidak pernah abadi. Terlebih ketika fondasinya bertumpu pada dukungan dan partisipasi masyarakat, bukan pada kesadaran akan batas dan tanggung jawab.

Tiada perkumpulan yang benar-benar agung tanpa masyarakat yang menopangnya. Tiada institusi dapat bertahan hanya dengan mengandalkan nama besar, slogan, atau struktur formal. Kebesaran tidak lahir semata dari para pemimpin atau elitnya. Justru sebaliknya, para elit berutang pada mereka yang membesarkannya: pada khalayak yang membuat institusi itu hidup, bergerak, dan bermakna.

Karena sifatnya yang fana, kebesaran selalu bergerak dalam siklus yang tak terelakkan. Ada masa tumbuh, ada masa jaya, dan ada saat kemunduran hingga runtuh. Inilah hukum sunatullah yang berulang dalam sejarah, bekerja tanpa perlu izin atau pengumuman, sekaligus menegaskan bahwa setiap capaian memiliki batas waktunya.

Dialektika sejarah mengajarkan hal yang sama dengan nada yang konsisten: jangan memutlakkan apa pun, jangan menganggap sesuatu sebagai final dan kekal. Anggapan tentang keabadian bukan sekadar keliru secara historis, melainkan juga kekeliruan nalar, karena ia menyetarakan yang nisbi dengan Yang Mutlak. Pada titik inilah keruntuhan biasanya bermula—bukan dari luar, melainkan dari keyakinan bahwa perubahan tak lagi mungkin terjadi.

Di luar semua itu, dunia kini berada dalam era disrupsi digital, zaman ketika perubahan berlangsung cepat dan tak menunggu kesiapan siapa pun. Apa yang dahulu bertahan lama, dihormati tanpa tanya, dan diterima sebagai keniscayaan, kini bisa lenyap tanpa upacara. Manusia semakin cerdas, semakin kritis, dan semakin sadar akan posisinya. Jarak antara elit dan khalayak kian menyempit karena akses terbuka, pengetahuan tak lagi dimonopoli, dan otoritas tak lagi diterima hanya karena simbol.

Maka, tidak ada faktor luar yang menentukan, tidak ada intervensi rahasia yang dapat dijadikan kambing hitam. Kalaupun ada intervensi, ia tidak akan mampu membelokkan arah perubahan di era ini. Nasib sebuah perkumpulan tidak ditentukan oleh siapa yang mengganggu dari luar, melainkan oleh ketidakmampuannya beradaptasi dari dalam. Pada titik ini, yang tersisa hanyalah keharusan untuk legowo menerima kenyataan.

Ada masa berada di atas, ada masa menurun. Ada masa hidup, ada masa mati. Hukum ini berlaku bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai keniscayaan dari siklus alam sosial yang terus bergerak. Menolak siklus itu hanya akan mempercepat keruntuhan. Memahaminya membuka kemungkinan untuk berdamai dengan perubahan—atau setidaknya runtuh tanpa ilusi. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA