Search

Sejarah Panjang Erau di Tanah Kutai: Dari Tijak Tanah Aji Batara Agung hingga Perubahan Pelaksanaanya di Era Modern

BERITAALTERNATIF.COM – Erau merupakan salah satu tradisi penting yang masih hidup dalam kebudayaan Kutai Kartanegara. Tradisi tersebut memiliki perjalanan panjang, dari upacara yang berkaitan dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti di Kutai Lama hingga menjadi agenda budaya yang digelar di Tenggarong pada masa sekarang.

Secara historis, pemerintah mencatat Erau pertama kali dilaksanakan dalam upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia lima tahun.

Setelah dewasa dan kemudian menjadi Raja pertama Kukar pada 1300–1325, upacara Erau kembali dilaksanakan.

Budayawan Kukar Awang Rifani, mengatakan perjalanan Erau kemudian tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Kerajaan Kutai Kartanegara itu sendiri.

“Di tahun 1300, akhir abad ke-13, di mana Erau pertama itu diadakan untuk tijak tanahnya Aji Batara Agung Dewa Sakti yang merupakan raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara di Kutai Lama,” kata Awang.

Dalam perkembangannya, Erau tidak hanya berkaitan dengan penobatan raja. Tradisi tersebut juga menjadi momentum kesultanan untuk mengumpulkan masyarakat dari berbagai wilayah.

Pada masa kerajaan, pelaksanaan Erau bahkan dapat berlangsung selama 40 hari 40 malam. Tempat pelaksanaannya juga tidak selalu berada di Tenggarong.

Menurut Awang, sultan memiliki kewenangan menentukan kapan dan di mana Erau dilaksanakan. Karena itu, ketika sultan menghendaki kegiatan tersebut digelar di suatu wilayah, masyarakat dan kerabat kesultanan akan berkumpul di lokasi tersebut.

“Dulu Erau itu tidak hanya dilaksanakan di Tenggarong. Misalnya ke Gembang Janggut, ke daerah kecamatan-kecamatan yang lain. Di mana sultan mau atau di mana raja mau, dilaksanakan dan bisa dilakukan di sana. Tidak terpusat hanya di Tenggarong,” ujarnya.

Berkaitan dengan Putri Karang Melenu

Selain berkaitan dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti, rangkaian Erau juga memiliki hubungan erat dengan kisah Putri Karang Melenu atau Putri Junjung Buyah.

Dalam tradisi dan cerita rakyat Kutai, Putri Karang Melenu merupakan sosok penting dalam silsilah kerajaan.

Ia dikisahkan sebagai pasangan Aji Batara Agung Dewa Sakti dan menjadi bagian dari asal-usul dinasti raja-raja Kutai Kartanegara.

Awang mengatakan rangkaian Erau pada dasarnya juga dapat dipandang sebagai napak tilas terhadap kisah kelahiran Putri Karang Melenu.

Karena itu, rangkaian ritual Erau tidak berdiri sendiri. Sejumlah prosesi yang dilakukan dari awal hingga akhir memiliki keterkaitan dengan kisah, simbol, serta perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Ritual Berubah Mengikuti Zaman

Ratusan tahun perjalanan membuat pelaksanaan Erau mengalami sejumlah penyesuaian.

Awang menegaskan, penyesuaian tersebut lebih tepat dipahami sebagai adaptasi terhadap keadaan zaman, bukan semata-mata mengubah tradisi yang berlangsung sejak dulu.

Salah satu perubahan paling jelas terlihat dari durasi pelaksanaan. Jika pada masa kerajaan Erau dapat berlangsung hingga 40 hari 40 malam, pelaksanaannya kemudian disesuaikan menjadi rangkaian yang jauh lebih singkat.

Perubahan tersebut juga berkaitan dengan sistem pembiayaan pada masa sekarang karena pelaksanaan Erau telah menjadi bagian dari agenda pemerintah daerah dan pembiayaannya bersumber dari APBD.

“Memang ada penyesuaian, lebih kepada penyesuaian. Bukan merubah, tetapi disesuaikan dengan keadaan sekarang,” jelas Awang.

Penyesuaian juga terjadi pada sejumlah ritual. Awang mencontohkan tambak karang, yakni seni membuat lukisan menggunakan beras berwarna di atas media yang digunakan dalam prosesi adat.

Pada masa lalu, motif tambak karang dibuat berganti setiap hari mengikuti panjangnya rangkaian Erau. Jika pelaksanaan berlangsung 40 hari, motif yang digunakan dapat mencapai sekitar 40 motif.

“Sementara sekarang cuma sekitar delapan motif, karena dilaksanakan selama satu minggu,” katanya.

Pengaruh Islam terhadap Tradisi Erau

Sejarawan sekaligus Budayawan Kutai Kartanegara, Awang Rifani (Beritaalternatif/UlwanMurtadho)

Perubahan Erau juga terjadi ketika Islam mulai berkembang di lingkungan Kerajaan Kutai Kartanegara.

Menurut Awang, sejumlah praktik yang berkembang pada masa pra-Islam kemudian ditinggalkan apabila dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.

Ia mencontohkan sejumlah ritual ekstrem yang disebut pernah dilakukan pada masa lampau.

“Yang dulu misalnya zaman kerajaan dulu, sebelum Islam atau pra-Islam, itu ada namanya kalau Erau raja menginjak 40 kepala kerbau mati dan 40 kepala kerbau hidup. Kemudian menginjak 40 kepala manusia yang sudah mati dan 40 kepala manusia yang hidup,” ungkapnya.

Ketika Islam masuk dan berkembang, unsur-unsur yang dianggap tidak sesuai kemudian ditinggalkan.

Namun, tradisi Erau tetap berjalan, tetapi bentuk pelaksanaannya menyesuaikan nilai dan kondisi masyarakat pada masa tersebut.

Perubahan kembali terjadi ketika sistem kerajaan berakhir dan Kutai memasuki masa pemerintahan Republik Indonesia.

Sempat Berhenti Setelah Sultan Parikesit

Sultan Aji Muhammad Parikesit merupakan sultan terakhir yang memerintah hingga 1960. Pada tahun tersebut, kekuasaan politik Kesultanan Kutai berakhir seiring pembubaran Daerah Istimewa Kutai.

Menurut Awang, setelah Sultan Parikesit tidak lagi berkuasa secara politik, Erau juga sempat tidak dilaksanakan.

“Sejak Sultan Parikesit tidak lagi berkuasa secara politik tahun 1960 itu, Erau otomatis tidak ada. Tidak diadakan lagi,” ujarnya.

Pemerintah daerah kemudian menggelar berbagai kegiatan yang memiliki kemiripan dengan Erau. Namun, menurut Awang, secara adat terdapat unsur yang membedakan antara kegiatan budaya daerah dengan Erau sebagai tradisi kesultanan.

Salah satunya adalah keberadaan raja atau sultan yang dieraukan.

“Karena yang dieraukan itu sultan atau raja. Yang mengeraukan itu kerabat. Yang erau itu rakyat. Jadi ada tiga unsur,” jelasnya.

Erau kemudian kembali dilaksanakan setelah Sultan Salehuddin II ditabalkan dan dinobatkan.

Dalam perkembangannya di masa pemerintahan daerah, Erau kemudian dikaitkan dengan Hari Jadi Kota Tenggarong pada 28 September.

Beseprah dan Belimbur

Sejumlah tradisi yang dikenal masyarakat hingga sekarang juga menjadi bagian dari rangkaian Erau, termasuk Beseprah dan Belimbur.

Pada masa lalu, Beseprah memiliki cakupan yang lebih luas. Masyarakat dari berbagai wilayah adat Kesultanan Kutai datang ke pusat kesultanan dan berkumpul dalam rangkaian Erau.

Kesultanan kemudian menyediakan dapur umum untuk melayani masyarakat yang datang.

“Makanya kemudian makan Beseprah. Kalau dulu kan ya setiap hari, setiap waktu makannya Beseprah,” kata Awang.

Kini, Beseprah dilaksanakan pada waktu tertentu sebagai bagian dari rangkaian Erau.

Sementara Belimbur menjadi salah satu prosesi yang dikenal sebagai bagian penting dari rangkaian adat Erau.

Kajian mengenai Erau mencatat Belimbur sebagai salah satu prosesi pada bagian akhir rangkaian Erau, sementara Beseprah juga menjadi bagian dari rangkaian yang menonjolkan nilai kebersamaan masyarakat.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan Erau Kartanegara sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 244/P/2016.

Kategorinya mencakup adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.

Bagi Awang, perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa Erau bukan tradisi yang berhenti pada bentuk ritual masa lalu.

Tradisi tersebut terus mengalami penyesuaian sesuai dengan kondisi sosial, keagamaan, pemerintahan, dan masyarakat yang menjalaninya.

Meski bentuk dan durasinya berubah, berbagai unsur penting tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Kutai Kartanegara.

“Jadi memang ada penyesuaian lah, lebih kepada penyesuaian. Bukan merubah, tetapi disesuaikan dengan keadaan sekarang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA