BERITAALTERNATIF.COM – SMP Negeri 2 Tenggarong mengembangkan budaya literasi dengan mendorong siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah informasi menjadi tulisan.
Langkah tersebut dilakukan setelah sekolah menemukan persoalan dalam kemampuan membaca siswa meski telah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi melalui konsep Google Reference School.
Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan sekolah tersebut telah dilengkapi fasilitas satu siswa satu Chromebook dan satu ruang satu papan digital.
Guru dan siswa juga telah mengikuti proses sertifikasi yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi tersebut.
Namun, hasil evaluasi pada tahun pertama justru menunjukkan persoalan pada kemampuan dasar siswa.
“Di tahun pertama evaluasi sekolah rujukan Google tadi, kelemahannya adalah anak-anak tidak membaca. Anak-anak tidak paham dengan bacaannya,” kata Yunus.
Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan perangkat teknologi belum otomatis membuat siswa memiliki kemampuan literasi yang baik.
Siswa dapat mengakses berbagai informasi melalui perangkat digital, tetapi tetap membutuhkan kemampuan untuk membaca secara mendalam, memahami informasi, serta mengolahnya menjadi gagasan.
Karena itu, sekolah kemudian menjadikan kegiatan menulis sebagai salah satu cara untuk memperkuat kemampuan membaca dan memahami informasi.
Yunus menjelaskan, ketika siswa diminta menulis, mereka tidak cukup hanya mencari jawaban dari suatu pertanyaan.
Mereka harus membaca sumber, memahami isinya, kemudian menyusun kembali informasi tersebut menggunakan bahasa sendiri.
“Dengan menulis itu, satu atau dua problem bisa terselesaikan. Mereka tidak hanya dilatih untuk menulis, merangkai kata, tapi juga membaca kata-kata yang kemudian dia paham,” jelasnya.
Budaya Literasi Dibangun Secara Bertahap, begini langkahnya
Upaya tersebut kemudian dikembangkan melalui program literasi yang dilakukan secara bertahap.
Program tersebut berawal dari evaluasi kemampuan literasi dan numerasi siswa. Yunus mengatakan capaian siswa sebenarnya telah berada di atas standar, tetapi nilainya masih belum maksimal.
“Walaupun di atas standar, tapi nilainya itu masih pas-pasan, nilai literasinya, nilai numerasinya,” ujarnya.
Sekolah kemudian mencari pola yang dapat digunakan untuk memperkuat budaya literasi. Salah satunya melalui kerja sama dengan Nyala Nesia, organisasi yang bergerak di bidang enam literasi dasar.
Dari sejumlah pilihan program, sekolah memilih paket senilai Rp5 juta dengan pendampingan secara daring. Program tersebut antara lain diarahkan pada pengembangan karya tulis siswa, terutama puisi.
Penerapannya dilakukan melalui beberapa tahapan.
Pada tahap pertama, selama sekitar tiga bulan, siswa hanya dibiasakan membaca. Mereka tidak langsung diberikan pertanyaan atau diminta menjelaskan isi buku.
“Yang penting anak baca saja dulu. Tidak usah ditanya,” kata Yunus.
Setelah kebiasaan membaca mulai terbentuk, siswa masuk pada tahap berikutnya. Mereka mulai diminta menjelaskan buku yang dibaca, mulai dari judul, isi yang dipahami hingga bagian yang dianggap menarik.
Tahap selanjutnya diarahkan pada kemampuan siswa menemukan gagasan baru dari bacaan yang telah mereka pahami.
“Anak baca, paham isi bacaannya. Tahap yang ketiga adalah anak-anak harus menemukan ide baru dari hasil bacaan tadi,” jelasnya.
Dengan pola tersebut, kegiatan literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Siswa diarahkan untuk memahami informasi, menemukan gagasan, kemudian menghasilkan sesuatu berdasarkan apa yang telah mereka baca.
249 Karya dari Siswa
Penerapan program tersebut kemudian menghasilkan karya siswa dalam jumlah yang cukup besar.
Pada 2025, sebanyak 249 siswa kelas 9 menghasilkan karya melalui konsep satu siswa satu karya.
“249 itu hasil dari anak, murni anak. Itu satu anak satu karya,” kata Yunus.
Sebagian karya tersebut dicetak dalam bentuk buku, sedangkan karya lainnya disimpan secara digital. Langkah tersebut dilakukan karena pencetakan seluruh karya membutuhkan biaya yang cukup besar.
Karya digital kemudian ditempatkan di website sekolah yang terintegrasi dengan perpustakaan.
Sekolah menargetkan jumlah karya tersebut terus bertambah. Jika pada 2025 terdapat 249 karya, Yunus menargetkan jumlahnya meningkat menjadi sedikitnya 300 karya.
“Kalau tahun 2025 kemarin itu 249, nanti kita naikkan jadi minimal 300-an karya,” ujarnya.
Ke depan, sekolah juga berencana memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mendokumentasikan karya mereka.
Setiap siswa kelas 9 ditargetkan memiliki website atau blog pribadi untuk mengunggah karya yang dihasilkan selama bersekolah.
Dengan cara tersebut, karya siswa tidak hanya menjadi bagian dari tugas pembelajaran, tetapi juga menjadi rekam jejak perkembangan kemampuan mereka.
Pengembangan literasi tersebut merupakan bagian dari pola yang diterapkan Yunus sejak mulai menjabat sebagai kepala SMPN 2 Tenggarong pada 2024.
Ia bersama jajaran guru terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap persoalan dan potensi yang dimiliki sekolah.
Pemetaan tersebut mencakup sumber daya manusia, fasilitas, lingkungan sekolah, kemampuan guru hingga potensi siswa.
“Kita mencoba dengan teman-teman di sini. Langkah awal saya adalah mengidentifikasi apa masalah utama yang dihadapi sekolah. Yang kedua, saya juga mengidentifikasi apa potensi yang dimiliki sekolah, terutama sumber dayanya,” ungkapnya.
Dari pemetaan tersebut, sekolah kemudian mengembangkan sejumlah program yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Yunus menilai perkembangan teknologi tetap penting dalam pendidikan. Namun, penggunaan teknologi tidak boleh membuat kemampuan dasar siswa seperti membaca, memahami informasi, berkomunikasi, dan membangun karakter justru terabaikan.
Masih Ada Siswa yang Kesulitan Kemampuan Dasar
Di sisi lain, SMPN 2 Tenggarong masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kemampuan dasar sejumlah siswa.
Yunus menyebut terdapat lebih dari 10 siswa berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah tersebut.
Sebagian di antaranya masih mengalami kesulitan dalam membaca serta kemampuan dasar berhitung, seperti penjumlahan dan pengurangan.
Karena itu, sekolah memberikan pembiasaan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Salah satunya melalui latihan perkalian untuk memperkuat kemampuan berhitung dasar.
Menurut Yunus, latihan tersebut bukan semata-mata ditujukan agar siswa menghafal perkalian, melainkan membangun kemampuan dasar sehingga mereka tidak selalu bergantung pada proses menghitung ketika menghadapi persoalan matematika.
“Bukan berarti kami memaksa menghafal. Tapi bagaimana memancing anak-anak ini, perkalian itu tidak perlu dihitung lagi,” katanya.
Pembiasaan tersebut dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran di sekolah.
Menurut Yunus, pembelajaran tatap muka juga memberikan ruang bagi guru untuk melihat perkembangan siswa secara langsung, terutama dalam kemampuan berkomunikasi, keberanian berbicara, membaca, memahami materi, hingga membangun karakter.
Bagi SMPN 2 Tenggarong, pemanfaatan teknologi dan penguatan kemampuan dasar tersebut pada akhirnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. (*)
Penulis : Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











