Search

Awang Rifani: Sejumlah Praktik Erau Berubah Setelah Islam Berkembang di Tanah Kutai

BERITAALTERNATIF.COM –Pelaksanaan Erau di Kutai Kartanegara mengalami perubahan dalam sejumlah praktik adatnya. Sebagian ritual yang pernah dilakukan pada masa kerajaan tidak lagi dijalankan, terutama setelah Islam berkembang di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Budayawan Kabupaten Kukar Awang Rifani, mengatakan perubahan tersebut terjadi karena beberapa praktik masa lalu dinilai tidak lagi sesuai dengan nilai keagamaan yang berkembang di lingkungan kerajaan.

Ia mencontohkan praktik yang disebut pernah dilakukan dalam rangkaian Erau pada masa pra-Islam, yakni raja menginjak kepala kerbau dan kepala manusia sebagai bagian dari ritual.

“Yang dulu misalnya zaman kerajaan dulu, sebelum Islam atau pra-Islam, itu ada namanya kalau Erau raja menginjak 40 kepala kerbau mati dan 40 kepala kerbau hidup,” ungkap Awang saat ditemui awak media Berita Alternatif pada (08/09/2026).

“Kemudian menginjak 40 kepala manusia yang sudah mati dan 40 kepala manusia yang hidup,” lanjutnya.

Menurutnya, praktik tersebut kemudian ditinggalkan setelah Islam masuk dan berkembang.

Perubahan itu tidak berarti seluruh rangkaian Erau dihentikan. Sejumlah prosesi lainnya tetap dipertahankan dan terus mengalami penyesuaian sesuai kondisi masyarakat.

Dalam pelaksanaan Erau saat ini, terdapat sejumlah tahapan adat yang masih dikenal, mulai dari besawai kelambu kuning, bepelas awal, menjamu benua, hiti bende, hingga mendirikan dan kemudian merebahkan tiang ayu.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari struktur ritual Erau yang dilaksanakan secara berurutan.

Selain prosesi tersebut, Erau juga memiliki sejumlah simbol dan perlengkapan adat yang digunakan dalam pelaksanaan ritual.

Salah satunya adalah tambak karang, yang dibuat menggunakan beras berwarna dan memiliki motif tertentu dalam rangkaian kegiatan adat.

Menurut Awang, bentuk tambak karang juga mengalami perubahan mengikuti durasi pelaksanaan Erau.

Pada masa lalu, ketika Erau berlangsung hingga 40 hari 40 malam, motif tambak karang dapat berganti mengikuti setiap hari pelaksanaan.

“Sementara sekarang cuma sekitar delapan motif, karena dilaksanakan selama satu minggu,” katanya.

Perubahan durasi tersebut membuat sejumlah praktik yang dahulu dilakukan dalam waktu panjang kini dipadatkan ke dalam rangkaian yang lebih singkat.

Awang menilai kondisi tersebut merupakan bentuk penyesuaian, bukan berarti tradisi Erau diubah secara keseluruhan.

“Memang ada penyesuaian, lebih kepada penyesuaian. Bukan merubah, tetapi disesuaikan dengan keadaan sekarang,” jelasnya.

Perubahan juga terlihat dari tidak lagi dilaksanakannya sejumlah praktik yang berkaitan dengan kepercayaan masa pra-Islam.

Setelah Islam berkembang, praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam ditinggalkan, sementara rangkaian yang masih dapat diterima tetap dijalankan dalam bentuk yang telah disesuaikan.

Erau juga memiliki prosesi yang berkaitan dengan kisah dan simbol dalam tradisi Kutai, termasuk rangkaian yang dikaitkan dengan Putri Karang Melenu atau Putri Junjung Buyah.

Menurut Awang, keseluruhan rangkaian Erau dapat dipandang sebagai napak tilas terhadap berbagai kisah yang berkembang dalam sejarah dan tradisi Kesultanan Kukar.

Karena itu, setiap tahapan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial, tetapi memiliki hubungan dengan cerita, simbol, dan nilai yang diwariskan dalam tradisi Kutai.

Seiring berakhirnya kekuasaan politik Kesultanan Kutai pada 1960, pelaksanaan Erau juga sempat berhenti.

Namun, tradisi tersebut kemudian kembali dilaksanakan dan berkembang dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kondisi pemerintahan dan masyarakat modern.

Bagi Awang, perubahan dalam praktik Erau merupakan bagian dari perjalanan panjang tradisi tersebut.

Ia menilai keberlangsungan Erau justru menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan dengan menyesuaikan praktiknya tanpa kehilangan identitas utama sebagai warisan budaya Kukar.

“Jadi memang ada penyesuaian lah, lebih kepada penyesuaian. Bukan merubah, tetapi disesuaikan dengan keadaan sekarang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA