BERITAALTERNATIF.COM – Erau tidak hanya menjadi rangkaian ritual adat Kesultanan Kutai Kartanegara. Di balik berbagai prosesi yang dilaksanakan, tradisi tersebut juga memiliki makna hubungan antara pemimpin dan masyarakat.
Budayawan Kabupaten Kutai Kartanegara, Awang Rifani, mengatakan salah satu makna utama Erau adalah menyatunya raja dengan rakyat.
Menurutnya, Erau pada masa lalu menjadi momentum bagi raja untuk berkumpul bersama masyarakat dalam sebuah perhelatan besar.
“Makna Erau itu adalah manunggalnya raja dengan kaulah,” kata Awang.
Ia menjelaskan, terdapat tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaan Erau. Pertama adalah raja atau sultan yang dieraukan, kedua kerabat yang mengeraukan, dan ketiga rakyat yang ikut dalam pelaksanaan Erau.
“Yang dieraukan itu sultan atau raja. Yang mengeraukan itu kerabat. Yang erau itu rakyat. Jadi ada tiga unsur,” jelasnya.
Raja dan Rakyat Berkumpul
Menurut Awang, konsep tersebut membuat Erau pada masa lalu tidak hanya menjadi acara internal lingkungan istana.
Masyarakat dari berbagai wilayah dalam lingkungan Kesultanan Kutai datang berkumpul ketika Erau dilaksanakan.
Mereka tidak sekadar menyaksikan prosesi adat, tetapi turut menjadi bagian dari perayaan tersebut.
Salah satu bentuk keterlibatan masyarakat itu terlihat melalui tradisi Beseprah.
Awang menjelaskan, Beseprah merupakan tradisi makan bersama yang dahulu dilakukan dalam skala besar. Kesultanan menyediakan dapur untuk melayani masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.
“Makanya kemudian makan Beseprah. Kalau dulu kan ya setiap hari, setiap waktu makannya Beseprah,” ujarnya.
Beseprah dengan demikian menjadi bagian dari gambaran bagaimana Erau membangun hubungan sosial antara kesultanan dan masyarakat.
Tradisi makan bersama tersebut mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah dalam satu ruang tanpa membedakan latar belakang mereka.
Belimbur sebagai Bagian dari Rangkaian Erau
Selain Beseprah, Belimbur juga menjadi salah satu tradisi yang melekat dalam pelaksanaan Erau.
Belimbur dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian adat Erau dan melibatkan masyarakat secara luas.
Keterlibatan masyarakat dalam prosesi tersebut memperlihatkan bahwa Erau sejak dahulu tidak hanya berorientasi pada lingkungan keraton atau kesultanan.
Keterlibatan rakyat menjadi bagian integral dalam keberlangsungan perayaan.
Karena itu, menurut Awang, hubungan antara kesultanan dan rakyat menjadi salah satu inti yang membuat Erau memiliki kedudukan khusus dalam kebudayaan Kutai.
Diharapkan Berdampak ke Ekonomi Masyarakat
Di era modern, pelaksanaan Erau juga dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat.
Awang berharap penyelenggaraan Erau tidak berhenti sebagai agenda budaya, tetapi memberikan dampak yang lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kedatangan masyarakat dari luar daerah maupun wisatawan ke Tenggarong seharusnya menciptakan perputaran ekonomi di berbagai sektor.
“Erau itu harus berdampak sistemik,” tegasnya.
Dampak tersebut, kata dia, dapat dirasakan oleh pelaku UMKM, pedagang, hotel, penginapan, hingga rumah-rumah yang menyediakan tempat tinggal bagi pendatang.
Ketika jumlah pengunjung meningkat, pelaku usaha seharusnya memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan makanan, minuman, cendera mata, transportasi, hingga kebutuhan akomodasi.
“Banyak orang datang ke Tenggarong, UMKM-nya harus hidup. Hotel-hotel harus penuh, penginapan-penginapan, guest house harus penuh,” ujarnya.
Menurut Awang, perputaran ekonomi tersebut pada akhirnya juga dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Jika aktivitas perdagangan, jasa, dan pariwisata meningkat selama pelaksanaan Erau, pemerintah daerah juga memiliki peluang memperoleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Karena itu, keberhasilan Erau menurutnya tidak semata-mata dapat diukur dari kemeriahan acara dan banyaknya prosesi adat yang terlaksana.
Lebih jauh, keberadaan Erau perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan budaya tersebut.
Dengan begitu, Erau tidak hanya menjadi warisan budaya yang dipertahankan, tetapi juga ruang pertemuan antara tradisi, masyarakat, dan aktivitas ekonomi di Kutai Kartanegara. (*)











