Search

Cara SMPN 2 Tenggarong Raih Adiwiyata Mandiri, Sampah Plastik Ditekan Lewat Kebijakan Kantin

oplus_0

BERITAALTERNATIF.COM – SMP Negeri 2 Tenggarong berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri Tahun 2025, setelah sebelumnya memperoleh predikat Adiwiyata Nasional pada 2023.

Predikat tersebut menjadi capaian penting bagi sekolah yang sejak beberapa tahun terakhir mengembangkan berbagai program untuk membangun budaya peduli lingkungan di tengah keterbatasan lahan sekolah.

Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, mengatakan pengembangan sekolah hijau menjadi salah satu bagian dari visi sekolah, yakni membangun budaya lingkungan.

Menurutnya, program tersebut disusun dengan melihat kondisi sekolah, jumlah siswa, potensi orang tua, serta keterbatasan lahan yang dimiliki.

“Dengan melihat potensi jumlah anak, kemudian potensi orang tua dan latar belakang anak di sini, kita coba mengembangkan menjadi sekolah hijau,” ujar Yunus.

Yunus mengatakan ketika dirinya mulai bertugas di SMPN 2 Tenggarong pada 2024, salah satu hal yang terlebih dahulu dipetakan adalah potensi dan keterbatasan sekolah.

Ia menemukan bahwa lahan sekolah menjadi salah satu keterbatasan yang harus diperhitungkan dalam mengembangkan berbagai program lingkungan.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat sekolah menghentikan upaya membangun budaya hijau.

Sebaliknya, keterbatasan lahan mendorong sekolah mencari cara agar lingkungan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Program tersebut kemudian diarahkan melalui gerakan Adiwiyata.

Sebelum meraih predikat Adiwiyata Mandiri 2025, SMPN 2 Tenggarong telah menerima penghargaan Adiwiyata Nasional pada 2023.

Pada 2025, sekolah tersebut kemudian maju ke tingkat Adiwiyata Mandiri dan berhasil memperoleh predikat tersebut.

Penghargaan Adiwiyata Mandiri tersebut diberikan Kementerian Lingkungan Hidup pada akhir 2025 dan menjadi predikat tertinggi yang diraih sekolah dalam jenjang program Adiwiyata nasional.

Bagi Yunus, Adiwiyata bukan sekadar persoalan mendapatkan penghargaan.

Program tersebut harus diterjemahkan dalam kebiasaan sehari-hari warga sekolah.

Ia menyebut sejumlah aspek menjadi perhatian dalam pelaksanaan Adiwiyata, mulai dari inovasi, pengelolaan sampah, penghematan energi, makanan bergizi, hingga penerapan hidup bersih dan sehat.

“Ada enam program yang kita laksanakan. Termasuk program inovasi, kemudian bagaimana memanfaatkan sampah, bagaimana hemat energi, makanan bergizi, hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian utama sekolah adalah sampah plastik.

Yunus mengatakan sumber sampah plastik terbesar sebelumnya berasal dari aktivitas kantin sekolah.

Dengan jumlah siswa yang kini mencapai sekitar 890 orang, penggunaan kemasan sekali pakai berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar setiap harinya.

Karena itu, sekolah mengambil kebijakan khusus terhadap pengelola kantin.

Yunus bersama pihak sekolah membuat kesepakatan agar kantin tidak menjual makanan dan minuman dengan kemasan plastik sekali pakai.

Sebagai gantinya, siswa diwajibkan membawa tempat minum atau tumbler dari rumah.

“Sejak saya ke sini, saya sudah MOU dengan pengelola kantin. Tidak boleh menjual makanan yang berkemasan, dengan catatan anak-anak bawa tumbler,” katanya.

Kebijakan tersebut juga mengubah cara kantin melayani siswa.

Pengelola kantin tidak diperbolehkan menyediakan gelas untuk menggantikan tumbler siswa.

Dengan demikian, siswa yang tidak membawa tempat minum sendiri tidak dapat membeli minuman yang membutuhkan wadah sekali pakai.

“Kalau gelas masih ada, pasti dilayani anak. Jadi anak yang tidak bawa tempat tumbler jangan dilayani,” ujar Yunus.

Menurutnya, penerapan kebijakan tersebut bukan perkara mudah.

Pihak sekolah harus berulang kali memberikan pemahaman kepada pengelola kantin yang pada dasarnya juga menjalankan usaha untuk memperoleh penghasilan.

Yunus mengatakan proses membangun kesepahaman tersebut membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan.

Ia berusaha menjelaskan kepada pengelola kantin bahwa aktivitas berjualan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekolah.

“Ini tantangan besar. Tantangan berat karena yang namanya penjual itu bahasanya rezeki. Hampir setengah tahun saya kondisikan ini,” tuturnya.

Setelah kebijakan tersebut berjalan, perubahan jumlah sampah plastik mulai terlihat.

Yunus mengatakan sebelumnya sampah plastik dapat mencapai sekitar 8–10 persen dari sampah yang diangkut setiap pagi.

Dengan jumlah siswa lebih dari 800 orang, ia menggambarkan potensi sampah yang sangat besar apabila setiap siswa menghasilkan satu kemasan plastik saja dalam sehari.

Namun, setelah kebijakan kantin dan penggunaan tumbler diterapkan, jumlah tersebut menurutnya turun menjadi sekitar 3 persen dan pada hari-hari tertentu bahkan tidak ditemukan sampah plastik dari aktivitas kantin.

“Kurang lebih empat-lima bulan kita sudah hampir bersih dari sampah. Biasanya sampah plastik itu paling banyak dari kantin. Begitu kita terapkan, akhirnya berkurang tinggal tiga persen. Tiap hari itu tidak ada,” katanya.

Meski demikian, sekolah tidak menutup aktivitas kantin.

Kantin tetap beroperasi karena kebutuhan siswa terhadap makanan dan minuman di luar menu yang disediakan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Yunus, keberadaan kantin tetap dibutuhkan karena selera siswa berbeda-beda.

Ia mengatakan menu MBG yang disediakan secara terjadwal belum tentu sesuai dengan selera seluruh siswa.

“Anak-anak ini kan seleranya beda dengan kita. Usaha kantin itu yang menunya adalah menu yang selera anak-anak. Sementara yang MBG ini kan menunya begitu-begitu saja,” jelasnya.

Karena itu, sekolah tidak hanya mempertahankan kantin, tetapi juga menjadikannya bagian dari evaluasi terhadap pola konsumsi siswa.

Yunus mengatakan pihak sekolah mencatat makanan yang banyak dikonsumsi maupun makanan yang tidak disentuh siswa.

Catatan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai masukan dalam pelaksanaan MBG.

Misalnya, ketika makanan tertentu banyak tersisa, sekolah berusaha mengetahui alasan siswa tidak mengonsumsinya.

“Kita tetap mencatat. Itu menjadi masukan di MBG. Misalnya anak-anak makan ini alasannya apa. Kita sampaikan juga alasannya ke sana,” katanya.

Menurut Yunus, siswa tidak dapat dipaksa untuk menghabiskan makanan yang tidak sesuai dengan selera mereka.

Karena itu, sisa makanan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi menu agar program makanan bergizi dapat berjalan lebih efektif.

Selain mengurangi kemasan plastik, sekolah juga mengatur jenis pembungkus yang digunakan pedagang kantin.

Untuk jajanan atau kue, pihak sekolah mendorong penggunaan daun sebagai alas atau pembungkus.

Penggunaan daun dinilai lebih mudah dikelola setelah menjadi sampah karena dapat kembali dimanfaatkan sebagai bahan organik.

“Kalau mau jual jajanan atau kue, alasnya itu daun. Kenapa alasnya daun? Saya sampaikan, itu bisa jadi pupuk,” ujar Yunus.

Daun pisang maupun jenis daun lainnya dapat digunakan sebagai pengganti bahan pembungkus yang sulit terurai.

Dengan cara tersebut, sekolah berusaha agar sampah yang dihasilkan dari aktivitas kantin tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah residu.

Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan SMPN 2 Tenggarong dalam membangun budaya lingkungan.

Yunus menilai perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui penyediaan tempat sampah atau kegiatan bersih-bersih secara rutin.

Menurutnya, yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan warga sekolah sejak dari sumber sampah.

Karena itu, sekolah berusaha mengurangi sampah sejak barang atau makanan masuk ke lingkungan sekolah.

Kebijakan terhadap kantin menjadi salah satu contohnya.

Ketika kemasan sekali pakai tidak lagi diperbolehkan, jumlah sampah yang harus dikelola sekolah otomatis berkurang.

Di sisi lain, penggunaan tumbler mendorong siswa membawa kembali wadah yang dapat digunakan berulang kali.

Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan bersama berbagai program lingkungan lainnya yang menjadi bagian dari penilaian Adiwiyata.

Sebelumnya, SMPN 2 Tenggarong juga telah diberitakan sebagai sekolah yang mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Mandiri dengan mengembangkan berbagai inovasi pengelolaan lingkungan.

Setelah berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri 2025, sekolah kini tidak hanya mempertahankan program yang sudah berjalan, tetapi juga dituntut menjaga keberlanjutannya.

Pihak sekolah sendiri menilai penghargaan tersebut bukan menjadi titik akhir.

Justru, predikat Adiwiyata Mandiri menjadi tanggung jawab untuk memastikan budaya peduli lingkungan tetap hidup dalam keseharian siswa, guru, pengelola kantin dan seluruh warga sekolah.

Bagi Yunus, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan sekolah tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan perubahan.

Dengan pemetaan potensi, pembiasaan dan keterlibatan seluruh warga sekolah, persoalan sampah yang sebelumnya menjadi masalah dapat diubah menjadi bagian dari budaya pendidikan.

“Bagaimana caranya yang tidak ada lahan ini kita manfaatkan untuk menjadi sekolah hijau,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho 

Editor: Ufqil Mubin 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA