Search

Politik Dusta Trump

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dr. Muhsin Labib*

Apa yang sesungguhnya terjadi ketika kekuasaan mengancam dengan penuh keyakinan, lalu menarik kembali ancaman itu tanpa penjelasan yang sepadan? Situasi ini tidak sekadar menunjukkan perubahan sikap, melainkan memperlihatkan bagaimana kebenaran diperlakukan sebagai alat yang bisa dipakai dan ditanggalkan.

Donald Trump mengucapkan dua posisi yang saling meniadakan: kesiapan mengirim pasukan darat ke Timur Tengah, lalu penegasan bahwa langkah itu tidak direncanakan. Dua pernyataan ini tidak mungkin berdiri sebagai kebenaran faktual secara bersamaan. Salah satunya berfungsi sebagai tekanan, bukan sebagai komitmen.

Dalam pola seperti ini, dusta tidak tampil sebagai kebohongan yang kasar. Dusta hadir sebagai fleksibilitas yang dilegalkan. Ancaman dikeluarkan untuk menciptakan ketegangan. Penyangkalan disampaikan untuk meredakan konsekuensi. Pernyataan tidak lagi tunduk kepada realitas, melainkan kepada kebutuhan strategi.

Rakyat tidak diposisikan sebagai subjek yang memahami keadaan, melainkan sebagai objek yang diarahkan melalui perubahan narasi. Ketika ancaman dilontarkan, rasa takut dibangun. Ketika penyangkalan disampaikan, rasa aman semu dipulihkan. Pergantian ini tidak menjelaskan realitas, tetapi mengendalikan respons.

Dalam skala global, pola yang sama menjangkau masyarakat dunia. Negara-negara lain tidak merespons fakta yang stabil, melainkan sinyal yang berubah. Ketidakpastian itu sendiri menjadi alat tekanan. Dunia dipaksa membaca arah kebijakan dari ucapan yang tidak memiliki pijakan tetap.

Namun, politik dusta tidak berhenti pada pembodohan. Ia membawa konsekuensi yang lebih dalam: runtuhnya mitos tentang kekuatan itu sendiri. Ketika ancaman tidak diikuti oleh kemampuan memaksakan kehendak secara nyata, citra adidaya kehilangan daya ikatnya. Kekuatan yang sebelumnya tampak absolut mulai terlihat sebagai konstruksi yang rapuh.

Dalam konteks ini, Iran tidak lagi dapat diposisikan sekadar sebagai objek tekanan. Ketahanan struktural, kapasitas militer, dan posisi strategisnya memperlihatkan bahwa ia mampu berdiri sebagai aktor yang menentukan arah, bukan sekadar merespons. Realitas ini tidak lahir dari klaim, melainkan dari kemampuan bertahan dan memaksa pihak lain memperhitungkannya secara serius.

Diagnosologika menunjukkan bahwa yang sedang terjadi bukan hanya pengaburan kebenaran, melainkan pergeseran struktur kekuatan global. Ketika dusta dijadikan metode, ia merusak legitimasi pihak yang menggunakannya. Pada saat yang sama, realitas yang sebelumnya disangkal justru memperoleh ruang untuk tampil.

Politik dusta pada akhirnya tidak hanya membodohi rakyatnya dan masyarakat dunia. Ia menggerogoti fondasi kekuasaan itu sendiri, meruntuhkan mitos adidaya, dan membuka kenyataan bahwa peta kekuatan dunia tidak lagi tunggal. Dalam kenyataan itu, Iran muncul bukan sebagai ilusi baru, melainkan sebagai fakta yang tidak dapat dihapus oleh narasi apa pun. (*Cendekiawan Muslim)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA