BERITAALTERNATIF.COM – Panitia Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menyiapkan konsep berbeda pada pelaksanaan tahun ini dengan menghadirkan panggung budaya yang menampilkan berbagai kesenian khas Kutai.
Kegiatan yang akan digelar pada hari terakhir PKKMB tersebut menjadi bagian dari implementasi tema “Merajut Harmoni, Mengakar pada Budaya, Berkarya untuk Nusantara” yang diusung panitia.
Ketua Panitia PKKMB 2026 Unikarta, Ibnu Huda, mengatakan panggung budaya sengaja dihadirkan sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada mahasiswa baru.
Menurutnya, sebagai kampus yang dikenal mengusung identitas budaya, Unikarta memiliki tanggung jawab untuk memastikan mahasiswa tidak melupakan akar budaya di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi.
“Karena Unikarta ini kampus budaya. Tahun lalu kita sudah menghadirkan pesapu yang digunakan oleh mahasiswa baru. Itu menunjukkan bahwa kita tidak boleh melupakan budaya,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Sabtu (22/08/2026)
Ibnu menegaskan, tema “Mengakar pada Budaya” bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan melalui berbagai agenda yang memperkenalkan budaya Kutai secara langsung kepada peserta PKKMB.
“Sejauh apa pun kita melangkah, tetap akar kita itu budaya. Secanggih apa pun teknologi, tetap akar awal kita pada budaya,” katanya.
Pada hari terakhir PKKMB yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026, panitia berencana menghadirkan sejumlah pertunjukan budaya khas Kutai, di antaranya Bememai, Tarsul, serta penampilan grup musik Petala Borneo.
Ibnu menjelaskan, konsep yang diusung bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi mahasiswa baru yang berasal dari berbagai daerah.
“Nanti di hari terakhir kita coba menghadirkan kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti Bememai, Tarsul dan Band Petala Borneo. Jadi seperti konser, tetapi lagunya lagu budaya,” jelasnya.
Bemamai sendiri merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Kutai yang berisi ungkapan teguran, nasihat, atau sindiran yang disampaikan dengan gaya khas dan sarat pesan moral.
Dalam perkembangannya, Bememai juga sering dipentaskan dalam bentuk lomba maupun pertunjukan budaya sebagai media pelestarian tradisi masyarakat Kutai.
Sementara itu, Tarsul merupakan seni bertutur masyarakat Kutai yang menggunakan syair bersusun dan saling berbalas layaknya pantun. Tradisi ini biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan, petuah, hingga hiburan dalam berbagai kegiatan adat dan budaya.
Melalui dua kesenian tersebut, ia berharap mahasiswa baru dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya Kutai yang menjadi identitas daerah tempat mereka menempuh pendidikan.
Selain pertunjukan budaya, panggung penutupan PKKMB juga akan dimeriahkan oleh penampilan grup musik Petala Borneo yang membawakan lagu-lagu bernuansa budaya dan kearifan lokal.
Menurut Ibnu, konsep tersebut menjadi salah satu inovasi yang dihadirkan panitia tahun ini agar pengenalan budaya dapat diterima lebih dekat oleh generasi muda.
“Nah itu konsep baru yang kita jual pada tahun ini untuk lebih menyentuh terhadap budayanya itu sendiri,” ujarnya.
Untuk persiapan kegiatan, panitia mengaku telah menyelesaikan sebagian besar kebutuhan teknis.
Band Petala Borneo telah menyatakan kesediaannya untuk tampil, sementara kebutuhan panggung dan sistem tata suara juga telah dipastikan tersedia.
“Petala Borneo sudah fix, panggung fix, sound system fix. Kami tinggal mempersiapkan beberapa kebutuhan lainnya,” katanya.
Panggung budaya tersebut dijadwalkan berlangsung pada sore hari setelah waktu Asar pada 27 Agustus 2026 sebagai puncak rangkaian PKKMB.
Panitia juga berencana mengundang alumni Unikarta untuk hadir dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa baru.
Menurut Ibnu, kehadiran alumni diharapkan dapat mempererat hubungan antargenerasi civitas akademika sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman bagi mahasiswa yang baru memasuki dunia kampus.
“Nanti di hari akhir kami juga mengundang alumni-alumni. Jadi sambil menikmati acara adat Kutai, mereka juga bisa bertemu langsung dengan mahasiswa baru,” ungkapnya.
Ia berharap melalui konsep panggung budaya tersebut, mahasiswa baru tidak hanya mengenal lingkungan kampus, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Unikarta sebagai kampus budaya di Kutai Kartanegara.
“Harapannya ikatan emosional antara mahasiswa baru dengan alumni bisa terjalin,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ulwan Murtadho











