Search

31 Desa Terdampak Kekeringan di Kukar, BPBD Gerak Cepat Cegah Gagal Panen dan Krisis Air

Personil BPBD Kukar saat meninjau salah satu pompa air yang berada di kecamatan Marang Kayu, kabid kedaruratan dan logistik, Abdal menyebut para perosonil selama 4 hari telah banyak turun ke beberapa titik kekeringan guna membantu penyalurah air (Dok. BPBD)

BERITAALTERNATIF.COM – Dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) seiring kondisi kemarau dan fenomena El Nino yang meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian maupun ketersediaan air masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, sedikitnya 31 desa tercatat terdampak kekeringan.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar.

Selain melakukan pemantauan, BPBD turut mengambil langkah cepat untuk membantu masyarakat dan petani di sejumlah wilayah yang mulai mengalami kesulitan air.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar, Abdal, mengatakan penanganan dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan di masing-masing wilayah.

“Ya, dapat dikatakan begitu. Kekeringan pertanian BPBD juga turut membantu Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar,” kata Abdal.

Salah satu bentuk bantuan yang diberikan BPBD ialah meminjamkan pompa air portabel untuk membantu pengairan persawahan.

Di Desa Kertabuana, Tenggarong Seberang, misalnya, BPBD meminjamkan tiga pompa air portabel yang kemudian digunakan oleh Gabungan Kelompok Tani Kertabuana untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian di tengah kondisi kekeringan yang mulai berdampak terhadap aktivitas petani.

Tidak hanya di Tenggarong Seberang, BPBD Kukar juga memberikan dukungan terhadap pengairan lahan pertanian di Kecamatan Marangkayu.

Abdal mengatakan pihaknya sempat membantu menyediakan BBM untuk mendukung operasional mesin pompa induk pengairan sawah.

Pompa tersebut digunakan untuk membantu pengairan kawasan pertanian yang berada di dua desa, yakni Desa Santan Ulu dan Desa Semangko.

“Di Kecamatan Marangkayu BPBD sempat membantu memberikan BBM untuk operasional mesin pompa induk pengairan sawah di kawasan dua desa, yaitu Desa Santan Ulu dan Desa Semangko,” jelasnya.

Menurut Abdal, dukungan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.

Terlebih, kekurangan pasokan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berpotensi meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak segera ditangani.

Ia menyebut upaya serupa juga dilakukan BPBD di Kecamatan Loa Kulu.

Di Desa Sumbersari, BPBD membantu melakukan pengisian embung yang digunakan untuk mendukung pengairan sawah percontohan pembibitan padi.

Pengisian embung tersebut menjadi salah satu langkah untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian yang sedang digunakan sebagai lokasi pembibitan.

BPBD Kukar sendiri sebelumnya juga melaporkan kegiatan pengisian embung dan sawah percontohan di Desa Sumbersari masih terus dilakukan pada 21 Agustus 2026.

Langkah-langkah tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami krisis, tetapi juga melalui upaya mitigasi untuk mempertahankan sumber air bagi sektor pertanian.

Selain sektor pertanian, kekeringan juga berpotensi berdampak terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

BPBD Kukar mengantisipasi kondisi tersebut dengan berkoordinasi bersama berbagai pihak. Untuk kebutuhan air bersih, sumber air yang digunakan dalam pelayanan masyarakat berasal dari PDAM.

Abdal mengingatkan masyarakat agar menggunakan air bersih secara bijak selama kondisi kekeringan berlangsung.

“Untuk air bersih agar masyarakat bijak dalam menggunakan air bersih, tidak boros, gunakan air bersih seperlunya,” imbaunya.

Imbauan tersebut disampaikan karena kebutuhan air dapat meningkat ketika kondisi kemarau berlangsung.

Abdal menegaskan penanganan dampak El Nino dan kekeringan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Menurutnya, BPBD tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai dampak bencana, baik kekeringan, Karhutla maupun persoalan ketersediaan air.

Ia menegaskan penanganan bencana tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab BPBD maupun satu instansi tertentu.

“Tidak bisa menjadi tanggung jawab BPBD saja atau menjadi tanggung jawab salah satu instansi atau lembaga saja,” pungkas Abdal. (*)

Penulis & Editor: Ulwan Murtadho

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA