BERITAALTERNATIF.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah di tengah kondisi cuaca yang relatif kering.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kukar, Abdal, mengatakan setidaknya terdapat tiga kecamatan yang dalam beberapa waktu terakhir hampir setiap hari menerima kejadian Karhutla berdasarkan laporan yang masuk ke BPBD.
Ketiga wilayah tersebut yakni Kecamatan Sanga-Sanga, Muara Badak, dan Muara Muntai.
“Untuk Karhutla setidaknya ada tiga kecamatan yang setiap hari terjadi, yaitu Kecamatan Sanga-Sanga, Kecamatan Muara Badak, Kecamatan Muara Muntai,” kata Abdal.
Meski demikian, Abdal menegaskan kondisi tersebut bukan berarti kecamatan lain di Kukar terbebas dari Karhutla.
Menurutnya, minimnya laporan yang diterima BPBD menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sejumlah wilayah tidak tercatat memiliki kejadian sebanyak tiga kecamatan tersebut.
“Ini bukan berarti kecamatan lain tidak ada, cuma laporan masuk ke BPBD selama ini minim,” ujarnya.
Abdal menjelaskan, berdasarkan sejumlah kejadian yang ditangani, masih ditemukan aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar.
Selain pembukaan lahan, pembakaran sampah juga menjadi salah satu pemicu terjadinya kebakaran yang kemudian meluas ke semak belukar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena api yang awalnya berasal dari aktivitas pembakaran dalam skala kecil dapat dengan mudah menjalar ketika kondisi vegetasi di sekitar lokasi dalam keadaan kering.
“Jika dilihat dari beberapa kejadian memang ada aktivitas membuka lahan untuk berkebun dengan membakar, membakar sampah dan menjalar ke semak belukar,” jelasnya.
Namun, persoalan lain yang dihadapi petugas adalah sulitnya menemukan pihak yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
Abdal mengatakan, dalam beberapa kasus, masyarakat yang melakukan pembakaran lahan atau sampah kemudian meninggalkan lokasi ketika api mulai membesar dan tidak lagi mampu dikendalikan secara mandiri.
“Memang oknumnya sulit ditemukan. Biasanya kalau sudah terbakar dan tidak bisa memadamkan sendiri, ditinggal pergi,” ungkapnya.
BPBD Kukar mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan metode pembakaran.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan semak belukar maupun vegetasi yang mudah terbakar.
Abdal menekankan pentingnya penanganan sejak dini. Api yang masih kecil dinilai jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan ketika sudah menyebar dan membakar area yang lebih luas.
“Untuk mengurangi dampak El Nino BPBD menghimbau kepada semua pihak agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, cepat padamkan ketika api masih kecil atau segera melaporkan kepada unsur pemerintahan setempat,” katanya.
Menurutnya, kecepatan masyarakat dalam melaporkan kejadian menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan Karhutla.
Laporan yang diterima sejak awal memungkinkan petugas dan unsur terkait segera bergerak sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
BPBD Kukar juga menegaskan bahwa penanganan bencana, termasuk Karhutla, tidak dapat dibebankan hanya kepada satu instansi.
Dalam menghadapi dampak fenomena El Nino dan kondisi kekeringan, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, aparat, pemerintah desa, masyarakat, serta pihak-pihak lainnya.
Abdal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah membantu BPBD dalam penanganan berbagai kejadian bencana di Kukar.
“Dalam rangka mengatasi dampak El Nino, pada kesempatan ini BPBD mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan bersinergi dalam penanganan, karena memang bencana adalah urusan bersama,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ulwan Murtadho











