Search

Perjuangan Enab Melawan Penyakit dan Harapan Uluran Tangan dari Pemerintah

Rumah sederhana yang ditempati Enab dan suami beserta anaknya. (Berita Alternatif/Arif Rahmansyah)

BERITAALTERNATIF.COM – Perjuangan untuk kembali berjalan menjadi harapan besar bagi Enab, perempuan berusia 56 tahun yang tinggal di Jalan Serindit, Kelurahan Sukarame, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Di tengah perjuangannya melawan penyakit gula darah tinggi, gangguan ginjal, dan kolesterol, Enab juga harus menghadapi keterbatasan fisik yang membuatnya kesulitan berjalan. Ia bahkan sempat menjalani perawatan dan cuci darah secara rutin.

Namun, dia tidak menyerah. Dengan dukungan suami, anak-anak, dan tetangga, ia terus berusaha memulihkan kondisi tubuhnya. Latihan duduk, berdiri, hingga melangkah perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

Enab menceritakan, perjalanan sakit yang cukup berat bermula ketika dirinya mengalami sakit kepala selama beberapa hari. Awalnya, ia mengira keluhan tersebut merupakan sakit kepala biasa.

Namun, setelah berlangsung sekitar empat hari, rasa sakit yang dialaminya semakin berat. Kondisinya kemudian membuat anak-anak membawa Enab ke rumah sakit pada malam hari.

“Saya kira sakit kepala biasa. Sakit kepala itu empat hari. Pas kepala ini sakit sekali, kepala harus ditahan,” tuturnya kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (14/9/2026).

Setelah mendapat penanganan di rumah sakit, dia sempat diperbolehkan pulang. Akan tetapi, sesampainya di rumah, ia kembali mengalami pingsan beberapa kali.

Keluarga kemudian membawanya kembali ke rumah sakit pada keesokan harinya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Enab mengaku tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi hingga akhirnya berada di sekitar ruang IGD.

Kondisinya yang sempat tidak sadarkan diri membuat keluarga dan tenaga medis harus memberikan perhatian lebih.

Setelah menjalani pemeriksaan, dia mengungkapkan bahwa dokter melakukan sejumlah tindakan medis, antara lain pemeriksaan jantung, pemindaian kepala, serta pemeriksaan paru-paru.

Ia juga menyebut adanya cairan dalam jantungnya yang menjadi bagian dari persoalan kesehatannya ketika itu.

“Rekam jantung, makanya tahu jantung. Ada cairan. Scan kepala, scan paru-paru,” katanya.

Dia kemudian menjalani perawatan dan penanganan medis. Dalam kondisi tertentu, dokter pernah menjelaskan bahwa tubuhnya perlu mendapatkan penanganan untuk mengeluarkan zat-zat yang mengganggu kondisi kesehatan.

Perjalanan tersebut menjadi awal dari rangkaian pengobatan yang harus dijalaninya secara rutin.

Enab memiliki riwayat gula darah tinggi sejak 2007. Saat pertama kali memeriksakan diri, kadar gula darahnya disebut mencapai 555.

Selain gula darah, ia juga mengalami persoalan kolesterol dan gangguan ginjal yang kemudian membuatnya harus menjalani cuci darah.

Pada 2026, Enab mulai menjalani cuci darah secara rutin. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa prosedur tersebut dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni pada Selasa dan Jumat.

Cuci darah menjadi bagian penting dalam perawatan Enab. Ia harus mengatur waktu, tenaga, dan aktivitasnya agar dapat menjalani prosedur tersebut sesuai jadwal.

Di tengah kondisi tersebut, dia juga mengaku pernah mengalami penurunan tekanan darah ketika hendak menjalani cuci darah. Kondisi itu membuat proses perawatan harus disesuaikan dengan keadaan tubuhnya.

Selain penyakit yang dideritanya, Enab juga menghadapi persoalan pada bagian kaki dan tubuh yang membuatnya sulit berjalan. Keluhan tersebut mulai dirasakan sekitar Mei 2026.

Selama berbulan-bulan, dia lebih banyak berbaring dan membutuhkan bantuan ketika hendak duduk atau berpindah tempat. Rasa sakit terkadang muncul ketika tubuhnya diposisikan tegak. “Kalau duduk, sakit,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Enab harus belajar kembali melakukan aktivitas dasar. Ia mulai berlatih duduk, berdiri, dan melangkah secara perlahan dengan bantuan keluarga.

Untuk mendukung aktivitasnya, Enab menggunakan kursi roda diberikan pemerintah. Kursi tersebut tidak hanya digunakan untuk berpindah tempat, tetapi juga membantu proses latihan berdiri dan berjalan.

Ia mengaku, latihan tersebut mulai menunjukkan perubahan. Jika sebelumnya duduk saja terasa sulit, kini Enab mulai dapat duduk sendiri dan berusaha berdiri dengan bantuan.

Dalam upaya memulihkan kemampuan bergerak, dia juga pernah menjalani terapi. Namun, ia mengaku mengalami rasa sakit yang cukup berat setelah menjalani beberapa sesi terapi.

Menurutnya, rasa sakit yang muncul setelah terapi membuat dirinya merasa kesulitan untuk melanjutkan pengobatan tersebut.

“Terapi itu ada perubahan, pasti. Tapi habis terapi malah tambah sakit,” katanya.

Dia kemudian memilih untuk menghentikan terapi tersebut. Keputusan itu diambil karena kondisi tubuhnya dan pertimbangan biaya pengobatan.

Meski demikian, ia tetap berusaha melakukan latihan secara mandiri di rumah dengan bantuan suami dan anak-anak. Latihan sederhana seperti duduk, berdiri, serta menggerakkan kaki menjadi bagian dari usahanya untuk kembali pulih.

Dalam menghadapi kondisi kesehatan tersebut, Enab mendapat dukungan dari suaminya, Iyan, yang berusia 57 tahun. Keluarga juga membantu Enab dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk mengantarnya ke rumah sakit.

Dia menyebut, untuk kebutuhan transportasi ketika menjalani cuci darah, keluarga pernah memanfaatkan ambulans. Ia juga menceritakan adanya bantuan kendaraan dari pihak kelurahan dalam mendukung keperluan perawatan.

Jadwal cuci darah yang dilakukan dua kali dalam sepekan membuat kebutuhan transportasi menjadi hal penting bagi keluarga.

Selain suami, anak-anak Enab juga turut membantu proses pemulihan. Mereka mendampingi latihan duduk dan berdiri, serta membantu menyediakan kursi roda yang digunakan Enab.

Bagi Enab, dukungan keluarga membuatnya tetap memiliki semangat untuk berusaha.

Meski masih menghadapi rasa sakit, dia terus berusaha melakukan latihan. Ia berharap kemampuan bergeraknya dapat kembali pulih secara bertahap.

Enab mengaku mulai merasakan perubahan setelah berlatih secara rutin. Kini, dirinya sudah dapat duduk sendiri dan mulai mencoba berdiri dengan bantuan kursi.

“Sekarang bisa. Sudah belajar. Duduk pun biasa, bisa duduk. Belajar terus,” tuturnya.

Dia berharap latihan tersebut dapat terus dilakukan sehingga dirinya mampu melangkah kembali. Ia menyadari bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan kesabaran.

Di tengah perjuangan menghadapi penyakit, Enab juga berharap mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Dia mengaku selama ini belum banyak menerima bantuan, bahwakan saat pandemi Covid-19.

Enab menyebut, kondisi ekonomi keluarga turut menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pengobatan dan terapi. Ia berharap ada dukungan yang dapat membantu meringankan beban keluarga. “Harapannya ada bantuan,” ujarnya.

Kondisi Enab juga mendapat perhatian dari lingkungan sekitar. Ia menyebut sejumlah tetangga kerap membantu, baik melalui makanan maupun dukungan lainnya.

Salah satu tetangganya, Rinda Desianti, yang kini menjadi sebagai Kepala Dinas Sosial Kukar, disebut turut memberikan perhatian kepada Enab dan keluarganya. Bantuan dari tetangga menjadi salah satu bentuk dukungan yang dirasakan Enab dalam menjalani masa sulit.

Enab berbicara kepada awak media saat ditemui di rumahnya pada Senin, 14 September 2026. (Berita Alternatif/Arif Rahmansyah)

Dia menceritakan, tetangga di sekitar rumahnya mengetahui kondisi kesehatan yang dialaminya. Mereka terkadang datang memberikan makanan atau membantu kebutuhan keluarga.

Ia menyebut, hubungan baik dengan Rinda telah terjalin sejak lama. Dukungan tersebut membuat Enab merasa tidak sendirian dalam menghadapi penyakit dan keterbatasan. “Kalau ada datang, ada saja dikasih makanan,” katanya.

Bagi Enab, perhatian dari orang-orang di sekitarnya menjadi penyemangat tersendiri. Ia berharap dukungan tersebut dapat terus membantu dirinya dan keluarga melewati masa pengobatan.

Perjalanan Enab menggambarkan perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi penyakit kronis, keterbatasan fisik, dan persoalan ekonomi keluarga.

Dari sakit kepala yang berujung pada perawatan rumah sakit, cuci darah, hingga kesulitan berjalan, Enab harus menjalani berbagai proses pengobatan dan pemulihan.

Kini, harapan terbesarnya adalah dapat kembali berdiri dan berjalan. Ia terus berlatih dengan bantuan keluarga, sembari menjalani perawatan medis yang diperlukan.

Di balik keterbatasannya, Enab tetap menyimpan keinginan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih mandiri. Ia berharap perhatian dan bantuan dari pemerintah serta masyarakat dapat meringankan beban keluarga dan mendukung proses pemulihannya. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA