Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Berita wafatnya Abdillah Toha menghadirkan kesedihan yang sangat pribadi bagi saya. Saya tidak sedang kehilangan seorang tokoh politik biasa. Saya kehilangan satu sosok yang sejak lama saya kagumi karena keluasan pikirannya, kejernihan akalnya, ketenangan sikapnya, dan keberaniannya mempertahankan kemanusiaan ketika banyak orang memilih aman dalam arus fanatisme dan kepentingan.
Ada manusia yang dikenal karena jabatan. Ada pula manusia yang dikenang karena watak intelektual dan keluasan jiwanya. Abdillah Toha termasuk golongan kedua.
Saya selalu melihat beliau sebagai representasi generasi Muslim Indonesia yang langka: modern tanpa kehilangan akar spiritual, religius tanpa tenggelam dalam kebencian sektarian, intelektual tanpa berubah menjadi angkuh, dan aktif dalam politik tanpa kehilangan martabat moral. Di tengah dunia publik Indonesia yang semakin bising, semakin emosional, dan semakin dipenuhi propaganda identitas, kehadiran orang seperti Abdillah Toha terasa seperti udara yang jernih.
Beliau lahir dari dunia intelektual dan profesionalisme internasional. Pendidikan tingginya di Universitas Western Australia diselesaikannya dengan prestasi akademik luar biasa: First Class Honors dan penghargaan J.A. Wood Memorial Award. Prestasi itu bukan sekadar catatan akademik. Prestasi itu menjelaskan watak dirinya: disiplin, rasional, dan serius dalam berpikir.
Sesudah itu beliau mengajar Operations Research dan melakukan riset marketing di universitas yang sama. Jalur hidupnya sebenarnya sudah cukup untuk membawanya menjadi teknokrat mapan di lingkungan internasional. Karier profesionalnya pun bergerak di tingkat yang sangat tinggi: pernah menjadi Assistant Manager Bank of America, Managing Director Touche Ross Indonesia yang kemudian menjadi bagian dari Deloitte internasional, CEO Jan Darmadi Corporation, President Director Investrade Group, hingga Managing Director Setdco Group. Semua itu menunjukkan bahwa Abdillah Toha bukan tokoh yang berbicara tentang modernitas dari kejauhan. Beliau hidup di dalam dunia modern itu sendiri, memahami disiplin profesionalisme global, ekonomi, manajemen, dan tata kelola modern.
Namun yang membuat saya sangat menghormatinya bukan sekadar keberhasilan profesional dan politiknya. Yang paling saya kagumi adalah cara beliau menjaga keluasan pandangan Islam di tengah zaman yang semakin menyempitkan agama menjadi identitas politik dan alat permusuhan.
Beliau termasuk sedikit tokoh Muslim Indonesia yang berani secara terbuka menyerukan toleransi, persatuan Sunni dan Syiah, serta pentingnya membangun kehidupan beragama yang dewasa dan berakal sehat. Sikap seperti itu membutuhkan keberanian besar. Indonesia adalah masyarakat yang mudah digerakkan oleh sentimen sektarian. Banyak orang memilih diam demi kenyamanan sosial. Abdillah Toha tidak memilih jalan itu.
Beliau memahami bahwa agama yang kehilangan keluasan akal akan berubah menjadi kemarahan kolektif. Beliau memahami bahwa iman tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan fanatisme yang menghancurkan masyarakatnya sendiri. Karena itulah beliau terus berbicara tentang toleransi, pluralisme, dan kedewasaan beragama.
Saya selalu merasakan bahwa di dalam diri Abdillah Toha ada perpaduan yang sangat jarang ditemukan: spiritualitas Islam, intelektualitas modern, pengalaman profesional internasional, dan kepedulian mendalam terhadap masa depan Indonesia. Ia bukan manusia satu dimensi. Ia hidup di banyak dunia sekaligus tanpa kehilangan integritas dirinya.
Beliau aktif di PAN sejak masa Reformasi bersama Amien Rais. Ia pernah menjadi Ketua Fraksi PAN di DPR, Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen, Vice President Inter-Parliamentary Union di Jenewa, penasehat Wakil Presiden Boediono, dan aktif dalam berbagai lembaga pemikiran serta sosial. Namun saya merasa semua jabatan itu tidak pernah menjadi pusat identitas dirinya. Yang paling menonjol justru kualitas manusianya.
Beliau juga aktif dalam dunia penerbitan melalui Mizan. Itu sangat penting. Sebab beliau memahami bahwa perubahan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui kekuasaan politik. Buku, gagasan, dan pendidikan publik jauh lebih panjang umurnya daripada kekuasaan.
Dalam beberapa kesempatan, beliau juga bertemu dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar dunia Islam. Pertemuan-pertemuan itu tidak menjadikannya eksklusif atau merasa paling benar. Justru semakin memperlihatkan keluasan cakrawalanya. Beliau termasuk generasi Muslim Indonesia yang percaya bahwa Islam harus hadir sebagai kekuatan peradaban, bukan sebagai alat pertikaian.
Hari ini saya merasakan kehilangan yang sungguh mendalam. Tokoh seperti Abdillah Toha semakin sedikit. Indonesia sedang mengalami krisis manusia berkelas: manusia yang tenang tetapi kuat, cerdas tetapi rendah hati, religius tetapi terbuka, modern tetapi tetap memiliki akar moral.
Di tengah banjir kebisingan media sosial, propaganda politik, dan kemarahan massal, sosok seperti beliau mengingatkan bahwa akal sehat masih mungkin dipertahankan.
Semoga Allah menerima seluruh amal, perjuangan, dan pengabdiannya.
Semoga beliau dihimpun bersama Nabi termulia dan keluarganya yang suci serta orang-orang saleh, para pencinta ilmu, dan jiwa-jiwa yang sepanjang hidupnya menjaga kemanusiaan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. (*Cendekiawan Muslim Indonesia)












