Search

Perjuangan Enab Melawan Komplikasi Diabetes dan Gangguan Ginjal, Empat Bulan Tak Bisa Berjalan

Enab berbicara kepada awak media saat ditemui di rumahnya pada Senin, 14 September 2026. (Berita Alternatif/Arif Rahmansyah)

BERITAALTERNATIF.COM – Di tengah aktivitas masyarakat di Jalan Serindit, Kelurahan Sukarame, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan bernama Enab. Perempuan berusia 56 tahun itu harus menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang mengubah aktivitas sehari-harinya.

Enab diketahui memiliki riwayat gula darah tinggi, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, serta pernah menjalani cuci darah akibat gangguan ginjal. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani perawatan medis secara berulang dan membatasi berbagai aktivitas, termasuk berjalan dan duduk.

Dalam menghadapi masa sulit tersebut, Enab tidak sendirian. Ia didampingi suaminya, Iyan, yang berusia 57 tahun. Keduanya juga memiliki dua anak bernama Seba dan Febi.

Perjalanan Enab menghadapi penyakit bermula pada 2007. Saat itu, ia mulai merasakan kondisi tubuh yang tidak biasa. Badannya terasa sakit dan ia merasa tidak nyaman dengan kondisi kesehatannya.

Karena keluhan tersebut, dia kemudian memeriksakan diri ke tempat praktik kesehatan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi gula darah, tekanan darah, asam urat, dan kolesterol.

Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah persoalan kesehatan. Gula darah Enab ketika itu mencapai 555, sementara beberapa hasil pemeriksaan lainnya juga disebut mengalami peningkatan.

“Waktu itu badan saya sakit semua, perasaan juga tidak enak. Saya kemudian cek darah, cek gula, cek asam urat, tekanan, dan kolesterol. Naik semua,” tutur Enab kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (14/9/2026).

Kondisinya saat itu membuat Enab harus menjalani perawatan di rumah sakit selama empat hari. Dia kemudian mulai menghadapi perjalanan panjang dalam menjaga kesehatan, terutama terkait gula darah dan komplikasi yang menyertainya.

Memasuki tahun 2026, kondisi kesehatan Enab semakin membutuhkan penanganan serius. Ia mulai menjalani cuci darah pada Februari 2026.

Dalam keterangannya, dia menyebut bahwa dirinya harus menjalani cuci darah secara berkala akibat komplikasi penyakit. Selain gula darah tinggi, ia juga memiliki persoalan tekanan darah dan kolesterol.

“Komplikasi. Ada gula, habis itu tekanan, habis itu macam-macam, kolesterol,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada awal perawatan, akses cuci darah di bagian leher sempat mengalami infeksi berulang. Enab menyebut telah menjalani sekitar delapan kali cuci darah melalui akses tersebut sebelum akhirnya berpindah ke bagian tangan. “Jadi sempat pindah ke tangan,” ungkapnya.

Setelah berpindah akses, dia kembali menjalani beberapa kali cuci darah. Ia mengaku pernah mendengar dokter menyampaikan bahwa kondisinya mulai membaik.

“Ini sempat empat bulan cuci darah, sampai dokter sering bilang sembuh,” katanya.

Namun, perjalanan pengobatan tersebut belum sepenuhnya berakhir. Dia masih harus menjalani kontrol sesuai kebutuhan medis.

Dalam proses menjalani cuci darah, Enab juga mengalami sejumlah kondisi yang membuatnya harus mendapat perhatian lebih dari tenaga medis. Ia menceritakan bahwa gula darahnya turun saat hendak menjalani prosedur cuci darah.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan, gula darahnya pernah berada di angka sekitar 100 dan bahkan turun hingga 70. Ketika kondisi tersebut terjadi, proses cuci darah dapat ditunda sampai kondisinya dinilai lebih aman oleh dokter.

“Tunggu sampai naik, karena dokter kasih obat. Tunggu sampai naik baru cuci darah,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ketika terjadi kendala selama proses cuci darah, darah yang berada dalam alat dapat dikembalikan ke tubuhnya sesuai penanganan medis.

Pengalaman tersebut membuat Enab memahami bahwa menjalani cuci darah bukan sekadar rutinitas, melainkan proses yang membutuhkan pemantauan kondisi tubuh secara terus-menerus.

Selain persoalan cuci darah, Enab juga menghadapi masalah pada bagian kaki yang membuatnya sulit berjalan. Ia menyebut mulai mengalami keluhan tersebut sekitar 1 Mei 2026.

Sejak saat itu, dia mengaku hampir empat bulan tidak dapat berjalan seperti biasa. Rasa sakit juga muncul ketika ia berusaha duduk atau mengubah posisi tubuh. “Sampai ini kurang empat bulan, enggak bisa jalan,” tuturnya.

Rasa sakit yang dialaminya tidak hanya muncul pada satu bagian tubuh. Enab menggambarkan bahwa rasa sakit terkadang berpindah-pindah, mulai dari kaki hingga bagian pinggangnya. “Semuanya sakit. Makanya sering pingsan,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Enab lebih banyak berbaring. Ketika hendak duduk, ia harus dibantu oleh keluarga. Bahkan, untuk berpindah posisi, dia membutuhkan bantuan dan kursi roda.

Meski demikian, ia tetap berusaha menjalani aktivitas secara perlahan. Enab berharap kondisinya dapat membaik sehingga bisa kembali duduk dengan nyaman dan berjalan seperti sebelumnya.

Dia juga menceritakan pengalaman ketika dirinya beberapa kali pingsan. Kondisi tersebut pernah terjadi ketika tubuhnya mengalami rasa sakit yang berat.

Ketika rasa sakit muncul secara tiba-tiba dan sangat kuat, dirinya terkadang tidak mampu menahan kondisi tersebut. Hal itu membuat keluarga harus memberikan perhatian lebih terhadap keadaannya.

“Yang sering pingsan itu ya saat darah lagi tinggi. Itu sakit banget,” ungkapnya.

Namun, dia membedakan kondisi pingsan yang dialaminya dengan keadaan ketika menjalani cuci darah. Selama proses cuci darah, kondisi tubuhnya relatif lebih terpantau, meskipun terkadang mengalami penurunan tekanan darah.

Keluhan pada kaki dan kesulitan bergerak juga membuat Enab harus kembali memeriksakan diri ke rumah sakit.

Di tengah berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi, dia menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan adanya perkembangan positif pada gula darahnya.

Saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit, ia menyebut gula darahnya berada di angka 155, sedangkan tekanan darahnya berada di angka 125. “Agak normal,” katanya.

Dia mengaku bersyukur karena kondisi gula darahnya mulai lebih terkendali dibandingkan saat pertama kali mengalami penyakit tersebut. Namun, ia tetap menyadari bahwa pengobatan dan pengawasan medis masih diperlukan.

Dia juga mengungkapkan bahwa pola makan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan selama menjalani perawatan. Sebagai pasien dengan riwayat gangguan ginjal dan gula darah tinggi, Enab mengaku masih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan tertentu.

Dalam menjalani cuci darah, ia mengatakan bahwa dirinya pernah mendapat penjelasan mengenai pola makan dari tenaga medis. Saat menjalani prosedur cuci darah, kondisi tubuh dapat mengalami perubahan sehingga asupan makanan perlu disesuaikan dengan keadaan pasien.

Enab mengaku masih takut mengonsumsi buah-buahan tertentu, terutama buah yang menurutnya memiliki kandungan gula atau zat tertentu yang perlu dibatasi. “Pisang enggak boleh. Ada tinggi kaliumnya,” ujarnya.

Enab juga menyebut pernah mengonsumsi semangka ketika berada di rumah sakit. Namun, dia tetap berusaha mengendalikan jumlah makanan yang dikonsumsi. “Di rumah sakit sering kasih semangka,” katanya.

Enab mengaku masih berusaha memahami makanan apa saja yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Ia menyadari bahwa pengaturan pola makan perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi gula darah dan fungsi ginjal.

Dalam menjalani masa perawatan, dia mendapat dukungan dari suaminya, Iyan, serta kedua anak mereka, Seba dan Febi. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam membantu Enab menjalani aktivitas sehari-hari.

Ketika rasa sakit muncul, dia membutuhkan bantuan untuk duduk, berbaring, maupun berpindah tempat. Kondisi tersebut membuat peran keluarga semakin penting, terutama ketika ia harus menjalani kontrol atau perawatan di rumah sakit.

Bagi Enab, perjuangan menghadapi penyakit bukan hanya soal menjalani pengobatan, tetapi juga mempertahankan semangat untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Dia berharap kondisi kesehatannya dapat terus membaik. Keinginan sederhana untuk bisa duduk tanpa rasa sakit, berdiri, dan berjalan kembali menjadi harapan yang terus ia perjuangkan.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan cuci darah, dia berharap dapat memperoleh pemulihan yang lebih baik. Ia juga berharap rasa sakit pada kaki dan tubuhnya dapat berkurang sehingga tidak lagi menghambat aktivitas sehari-hari.

Perjalanan Enab menjadi gambaran tentang pentingnya dukungan keluarga, pemeriksaan kesehatan, serta pendampingan medis bagi pasien yang menghadapi penyakit kronis dan komplikasi.

Bagi Enab, setiap perkembangan kecil dalam kondisi kesehatannya menjadi harapan baru. Di tengah keterbatasan fisik yang dialami, dia tetap berusaha menjalani perawatan dan menghadapi hari-hari bersama suami serta anak-anaknya. (*)

Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA